
Setelah cerita bak SKS kuliah itu, Yana terduduk menatap langit dari jendela kamarnya. Hari ini langit terlihat mendung sehingga bulan dan bintang yang biasanya hadir harus tertutupi oleh kawanan awan yang tidak membiarkan mereka keluar.
Xavier yang tadinya bangun menemani Mama nya sekarang terlihat tertidur pulas menuju mimpinya diselingi dengan jam waktu tidur nya. "Maaf, aku melupakan hal yang berarti. Aku juga tidak hadir di peristirahatan terakhir mu, kau tidak marah kan? Atau mungkin iya... Karena waktu yang berlalu dan ku pikir itu adalah bersamamu nyatanya tidak. Apa itu termasuk berkhianat? Seharusnya aku mendengarkan mu. Seharusnya kita tidak pergi kesana, Xander aku merindukanmu, dan maaf!" Meskipun ucapan Yana terdengar tegar tapi air matanya tidak berhenti mengalir bersamaan dengan awan yang mengalirkan tetesan air hujan.
Kotak yang menyimpan harta karun kebersamaannya bersama kekasih, kembali Yana pajang dan ia letakkan dengan rapi. Setelah kecelakaan yang menyapa keduanya, membuat kedua orang tua Yana, menyimpan barang-barang yang tidak baik untuk kesehatan putri mereka kala itu.
Tapi Yana mengerti dengan baik, dia tidak bisa menyalahkan siapapun, kecuali dirinya sendiri. Karena janji yang ia ucapkan dulu, nyatanya ia ingkari meksipun kedua orang tuanya mengatakan itu bukanlah keinginannya.
'Bagaimana jika ada sosok yang menyerupai diriku?' Sebuah pertanyaan terlontar dan membuat sandaran manis itu terganggu.
'Aku dengar setiap orang memiliki kembaran sebanyak 7 orang yang tersebar di berbagai negara. Jika itu terjadi, maka aku akan bisa mengenalinya.'
'Sungguh? Bagaimana?' Wanitanya tidak menjawab, tapi ia lebih mendekat sehingga wajah mereka berdekatan dengan beberapa centimeter saja.
'Ini, dengan ini.' Maniknya berada dihadapan manik indah yang menawan itu, membuat kekasih pria tersenyum senang.
'Katakan dengan jelas.'
'Meskipun rambut memiliki warna yang sama tapi hitamnya berbeda. Begitu juga dengan setiap orang yang memiliki manik, tapi maniknya berbeda.'
'Begitu ya?' Kekasih wanitanya mengangguk.
'Lagipula kenapa mengatakan hal itu? Aku tidak akan membiarkan mu pergi jauh, kita akan bersama selalu. Aku akan berada di dekatmu, jangankan orang yang menyerupai mu, penyihir yang menyerupai mu akan aku ketahui.'
'Aku hanya ingin tau saja. Dan terus terang saja, ada anggota keluarga ku yang belum kau ketahui Yana.'
__ADS_1
'Lalu? Selama tidak ada halangan untuk kebersamaan kita. Semuanya bisa diatur nanti, jangan bicarakan hal yang lainnya. Cukup bicara tentang kita saja Xander, tentang kita saja.'
'Kau memimpikan apa?'
'Keluarga kecil kita, ada kau, aku... Anak-anak kita yang pastinya mewarisi kau dan aku. Terutama....'
'Apa?' Xander menduselkan hidungnya ke hidung Yana membuat Yana tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya.
'Aku ingin anak kita mewarisi mu. Semuanya...'
'Semuanya?'
'Ya, semuanya terutama manik mu. Aku tidak peduli putra atau putri, yang jelas seperti mu.'
'Baiklah, beberapa mirip ku dan beberapa lagi mirip dengan mu. Pasti sangat luar biasa, kita akan berada di rumah impian kita.'
'Desainnya akan datang, setelah pernikahan kita. Hanya menunggu kedatangan kakak ku, kita akan menyatu dalam ikatan suci.'
'Aku tidak sabar menunggu.' Yana mendapatkan pelukan hangat dan keduanya dalam beberapa saat saling berpelukan erat memandangi danau dihadapan mereka.
Flashback end....
Air mata Yana sudah berhenti mengalir, ia sudah berdiri di depan tempat tidur putranya. "Sekarang... Apapun yang terjadi biarkan saja terjadi. Tidak perlu melihat ke belakang lagi, aku tidak peduli dengan pria manapun yang menjadi bagian perjalanan hidupku dan kita sayang. Hanya ada dua, hanya dua.... Hanya Xander dan putraku Xavier." Beriringan dengan jendela yang tertutup, Yana menutup halaman masa lalunya dan memulai masa depannya bersama kedua orang tuanya dan putranya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
"Apapun yang telah kembali ke ingatan putri kita, jangan biarkan ada pembicaraan tentang itu lagi."
"Maksudnya?"
"Mengenai keluarga itu. Cukup sampai disini saja, seharusnya kita tidak menerima pinangan saudara kembarnya. Dia sangat berbeda dengan Xander, bahkan aku benci padanya. Dia menyakiti putriku, aku yakin ada yang tidak beres sayang." Tampak wajah istrinya menjadi bingung dengan ucapan suaminya.
"Apanya yang tidak beres?"
"Kecelakaan itu menimpa Yana dan juga Xander, tapi kenapa hanya Xander yang jatuh dengan mobilnya? Bukankah Yana mengatakan Xander sudah keluar bersamanya?"
"Mungkin itu hanya halusinasi Yana saja. Sebaiknya kita fokus dengan anak dan cucu kita. Aku tidak mau putri kita terpaut lagi dengan apapun mengenai mereka. Aku sangat senang Yana bersama kita lagi, aku tidak mau putri kita pergi lagi. Aku ingin menebus kesalahan kita dengan pernikahan itu." Mama Yana memeluk suaminya sambil mengatakan keinginannya.
"Ya." Singkat, tapi sepertinya pemikiran suaminya terlihat lain.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Acara sarapan pagi itu menjadi berbeda dengan kedatangan pelayan yang melaporkan sesuatu bukan membawa makanan. "Maaf tuan, tapi ada seseorang yang datang menemui tuan. Dia bilang ini sangat penting."
"Ini waktunya sarapan, kenapa kau berani..." Angkatan tangan itu mengentikan ucapan bawahan nya.
"Siapa?" Max yang semalam dengan suasana yang tidak baik, terlihat memainkan matanya dengan terpejam karena jika terbuka dapat membakar sesuatu dihadapannya.
"Saya tidak tau tuan, tapi ia bilang... Dari pemilik rumah yang tuan datangi tanpa izin."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.