Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Buah Cinta Perjuangan


__ADS_3

Hari ini Qara pun merasakan perutnya sangat tidak nyaman. Sejak pagi selesai ibadah wajib, Qara kembali istirahat, sedangkan Jati yang melihat Qara bertingkat tidak biasa pun menghampiri sang istri.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Jati dengan mengusap perut Qara yang sudah sangat besar. Kalau tidak ada halangan Qara memang akan melahirkan dalam waktu dekat ini.


Qara yang mendengar suara Jati pun membuka matanya kembali, ia memang memejamkan matanya tetapi tidak benar-benar tidur.


"Entah A, perut Qara dari tadi pagi tidak enak sekali," jawab Qara dengan suara yang pelan. Jati dengan telaten mengusap perut sang istri yang dibilang tidak enak itu.


"Apa kamu jangan-jangan mau melahirkan?" tanya Jati dengan terus mengusap perut sang istri. Qara menggeleng pelan.


"Qara tidak tau A, tapi ini benar-benar tidak nyaman."


"Kalau gitu aku mau telepon Mamah dulu, tanya bagaimana kira-kira rasanya kalau mau melahirkan. Mamah pasti tau ini rasa mau melahirkan atau tidak." Jati langsung berdiri dan mengambil ponselnya yang sedang diisi daya.


Tidak menunggu lama calon ayah itu pun langsung menghubungi Iren, dan dari tempat yang berbeda Iren pun langsung mengangkat telepon Jati.


[Ada apa Bang, tumben pagi-pagi udah telpon?] tanya Iren dengan suara yang lembut.


[Mah, kalau mau melahirkan itu rasanya seperti apa?]


[Emang kenapa. Qara sudah mau melahirkan?] tanya balik Iren, yang langsung dari nada bicaranya wanita itu tampak panik.


[Sepertinya begitu Mah. Ini coba Mamah bilang sama Qara, mungkin Qara ada yang mau ditanyakan.] Jati langsung memberikan telepon genggamnya pada sang istri yang nampak terlihat pucat, dan sesekali meringis.


Qara pun langsung mengambil ponsel yang sudah terhubung dengan mamah mertuanya. [Hallo Mah, ini Qara perutnya tidak enak banget, apa mau lahiran yah?] ucap Qara dengan mulai mengatur nafasnya yang mana sakitnya makin sering ia rasakan.

__ADS_1


[Yang kamu rasakan apa Sayang?] tanya Iren.


[Punggung panas dan perut sakit tapi sesekali Mah,] jawab Qara menceritakan detail apa saja yang dia rasakan.


[Kalau gitu minta Jati langsung mengantar ke rumah sakit bersalin tempat kamu periksa, sekarang Mamah juga akan siap-siap untuk menyusul ke sana, itu sudah tanda-tanda melahirkan.]


Qara pun langsung mengatakan apa yang mertuanya katakan, dan Jati pun langsung menyiapkan keperluan bersalin seperti pakaian untuk si kecil. Dan semua kebutuhan yang sudah Iren katakan jauh-jauh hari. Tidak berbeda dengan Jati, kini Iren pun nampak sibuk untuk menyambut cucu pertamanya, bahkan Nara pun ikut sibuk dan gadis kecil itu bahkan sampai izin tidak sekolah karena ingin menyambut ponakan pertamanya, terlalu berlebihan terlihatnya, tetapi apa boleh buat Nara memang menuruni sifat Iren sehingga semuanya pun harus sama.


Jati sendiri tampak sangat bahagia ketika Qara mengatakan kalau sakit perutnya adalah tanda-tanda bakal lahiran.


"Sayang, kamu jangan jalan, biar aku yang gendong kamu." Jati langsung menahan ketika Qara akan berjalan untuk menuju mobilnya.


"Tidak usah A, Qara masih bisa jalan ko, lagian kalau mau lahiran itu justru harus banyak-banyak berjalan," balas Qara langsung menahan sang suami yang mau menggendongnya. Jati pun mau tidak mau membiarkan apa yang Qara katakan, karena memang Jati mendengar dari dokter juga seperti itu harus dibawa berjalan agar pembukaan cepat sempurna, dan cepat melahirkan.


Tanpa menunggu lama karena jarak rumah tempat tinggal Jati dan rumah bersalin tempat Qara yang akan melangsungkan persalinan tidak terlalu jauh kini mereka pun sudah sampai.


"Benar sekali Mas, Mbak Qara mau lahiran sekarang sudah pembukaan enam, sekarang jalan-jalan dulu yah Mbak, nanti kalau rasa mulasnya makin sering itu tandanya pembukaan sudah sempurna. Sekarang jalan-jalan saja dulu sambil sesekali jongkok persis seperti yang sudah kita lakukan latihan kemarin-kemarin." Dokter pun menjelaskan lagi cara-cara yang benar agar pembukaan makin sempurna.


Qara dibantu Jati pun langsung melakukan apa yang dokter katakan, Jati mengusap punggung Qara yang terasa panas, Qara pun sesekali meringis ketika rasa mulas yang semakin terasa menyiksa, bahkan keringat pun terus bercucuran.


Jati mengusap keringat Qara yang makin banyak. Laki-laki itu juga merasakan tidak tega ketika Qara terlihat sangat tersiksa.


"Sayang kamu masih kuat kan?" tanya Jati ketika Qara makin menekan tanganya dengan kuat. Dan Qara lagi-lagi mengangguk dengan kuat.


"A ini kayanya sudah mau lahiran tolong panggil dokter, rasanya makin mulas dan punggung makin terasa tidak karuan." Qara meringis dan mengaduh setiap rasa mulas kembali datang.

__ADS_1


Sesuai yang Qara katakan, Jati pun memanggil Dokter.


"Alhamdulillah, Mbak Qara memang hebat sekarang pembukaan sudah sempurna, kita berjuang bersama yah." Dokter mengarahkan Qara untuk mendorong dengan kuat kalau dokter sudah memberikan aba-aba.


"Mas Jati dibantu istrinya dengan dukungan yang positif yah." Jati pun langsung mengangguk mengerti apalagi dia memang selalu ikut setiap Qara melakukan pelatihan.


"Ayo dorong Mbak Qara!"


Qara pun beberapa kali mengejan dengan kuat sesuai yang dokter arahkan, tenaganya benar-benar digunakan dengan sangat baik. Begitu pun Jati juga memberikan dukungan setiap Qara mau mengejan. Jati mencium kening Qara untuk mendukung sang istri. Ia mengusap rambut Qara dengan sangat lembut dan memcium punngung tangan Qara. Dan tentunya Jati juga membaca doa-doa kebaikan untuk Qara dan calon buah hatinya.


Ea ...


Suara tangisan dari bayi yang baru dilahirkan sebagai pertanda telah lahir generasi penerus dari pasangan Jati dan Qara.


Rasa sakit yang Qara rasakan pun langsung hilang dengan suara tangisan bayi yang nyaring.


"Alhamdulillah, terima kasih Sayang, kamu memang wanita kuat." Tak henti-hentinya Jati mengucapkan selamat untuk Qara yang baru saja melahirkan buah cinta mereka.


Qara sendiri mengembangkan senyumnya dengan lega. Ini adalah bukti cintanya pada Jati, ia telah memberikan kado terindah untuk suaminya di mana ternyata hari ini adalah Jati ulang tahun, tepat di hari kemerdekaan Indonesia. Ini adalah bukti perjuangan cinta mereka.


Bersambung....


...****************...


Teman-teman sembari menunggu kelanjutan Jati dan Qara yuk mampir ke novel besties Othor.

__ADS_1



__ADS_2