
Mendengar suara batuk yang terjadi di wajah istrinya, membuat Vander segera mengambil air dan menepuk pelan punggung istrinya. "Minum pelan-pelan honey." Setelah merasa tenang, Yana akhirnya bernapas lega dan membuat Vander juga ikutan lega.
"Ada apa?" Tanya Vander.
"Aku merasa ada tulang ikan, tapi sudah tidak apa."
"Aku akan mengatakan pada pelayan untuk berhati-hati lagi." Vander tentu saja merasa khawatir yang terjadi pada istrinya.
"Aku sudah tidak apa, ayo lanjutkan makan nya lagi." Yana mengajak suami kembali duduk sambil bertanya mengenai perintah suaminya mengambil bodyguard.
"Baiklah, hati-hati dan pelan-pelan saja." Yana mengangguk kecil.
"Honey, ngomong-ngomong.... Kenapa ada bodyguard?" Yana berharap suaminya tidak tau apapun sehingga mengambil keputusan itu.
"Aku hanya merasa khawatir honey, apalagi dengan kehamilan ini. Musuh bisa saja datang atau hal lainnya. Aku tidak ingin itu terjadi."
"Baiklah." Yana tidak mungkin menolak karena tentu akan menjadi masalah dan juga pertanyaan dari Vander nantinya.
Sarapan pagi itu akhirnya selesai juga dan beriringan dengan kepergian Vander berangkat ke kantor. "Aku pergi dulu, jangan bergerak banyak." Yana mengangguk sambil merasakan elusan lembut di rambutnya.
Tak lupa dengan ciuman manis yang Vander berikan untuk istrinya sebelum ia berangkat. Setelah ritual selesai, mobil itu perlahan meninggalkan halaman kediaman mereka dan berlalu disertai tutupan gerbang.
Yana masuk dan segera duduk dengan helaan napas panjang. "Aku akan menghubungi nya lagi." Ponsel itu berdampingan di telinga nya beriringan dengan suara di dalamnya.
"Bagaimana?" Tanya Yana sambil menikmati terpaan AC di kamarnya.
"Belum ada Nyonya, tapi saya tetap berusaha." Yana memutar bola matanya dengan malas.
"Baiklah, aku tunggu segera! Temukan dia!" Setelah itu panggilan terputus dan ponsel terbaring di ranjang bersama nya.
"Ah, ini bisa membuat ku gila."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Beberapa menit Vander duduk, ketukan pintu menyapa Vander. "Ah, Tuan Max. Anda datang cepat rupanya." Vander menyambut kedatangan Max yang datang lebih awal.
"Ya, aku hanya ingin lebih dekat dengan rekan bisnis ku. Apa itu aneh?"
__ADS_1
Suara tawa Vander keluar setelah Max menyelesaikan ucapan nya. "Tidak tuan Max, tidak aneh."
"Ngomong-ngomong, tidak perlu kata Tuan disini. Aku lebih suka nama saja, terlebih berdua tanpa orang lain. Bagaimana?"
"Ya, tidak masalah." Mendengar persetujuan Vander, Max memulai pembicaraan mengenai kerjasama mereka.
Bersamaann dengan mentari yang mulai menutup, mobil itu terpakir di depan gerbang. "Mau mampir Max?" Tawar Vander yang keluar dari mobil itu.
"Mungkin lain kali." Jawab nya yang membuat Vander mengangguk sambil melangkah masuk.
Meskipun Vander sudah masuk, mobil itu belum juga dijalankan Max, maniknya menyosor kedalam menembus gerbang dan menangkap sosok wanita dengan dress hamil nya yang menyambut kepulangan suaminya.
Senyum terukir di wajahnya, cukup lama ia mengamati hingga akhirnya... "Jalan!" Titahnya dan perlahan roda itu meninggalkan tanah kediaman Vander.
🌟🌟🌟
Manik Yana beberapa kali memutar diiringi kepalanya mencari sesuatu. "Apa yang kau cari honey?" Vander mendarat sempurna di hadapan istrinya.
"Mobil mu mana honey?" Tanya Yana yang penasaran dengan hal itu.
"Lalu? Kesini naik apa?"
"Bersama rekan bisnis." Yana mengerutkan keningnya mendengar penuturan suaminya.
"Rekan bisnis? Maksudnya Max?" Tebak Yana yang dibenarkan Vander.
"Dia kesana hingga sore?" Yana tentu saja penasaran sekali, bukankah seorang pengusaha sukses itu jarang memiliki waktu.
"Seharian tadi membahas kerja sama, jadi berikutnya tidak lagi. Hanya sebentar saja, dia mengatakannya." Sambil bercerita keduanya melangkah masuk.
"Selamat datang Tuan." Sambut pelayan yang berada di sana.
"Ngomong-ngomong.... Sepertinya ada yang lupa."
"Apa?" Tanya Yana bingung.
"Ini....." Seketika Yana merasa geli di perut serta wajahnya karena pendaratan lembut dan kenyal suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar anak Papa? Sehat terus ya nak, untuk kedepannya Papa akan melihat perkembangan mu."
"Sehat Papa, hanya saja tadi ia makan bakso dengan lahap sekali." Yana membalas dengan suara bak bayi.
"Ada lagi?" Vander ingin memastikan jika istrinya menginginkan sesuatu.
"Ada, aku ingin dipeluk erat." Yana menjadi manja dan membuat Vander senang.
Waktu berjalan dengan cepat, kehamilan Yana memasuki usia 6 bulan, perut yang mulai membesar itu membuat Vander sangat gemas. Dan Yana merasa lega dengan menghilang nya pesan serta barang misterius yang menghantui dirinya tanpa ia tahu apa maksud di balik nya.
"Pakai yang ini saja, kau terlihat lebih cantik dan anggun." Vander memilihkan sebuah dress untuk Yana bertepatan dengan acara yang mereka hadiri.
"Kau yang terbaik! Dan aku ingin kau memakai yang ini. Kita terlihat sangat serasi sekali." Yana turut memilihkan baju untuk suami nya. Keduanya saat ini masih berada dalam kediaman sebelum pesta yang mereka hadiri.
"Ngomong-ngomong, pasti disana banyak wanita. Aku tidak ingin mata ini melihat siapapun!" Dari lembut Yana berubah menjadi garang.
"Tentu saja tidak, hanya kau yang ada di mataku. Jangan berpikir macam-macam."
"Aku percaya."
Mobil yang membawa mereka sudah berdiri rapi. Vander dengan hati-hati menuntun istrinya ke dalam mobil. "Sudah?"
"Sudah, kita bisa jalan." Tak lama Vander ikut masuk dan melajukan mobilnya menuju tempat undangan pesta.
Baru saja mereka masuk, sudah terlihat kemewahan dan kerlap kerlip lampu yang berbagai bentuk. Tak hanya itu dress dengan kemahalan tersendiri beserta perhiasan juga ikut hadir bersemayam dalam tubuh para orang kaya itu.
"Selamat datang Tuan dan nyonya Vander. Wah, sudah besar ya. Selamat! Akhirnya penantian kalian berakhir juga." Seorang pria paruh baya menyambut keduanya.
"Terimakasih tuan Jim. Dan kami turut bahagia dengan pesta pernikahan putrimu."
"Ya, mari silakan nikmati jamuan nya."
Dari belakang, Yana yang sibuk mengambil makanan tak tau ada seseorang yang mengawasi nya sejak tadi. "Sudah cukup lama aku menahan diri, bagiamana kalau sedikit menyapa Ibu dari anakku."
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1