Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Kecemasan Dewa


__ADS_3

"Gue pengin mati." Jati mengepulkan asap rokok dari bibir dan hidungnya.


"Jat, loe apa-apaan sih kayak anak kecil ajah ngomongnya." Dewa langsung menyela omongan Jati.


"Gue ambil balapan, berapa pun taruhannya. Gue ambil." Jati mengabaikan ucapan Dewa.


"Jangan gila loe Jat. Ini bukan tempat untuk bunuh diri." Dewa semakin menentang keinginan Jati.


"Loe nggak tahu apa-apa Wa, lebih baik diam." Jati pun semaki tertantang dengan penolakan Dewa.


"Enggak, Jati nggak bisa ikut balapan apa pun, nanti kalau ada apa-apa yang disalahkan kita-kita lagi. Loe jangan bikin kita susah Jat, kalau loe ada masalah dengan keluarga atau pacar loe lebih baik selesaikan sana jangan ke sini hanya untuk numpang mati." Dewa tahu kalau Jati sedang banyak masalah sehingga balapan bukan solusi terbaik, terlalu berbahaya kalau ada apa-apa malah menambah masalah buat teman-temanya.


Mendengar ucapan Dewa, Jati pun langsung memberikan tatapan sengit. "Mati atau tidak itu urusan gue, loe cukup diam dan lihat apakah gue selemah itu."


"Ini bukan soal lemah atau bukan Jat, tapi pikiran loe sedang banyak masalah, loe balapan kalau ada apa-apa yang disalahkan kita semua."


Perdebatan pun terus terjadi.

__ADS_1


"Beri satu kali kesempatan kalau gue kalah dan gagal sampai garis finis loe boleh keluarkan gue dan jangan jadikan gue anggota dari genk The Kalongs, tapi kalau gue berhasil di balapan pertama, malam ini lanjut dengan pertandingan selanjutnya." Jati mengulurkan tanganya pada Dewa.


"Jangan main-main dengan nyawa Jat, bokap dan nyokap loe pasti akan menyalahkan kita kalau ada apa-apa dengan loe." Meskipun tidak sekeras tadi, tetapi Dewa masih memberikan kesempatan untuk Jati berpikir ulang tentang ia yang ingin bertanding di atas aspal.


"Loe bisa pegang omongan gue. Gue bukan anak kemarin sore yang bodoh dan menyerah begitu saja." Tatapan Jati tidak sedikit pun lepas dari Dewa.


"Udah Wa, beri kesempatan Jati membuktikan sekali saja dulu, kalau memang dia bisa mengolah emosinya lanjut kepertandingan selanjutnya." Martin yang sejak tadi hanya menyimak perdebatan anggotanya pun ikut angkat tangan.


"Tapi kalau ada apa-apa nanti kita yang kena." Dewa masih berusaha menahan Jati.


"Tidak akan, aku jamin kalau terjadi apa-apa dengan gue, orang tua gue justru senang. Jadi loe nggak usah merasa bersalah."


"Gue izinkan, tapi loe harus baik-baik saja, demi nama The Kalongs loe harus sampai finish dengan selamat." Akhirnya Dewa pun mengalah, meskipun dalam batinya tetap berat. Ia tahu Jati sedang banyak masalah, ia takut kalau emosi Jati akan mengantarkanya kesebuah masalah yang besar.


"Loe tenang saja, loe bisa pegang omongan gue." Senyum terkembang di wajah Jati setelah Dewa yang keras melaranya ikut trek akhirnya mengalah juga.


Tepat pukul dua dini hari Jati dan anak-anak the kalongs lainya pun menuju ke lokasi di mana sebentar lagi akan diadakan balapan liar. Dengan imbalan yang tidak terlalu besar. Biasanya Jati dan anak-anak the kalongs tidak akan mengambil hadian yang kecil, tetapi karena Jati yang memaksa akhirnya hadiah kecil pun diambilnya, ini bukan karena kekurangan uang, tetapi Jati ingin meluapkan emosi di atas aspal.

__ADS_1


"Jat, loe harus janji kalau loe tidak akan terjadi apa-apa." Dewa yang melihat wajah temanya sangat lelah pun masih cemas, kalau Jati tidak akan sampai finish dengan berhasil.


"Loe jangan lebai gitu ah, gue jadi gelai kalau loe kayak anak cewek..." Jati menepuk pundak Dewa, agar temanya itu berhenti mencemaskanya.


Mendengar jawaban Jati, Dewa justru semakin was-was. Namun lagi-lagi ia harus sabar karena Jati sudah berjanji akan baik-baik saja.


Satu...Dua... Tiga... Go...


Motor yang sudah berbaris rapi pun langsung melesat secepat kilat, saling tikung dan menunjukan siapa yang pantas untuk mendapatkan julukan raja jalanan.


Dalam batinya Dewa tidak henti-henti berdoa. Pertandingan yang tidak sampai setengah jam pun terasa sangat lama bagi Dewa, dalam batinya was-was tak henti-hentinya telapak tanganya di gosok-gosok dengan kuatĀ  untuk mendapatkan ketenangan.


Tegang yang Dewa rasakan seperti ada polisi yang mengetahu kegiatan membahayakan itu, bahkan lebih parah dari itu.


"Jat, loe harus tepati janji loe. Loe akan sampai di garis finish dengan selamat, loe harus janji itu."


Bersambung.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2