Benih Bayaran Madam CEO

Benih Bayaran Madam CEO
Kecurigaan


__ADS_3

Malamnya setelah acara selesai, Yana sudah bersih-bersih dan menunggu suaminya di kamar mandi. Putranya terlihat tengah menyusu padanya sebelum kembali tidur karena terbangun lagi.


Sambil beradu kecepatan dengan sedotan Xavier, Yana juga berpikir apa yang akan direncanakan oleh Max padanya. Sungguh ia tidak tau masalah atau dendam apa yang membuat Max bersikap seperti itu padanya.


Hingga tak sadar Xavier sudah melepaskan sumber kehidupan nya dan membuat Yana meletakkannya di box bayinya. Diikuti oleh Vander yang keluar dengan keadaan segar dan menggoda mata.


"Honey." Yana cukup kaget karena dekapan tiba-tiba yang dilakuan Vander.


"Honey... Bagaimana menurutmu Tuan Max itu?" Yana memulai bertanya membuat suaminya mengerutkan keningnya sedikit.


"Kenapa?"


"Maksudnya.... Cara kerjanya?"


"Baik, dia kompeten, bagus diajak bicara bisnis atau mengenai apapun. Proyek yang dikerjakan bersamanya juga baik." Mendengar penuturan suaminya, Yana pastikan Max sangat ahli dalam hal ini. Lain padanya lain juga pada suaminya.


"Menurut ku, kita tetap berhati-hati dalam apapun. Meksipun terlihat baik tetap saja nanti ada celah, bukan begitu?"


"Iya, jangan khawatir. Apa ada sesuatu?"


"Tidak, aku hanya membahas sedikit tentang tuan Max yang menjadi perbincangan semua orang."


"Aku tau kau sedikit kaget dengan pertemuan ini. Tapi dia tidak lebih tampan dari ku kan?" Vander masih sempat menggoda istrinya yang tengah menyembunyikan kegelisahannya.

__ADS_1


"Iya, aku merasa kaget."


'Bahkan bukan main!' Lanjutnya dalam hati.


"Proyek yang dikerjakan bersamanya berupa lama?"


"Tidak lama juga." Yana merasakan hembusan nafas Vander yang memiliki tanda-tanda untuk mereka bertempur, wajah yang tadinya saling membelakangi sekarang berhadap-hadapan.


Yana mengalungkan tangannya di leher suaminya yang masih berbalut handuk itu. "Aku mencintaimu."


"Aku juga Yana."


"Cintamu tidak akan berubah seiring dengan rambut dan tubuhku perlahan termakan usia kan?"


"Jika orang lain bicara buruk tentang ku, bagaimana?" Pancing Yana yang menjurus ke arah ancaman Max.


"Meskipun seluruh dunia mengatakannya aku tidak percaya, aku lebih mengenal mu dari siapapun. Bukan hanya ragamu tapi juga jiwamu honey, aku tidak akan membiarkan hal apapun menganggu cinta kita, dan kau juga begitu kan?" Manik Yana terpejam menikmati sentuhan kecil Vander mengelilingi wajah cantik nya.


"Iya, aku lebih dari itu." Perlahan keduanya saling memainkan lidah mereka untuk menyalurkan rasa manis cinta mereka.


Hingga dimulai dari tangan, indra pengecap dan berakhir dengan senjata berbentuk pedang yang berdiri tegak untuk membobol gawang miliknya dan dihiasi suara indah yang biasa terdengar. Hawa panas tidak lagi terelakkan meksipun semburan AC yang menyegarkan kamar itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Laptop canggih berharga mahal itu tengah menayangkan video dewasa yang sangat panas, bahkan hanya bisa dilihat oleh mata tajam itu tidak dengan pria yang menjadi kaki tangannya. Telinga serta matanya tertutup sempurna dari gambar adegan panas serta suara yang akan membuat sesuatu dalam dirinya bangkit dan merubahnya menjadi tak terkendali.


"Good! Aku ikutan panas karenanya." Tangannya mulai memberhentikan adegan yang disukai oleh nya dan satu tangannya lagi mulai merambat ke suhu panas yang berpusat di tubuhnya.


Sebuah pukulan kecil mendarat di kaki pria di sebelahnya hingga membuat ia tau apa yang harus ia lakukan dan berjalan tanpa kesalahan dengan mata tertutup yang membuat dirinya berhasil keluar dari ruangan panas menggelora itu dan tak lama mendengar suara pelepasan tuannya.


🌟🌟🌟🌟🌟


Usia Xavier sudah 6 bulan, itu adalah hal yang membahagiakan bagi dirinya dan orang tua manapun juga. Bahkan kebahagian menghampiri dirinya bersama putra tersayang nya, tapi meksipun dirinya mendapatkan kebahagiaan dari pertumbuhan putranya, dirinya merasa sang suami sering pulang terlambat dan membuat Yana merasa janggal.


Ketika dirinya bertanya hanya ada jawaban klise yaitu perusahaan tengah sibuk dengan produk baru yang membuat dirinya lembur. "Setidaknya kabari aku honey, aku jadinya tidak khawatir." Yana berujar sambil mengikuti Vander yang mengecup kening putranya.


"Aku lupa." Jawab Vander singkat.


"Apa ada sesuatu? Aku merasa ada sesuatu padamu yang membuat hubungan kita...."


"Kenapa? Kau merasa begitu? Atau kau yang memiliki sesuatu?" Yana menjadi bingung dengan pertanyaan yang seolah menjebak dirinya.


"Apa maksudnya honey?" Yana mencoba menyentuh Vander tapi pria itu menepisnya.


"Tangan ini, apa ia pernah menyentuh sesuatu yang bukan miliknya?" Yana membulatkan matanya melihat dan mendengar ekspresi Vander dihadapannya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2