
Ketika mata itu terbuka, ia langsung berhadapan dengan langit-langit yang dikenalinya. Saat mengedarkan pandangannya, ia melihat sosok yang dikenalnya dengan raut penuh khawatir bukan main. "Yana, kau sudah sadar sayang? Ada yang sakit?" Tampak Mama Yana langsung memeluk putrinya yang tampak bingung.
"Mama? Apa yang terjadi? Kepalaku rasanya pusing." Yana memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Kau tidak sadarkan diri selama seharian. Karena itu mama dan papa membawa mu kembali ke rumah." Sekarang bukan mamanya yang bicara tapi sang Papa yang baru datang bersama Xavier.
"Apa yang terjadi sayang?" Yana tampak berpikir sejenak, hingga maniknya berubah menjadi genangan air mata sambil menatap kedua orang tuanya.
"Ma, Pa... Aku...."
"Ya, apa ada yang sakit? Xavier jadi ikut menangis karena nya."
"Katakan dengan jelas, apa yang terjadi setelah kecelakaan itu?" Mendengar pertanyaan putrinya, keduanya saling memandang satu sama lain.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Di ruangan lain, terlihat seorang pria dengan beberapa kertas serta foto berjajar di depannya. "Semuanya bohong..." Satu foto berada di tangannya dengan mata yang biasanya tidak pernah basah itu mulai berair.
"Bohong.... Aghhh!" Kursi yang menjadi penopang tubuhnya langsung terbalik diiringi dengan teriakkan nya, membuat yang diluar langsung mendengar semuanya.
__ADS_1
Ditengah teriakkan dan basahan air mata meksipun sedikit itu, pintu terbuka dengan segera memperlihatkan dua orang pria bertubuh yang tak berbeda darinya lekas mendekatinya. "Tuan..."
"Tenang Max, apa yang kau lakukan?"
"Semuanya bohong... Aku sudah salah. Apa takdir begitu mempermainkan ku?" Dirinya mulai berbicara dengan tatapan kosongnya.
"Tidak begitu... Bukan begitu..." Satunya terlihat menenangkan tapi tampaknya tidak berhasil.
"Lalu apa? Semuanya kacau! Kacau! Aku kehilangan semuanya! Aghhh!" Tubuh kekar itu tampaknya mulai bangkit dan mengamuk sehingga bisa saja melukai dirinya sendiri.
"Untung apa aku hidup? Hah!"
"Kau tidak mengerti. Tidak mengerti!"
"Aku mengerti, jika kau tidak berhenti juga...." Tapi tampaknya ancaman itu tidak berlaku baginya.
"Xander!" Satu kata itu berhasil membuat goresan yang siap dilakukan berhenti seketika.
"Kembalikan dia padaku... Aku mohon.... Dad, aku seperti putra mu kan? Kau membawa ku dari kematian maka kembalikan kehidupan ku. Tolong Dad... Kembalikan padaku..." Sekarang tubuh dewasa itu menjadi anak-anak yang mengadu dan meminta kepada sang Ayah dihadapannya.
__ADS_1
Tangan besar itu segera memeluk tubuh putranya yang tengah menangis frustasi saat ini. "Kembalikan padaku, aku mohon.. aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku melakukan kesalahan besar."
"Tenang lah..."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Jam dinding itu sudah menjelaskan berapa waktu yang terpakai untuk bercerita mengenai pertanyaan yang tidak disangka-sangka itu. "Artinya.... Aku kehilangan nya."
"Yana...."
"Bukan hanya itu, tapi dihatiku dia juga hilang. Bukankah itu termasuk aku melanggar janjiku? Dulu aku mengatakan padanya, apapun yang terjadi aku tidak akan melupakan nya. Karena wajahnya, sudah ku tanamkan dalam kepala dan hatiku. Disini ma, disini..." Yana menunjuk dimana detakan itu berlangsung saat ini.
"Itu bukan salahmu sayang, takdir yang melakukannya. Kita hanya perlu menerimanya, papa dan Mama minta maaf. Karena kami tidak mengatakan yang sejujurnya, saat itu kondisinya tidak memungkinkan sekali." Rasa bersalah itu tentu mendera saat ini.
"Tidak... Aku mengerti yang mama dan papa lakukan. Karena aku juga mengalaminya, aku memiliki seorang putra. Aku hanya merasa bersalah karena melanggar janjiku padanya. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri rasanya." Tidak ada lagi ucapan selain pelukan untuk saling menguatkan saat ini.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1