
Vander akhirnya datang dan membuat sang Mama langsung merasa lega. Ia juga menanyakan perihal yang terjadi sekarang ini. "Apa yang terjadi Vander? Kenapa Yana bisa kecelakaan? Kau dari mana?" Vander yang ditanyai belum menjawab hanya duduk sambil mengajak Mama nya membuat wanita itu menurut.
"Duduklah dulu ma, aku ingin mengatakan sesuatu." Entah mengapa melihat ekspresi anak nya membuat wanita itu merasa lain.
"Ada apa? Kalian tidak ada masalah kan?"
"Aku ingin bercerai dengan Yana." Ucapan putranya sukses membuat wanita itu menjauhkan dirinya dan menatap lekat putranya.
"Apa maksudnya? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kau mabuk?"
"Tidak ma, aku mengatakan dengan sadar. Yana mengkhianati ku, dia bermain dengan pria lain. Aku baru mengetahui nya beberapa hari ini." Tentu saja ucapan itu membuat dirinya merasa tidak percaya, bagaimana mungkin menantu nya melakukan hal itu.
"Kau mungkin salah. Mungkin saja ada seseorang yang sengaja melakukan nya dengan mengedit foto Yana. Ada yang iri dengan kebahagiaan kalian, apalagi setelah Xavier lahir."
"Aku juga berpikir begitu awalnya, tapi ternyata salah! Semuanya asli! Bahkan juga ada videonya, tanggal bahkan semuanya!" Vander terlihat begitu kecewa dan tentu saja membuat Mama nya merasakan apa yang dirasakan putranya. Beberapa kali ia melihat wajah putranya yang terlihat tidak berbohong.
"Siapa pria itu?" Vander menggeleng, karena ia tidak tau sosok pria itu.
"Aku tidak tau, hanya bagian beberapa tubuh tidak bisa mengumpulkan semuanya. Karena itu aku harap Mama mendukung ku."
"Kau sudah tanya pada Yana? Dia pasti memiliki alasan bukan? Ini bisa menjadi skandal bagi keluarga kita Vander, dan juga keluarga nya."
"Aku tidak peduli alasan nya ma, aku hanya ingin perpisahan. Sungguh rasanya harga diriku tergores karena nya, padahal aku memberikan semuanya untuk nya. Aku berikan! Tapi apa yang aku dapatkan? Apa?" Tangis Candra mengalir begitu saja, bak anak kecil ia mencurahkan isi hatinya.
"Jika begini, bagaimana dengan Xavier? Ia masih membutuhkan Yana."
"Xavier sudah berusia enam bulan, dia sudah bisa makan selain asi. Aku akan membawa Xavier bersama ku, aku tidak ingin dia bersama Yana. Aku tidak mau."
"Tapi Yana mungkin tidak akan terima. Begini saja, kita bicarakan ini bersama Papa dan keluarga Yana ya. Mungkin ada kesalahpahaman....."
"Mama tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu, tapi ada anak diantara kalian. Jika tidak ada, mama mendukung keputusan mu Vander. Kau mengerti kan?"
"Aku tidak ingin mengerti itu. Tidak perlu yang lain! Kita bisa selesaikan disini, dia sudah sadar kan? Aku akan bicara padanya!" Vander tampak memasuki ruangan Yana dan membuat mama nya mengikuti langkah putranya itu.
Pintu terbuka dan membuat Yana Yulio baru saja sadar langsung membesarkan matanya melihat kedatangan Vander. "Baguslah kau sudah sadar."
__ADS_1
"Apa ada yang sakit Yana?" Tanya mertuanya.
"Kenapa Mama tanya begitu? Aku yang sakit! Hatiku yang sakit karena ulahnya!"
"Justru aku yang sakit! Kau bermain gila di kantor bersama simpanan mu, apa mama tau?"
"Vander?" Wanita itu langsung meminta penjelasan dari ucapan Yana.
"Ya, dia lebih baik darimu! Dan dia bukan simpanan atau wanita yang seperti kau bayangkan!"
"Lalu wanita yang bagaimana? Wanita baik apa yang mau dengan suami orang lain? Wanita mana?"
"Hari ini kau bukan istriku lagi! Aku Vander menceraikan mu Yana."
"Vander!"
"Tidak ma, keputusan ku sudah bulat." Yana menangis tapi hatinya merasa lain dengan ucapan perceraian itu.
"Lihat? Dia langsung menikahi wanita simpanan nya itu, apa dia sudah merasa gatal sekali? Sepertinya begitu. Atau mungkin dia sudah hamil?"
"Tidak.... Dia tidak bisa hamil, karena apa?" Vander dan mama nya mendengar dengan tak sabaran ucapan Yana selanjutnya.
"Beraninya kau mengatakan hal buruk itu pada putraku! Kau mengatakan hal seperti itu agar perselingkuhan mu tertutupi? Ternyata kau sangat licik! Sekarang aku mengerti kenapa putraku tak sabaran berpisah dengan mu, kau wanita buruk! Xavier tidak pantas besar dengan mu."
Tubuh Yana yang masih lemah karena luka di tubuhnya semakin ken ditambah dengan tamparan keras itu. "Xavier hanya putraku, aku katakan itu!" Dengan sisa tenaga nya, Yana melawan keduanya.
"Aku sadar, ini mungkin hukuman untukmu karena mengkhianati putraku dan juga menuduhkan hal yang buruk!"
"Kalau begitu, putramu juga akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya."
"Sudah ma, sebaiknya kita pergi. Kita bawa Xavier darinya karena dia bukan lagi istriku." Keduanya langsung pergi, Yana tentu tidak tinggal diam dan segera bangkit tapi keadaan tubuhnya yang membutuhkan waktu tidak bisa diajak kerjasama dengan baik.
"Tidak! Aghhh!" Yana terjatuh dan membuat kakinya yang sudah terluka langsung berakibat buruk.
Teriakkan Yana tentu mengundang orang disekitarnya terutama suster yang tak jauh dari sana. Ditengah adegan itu, pintu kembali terbuka memperlihatkan seorang pria yang mendekat ke arah Yana.
"Kau.... Putraku Xavier, jangan." Yana kehilangan kesadarannya dan tidak tau apapun lagi.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Vander langsung menuju kamar putranya yang terlihat Xavier tengah tertidur pulas. "Tuan, tadi tuan kecil menangis tapi sudah saya berikan asi dan ia kembali tertidur meksipun sedikit lama."
"Segera ke mobil!" Baby sister itu tentu bingung dengan maksud majikannya.
"Apa tuan?"
"Bawa barang-barang yang dibutuhkan putraku dan segera ke mobil! Kita akan pergi! Kau dengar?" Karena mendapatkan ucapan seperti itu, wanita itu segera melakukan nya dan tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Bagaimana Vander?"
"Gendong dia ma, kita akan pergi. Selama proses perceraian aku tidak akan membiarkan Xavier bisa didekati Yana."
"Iya, tapi Papa mu?"
"Papa berada di luar negeri kan? Begitu juga dengan orang tua Yana, mereka tidak tau. Sebelum perceraian selesai tidak ada yang boleh tau!" Bak iblis Vander berubah seketika, hanya dia yang tahu alasannya atau Yana yang tidak tau wujud pria itu sebenarnya.
Mereka langsung menuju mobil dengan Xavier yang berada dalam genggaman mereka. Beberapa jalan ditempuh hingga Xavier mulai menangis membuat Vander dan Mama nya langsung menenangkan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Bagaimana dokter?"
"Begini, tadinya kondisi pasien sudah membaik tapi sekarang menjadi drop lagi. Bahkan dia juga belum sadar, kami akan memantau kondisi nya hingga besok. Semoga kembali seperti semula." Setelah kepergian dokter, kedua pria itu saling menatap sejenak.
"Tuan...."
"Aku senang dengan perceraian yang akan terjadi. Tapi Xavier.... Dia putraku. Pantau mereka, aku yakin Vander membawanya."
"Baik Tuan." Pria bawahan Max sudah berlalu dengan tugas baru yang diembannya.
Max memutuskan untuk masuk melihat keadaan Yana yang tengah tidak berdaya. "Jika kau sadar kau akan menyumpahi ku kan? Atau memukul ku. Jujur saja aku merasa senang dengan semuanya yang berjalan dengan keinginan ku. Tadinya aku berpikir mungkin kau mengingat sesuatu, tapi sepertinya tidak. Mungkin masa itu sebaiknya dikubur saja, tapi tidak dengan dendam ku. Aku akan membuat Vander tidak pernah bahagia dan membayar perbuatan nya."
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1
Sambil menunggu episode berikutnya, yuk mampir ke karya teman author. ceritanya seru loh!