
"Ini, aku jatuh saat masuk ke mobil mama. Sepatu ku menginjak minyak yang tertumpah di tempat parkir restoran. Aku sudah duduk cukup lama tapi masih terlihat ya?" Yana menampilkan senyum nya dengan sedikit kekehan.
"Kau ini! Makanya hati-hati! Ini bisa menjadi penghambat proses kehamilan Yana. Kamu ini bagaimana?" Yana segera mengangkat kakinya yang ingin dipijat oleh mertuanya.
"Mama jangan!" Sayangnya penolakan Yana tidak membuahkan hasil karena tangan mertuanya lebih cepat dibandingkan dirinya.
"Mama urut ya. Kalau dibiarkan bisa bermasalah nanti, selain kesulitan berjalan akan juga membuat jalan mu sangat aneh seperti habis malam pertama." Senyum Yana yang terkembang perlahan menyurut mendengar kalimat terakhir mertuanya.
"Apa sakit? Kenapa diam saja?" Yana segera tersentak dan membalas mertuanya.
"Tidak Mama, sudah baikan. Tangan Mama sungguh ajaib." Yana segera menyingkirkan kakinya dari tangan mertuanya.
"Syukurlah, benar ya?" Mertuanya menyakinkan sekali lagi membuat Yana mengangguk beberapa kali.
__ADS_1
"Iya mama, terimakasih." Tanpa aba-aba Yana memeluk mertuanya dengan perasaan bersalah tapi tidak punya pilihan lain.
'Maaf mama, tapi tidak ada jalan lain. Karena hanya dengan ini anak yang dinantikan oleh semuanya bisa terwujud.'
"Lelah ya? Sebaiknya mandilah segera. " Yana setuju dan perlahan menuju kamarnya sambil membersihkan dirinya serta mahkota indahnya.
Tak terasa pagi semakin berlalu, begitu juga dengan mentari yang terbenam. Waktu tiga hari untuk menanam benih sudah berakhir. Vander segera pulang membuat Yana menemui Jaden sesegera mungkin agar cepat selesai.
"Ini, bayaran mu. Aku suka dengan pelayanan mu dan ku berikan bonus diluar pembagian dengan bos mu." Uang dengan jumlah yang tidak main-main itu mendarat sempurna di depan Jaden.
Tak menunggu jawaban Jaden, Yana segera pergi meninggalkan Jaden dengan pemikiran nya sendiri sambil memegang uang yang Yana berikan.
"Tidak bertemu atau mengenal? Kalau begitu lihat bagaimana takdir nanti, Madam." Ujar Jaden memandangi kepergian Yana.
__ADS_1
...🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟...
Disisi lain, sebuah hotel mewah seorang pria dengan koper besarnya bersiap menuju bandara untuk kepulangannya. Senyum dari wajah tampannya tidak luntur selama perjalanan. "Tuan senang sekali. Aku jadi ikut senang juga melihatnya." Dari kaca di depannya, ia dapat melihat senyuman atasannya itu.
"Ya, aku sudah sangat rindu dengan istriku. Setelah menikah nanti kau akan tau rasanya. Apapun dan dimanapun kau berada, kau akan teringat rumah mu, karena ada sosok cantik nan manis menunggu dirimu."
"Mungkin nanti Tuan." Ujarnya dengan kikuk karena belum memiliki pacar atau gebetan.
"Karena itu carilah, atau tidak pistol mu itu bisa macet nanti karena tidak ditembakkan."
"Tuan ini, bisa saja. Ah ya, Tuan semoga ada berita baik setelah ini." Kabar mengenai keinginan nyonya besar, sudah sampai ke telinga pelayan dan juga pekerja yang lain bawahan rumah mewah itu.
"Tentu saja, karena baik aku dan Yana tidak memiliki masalah. Mungkin tembakan sebelumnya meleset, aku sudah memiliki teknik baik yang akan membuahkan hasil. Kau lihat nanti, beberapa bulan ke depan akan ada berita mengenai kedatangan malaikat kecil di rumah. Dan itu akan mematahkan pemikiran Mama dan juga rencana anehnya meminta ku menikah lagi, bagaimana mungkin aku meninggalkan Yana yang merupakan hidupku."
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.