
Dengan sentuhan dan perhatiannya, tak lama sakit yang mendera di kepala itu perlahan hilang dan tergantikan dengan nyenyak nya tidur yang sudah memejamkan mata itu. Masih di ranjang yang sama, Yana sudah tertidur pulas dengan Vander disebelahnya.
Tampak pria itu segera bangkit perlahan sambil melihat Yana agar tidak terganggu. Setelah dirasa yakin, Vander tampak menghubungi seseorang di ponselnya dan tak lama terdengar suara diseberang sana.
"Bawakan yang sudah aku tuliskan. Segera!" Tanpa menunggu jawaban, Vander mematikan panggilan itu.
Setelah meletakkan kembali ponsel itu di nakas, Vander berjalan mendekati Yana yang masih tertidur pulas. Tangannya menelusuri wajah yang cantik dan lembut itu.
"Bagaimanapun aku tidak akan membiarkan kejadian lalu terjadi lagi. Kau dan Xavier akan tetap berada di genggaman ku, tidak akan aku lepaskan. Tidak akan..."
Ketukan pintu terdengar membuat Vander menuju pintu dan membukanya, tampak Papa nya berada di depannya sambil tersenyum kecil. "Xavier sudah tertidur, ia berada bersama Papa dan mama. Bagaimana dengan Yana?" Tampak manik itu sedikit mengintip tapi tak terlihat dengan baik.
"Yana juga tertidur papa, tadi ia mengeluh sakit di kepalanya." Belum selesai Vander menjelaskan, tampak pria itu begini cemas dengan keadaan menantu nya.
"Apa yang terjadi? Apa Yana sakit?" Tanya sang Papa yang membuat Vander kembali menjelaskan.
__ADS_1
"Tidak apa Papa, aku sudah meminta obat untuk itu, jangan khawatir."
"Baguslah, bagaimana tanganmu?" Vander ikut melirik tangannya yang tengah diperban beriringan dengan manik Papa nya.
"Sudah membaik, aku kuat kan." Vander mengeluarkan senyum manisnya.
"Papa ingin bicara, bisa?" Vander mengangguk dan mengikuti langkah kaki Papa nya menuju ruang baca kediaman mereka.
Vander sekarang saling berhadapan dengan aura yang mulai berubah tidak sebercanda tadi. "Jadi.... Bagaimana hubungan kalian?"
"Baiklah, senang mendengarnya. Papa juga sudah menjelaskan dan memberikan pengertian kepada Mama mu mengenai hal ini. Sebelum sampai di telinga kedua orang tua Yana, kita sudah menyelesaikan ini." Vander menggangguk setuju dengan pendapat Papa nya.
Vander menuang air yang berada di depan mereka, tampak gelas kosong itu perlahan terisi dengan air yang menyegarkan tenggorokan mereka. "Ngomong-ngomong... Papa masih belum tau apa alasan pria itu melakukan hal ini. Setau Papa Max baru saja datang ke dalam kehidupan kita, baik kau atau papa dan juga Yana." Vander tentu diam mengetahui arah pembicaraan Papa nya.
"Dan juga Papa ingin mengatakan padamu...." Vander mengangkat wajahnya melihat Papa nya yang tampak menjeda ucapannya seolah ada sesuatu.
__ADS_1
"Katakan saja Papa, apa ada masalah? Atau Max...."
"Bisa dikatakan begitu, setelah bertemu saat tujuh bulanan Yana. Papa merasa mata nya mengingatkan papa pada... Ku tau kan?" Vander mengepalkan tangannya dibawah meja tanpa dilihat dan disadari oleh Papa nya.
"Pa, manik seperti itu pastinya dimiliki oleh orang lain juga. Meskipun tidak memilih hubungan darah, itu adalah hal biasa pa. Itu merupakan anugrah yang diberikan tanpa direncanakan. Dan tentu saja itu bukan Dia pa, kita tau bagaimana dia dan tentunya dia sudah tenang disana. Aku tau Papa rindu padanya, aku juga dan semuanya. Tapi... Hidup tetap berjalan papa, dan aku berharap papa tidak terbelenggu dengan hal itu."
"Kau benar, mungkin Papa hanya rindu. Dan tidak mungkin putra papa memiliki sikap seperti yang dilakukan oleh Max." Pembicaraan itu terhenti dan beriringan dengan senyuman Vander di malam itu.
Vander kembali ke kamarnya dan masih dengan keadaan yang sama, Yana begitu menikmati alam mimpinya. "Aku tidak suka berbagi. Apapun itu, apa yang menjadi milikku tidak bisa dimiliki oleh siapapun. Tidak bisa...."
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author ceritanya seru loh!!
__ADS_1