
Di meja makan.
Thomy menatap tajam pada Qara yang berjalan mendorong Jati meninggalkan dirinya dan juga Iren yang masih ada di meja makan. Meskipun Qara berpamitan dengan sopan, tapi bagi Thomy menantunya itu masih tidak memiliki sopan santun.
Ya iya lah sekalinya benci maka akan selamanya benci.
"Udah lah Pah, Mamah lihat Qara juga baik kok, dia sangat telaten ngurus Jati, jadi jangan bebani lagi pikiran pada Qara, Mamah takut nanti dia malah jadi tidak maksimal merawat Jati." Iren menggenggam tangan suaminya mungkin saja Thomy bisa mendengarkan nasihatnya.
"Papah nyesal menyetujui dia jadi menantu di rumah ini, jadi besar kepala." Thomy yang memiliki sifat keras kepala tentu tidak akan dengan mudah mendengarkan nasihat dari istrinya.
"Nara dan Noah juga nyaman dengan Qara, jadi rasanya tidak ada yang perlu disesali Pah." Iren sejak melihat Qara sangat tulus dengan Jati, hatinya lama-lama berbalik ada simpati dan melihat kerja yang bagus tidak ada salahnya menjadikan menantu yang penting anaknya bahagia dan juga Qara bisa melayani Jati dengan tulus.
"Papah akan bicara pada Qara."
"Bicara apa lagi? Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Apa Papah tidak ingin lihat Jati sembuh?" tanya Iren dengan suara lirih.
"Ini bukan soal sembuh atau tidak Mah, tapi Papah tidak akan pernah mau kalau Qara jadi menantu kita," balas Thomy dengan menekankan setiap kata-katanya.
"Kenapa sih Pah, apa karena Qara miskin?" tanya Iren masih dengan suara yang lirih karena takut kalau Qara tiba-tiba datang kembali.
"Entahlah, rasanya tidak suka lihat wajahnya yang sok polos dan sok suci, alasan ingin merawat Jati agar halal. Persetan halal dan haram, bukanya kerjaan orang-orang banyak yang kerjaan haram tidak ada yang jadi masalah. Bahkan banyak yang jual diri dengan dalil buat kebutuhan hidup. K0rupsi, mencuri uang rakyat apa itu tidak dosa? Tapi mereka tenang-tenang saja, kenapa wanita itu sok suci sekali. Padahal dia sebenarnya sedang merencanakan akan benar-benar jadi menantu di rumah ini," tuduh Thomy, dengan suara yang semakin menunjukkan kebenciannya.
__ADS_1
"Iya maksud Mamah, kenapa Papah tidak merestui Qara jadi menantu di rumah ini alasannya apa? Kalau Mamah selama dia wanita yang baik dan benar-benar mencinta Jati tentu tidak ada salahnya." Sebagai wanita ia juga tahu rasanya dituduh hanya menumpang hidup. Apalagi Qara yang dituduh secara terus menerus oleh Thomy.
"Tau ah, ngomong sama Mamah sama ajah," balas Thomy dengan ketus. Ia pun beranjak dari ruang makan dan lebih memilih pergi ke ruang kerjanya. Mungkin dengan bekerja dia bisa sedikit mengurangi rasa sakit kepalanya karena memikirkan Qara.
Padahal ngapain juga memikirkan Qara yang tidak seharusnya ia pikiran. Biarkan Qara ada yang memikirkan yaitu suaminya. Kalau tidak suka cukup tutup mata dan telinga beres kan.
*******
Di saat Thomy tengah uring-uringan karena melihat anaknya yang justru hubungannya semakin dekat dengan Qara. Jati sendiri dengan Qara sedang berusaha mengorek sesuatu mungkin saja Qara mau jujur. Yah, Jati sedang mencari informasi tentang yang Qara dan Thomy.
"Kita melakukannya pelan-pelan. Aku janji Papah tidak akan tahu kalau kita sudah melakukan hubungan suami istri. Aku laki-laki Qara mana mungkin aku kuat kalau harus terus-terusan menahan rasa ini," bisik Jati dengan mengulurkan jari jemarinya menyusuri leher belakang Qara. Ia sengaja memancing agar Qara mau melayaninya.
"Yang sakit kakiku bukan adik kecilku. Kita bisa memulainya dari yang ringan-ringan saja. Bukanya itu justru bisa semakin menyembuhkan kakiku karena itu tandanya syaraf-syaraf akan semakin sering dilatih. Kita bisa melakukannya semakin sering agar aku bisa cepat sembuh. Lagi pula bukanya kamu kemarin juga dengar apa kata dokter kaki ini jangan dimanjakan harus banyak dilatih, jadi ayo kita latihan," balas Jati dengan mengedipkan sebelah matanya, merayu Qara.
Mendengar jawaban Jati, Qara tentu tidak bisa berbuat apa-apa, ia bergeming pikirannya kembali teringat ucapan Thomy yang akan mencelakai abah dan adiknya, kalau dia sampai melanggar perjanjian kontrak mereka.
"Qara, apa yang membuat kamu ragu?" tanya Jati dengan duduk bergeser semakin dekat dengan Qara, meskipun Jati harus menahan rasa sakit di tulang lututnya ketika bergeser.
Qara masih bergeming kini pandangan matanya justru menunduk jari-jarinya saling bertaut. Seolah ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan sang suami.
"Qara, aku tahu, ada yang sedang kamu rahasiakan Sayang. Ceritakan lah. Aku akan bantu kamu untuk mencari solusinya. Aku tidak akan marah meskipun apa yang kamu lakukan akan menyakiti aku. Aku janji." Jati membuat simbol V dari jari telunjuk dan jari tengah yang diacungkan.
__ADS_1
"Tapi beda cerita, kalau nanti aku tahu sesuatu dari orang lain, bisa saja aku menjadi orang yang sangat menakutkan untuk kamu. Jadi sebelum itu semua terjadi. Ayo cerita lah aku akan membantu cari solusi untuk kamu." Jati menggenggam tangan Qara dan menciumnya dengan mesra. Berharap Qara akan luluh.
"Tapi apa A Jati janji akan menutup rahasia ini dengan rapat? Dan tidak marah dengan Qara?" tanya Qara dengan suara yang bergetar, karena ada rasa takut ia jujur Jati, marah dan juga Thomy akan marah pada dirinya. Ah, kalau marah saja mungkin Qara tidak akan mengapa asal Thomy tidak mencelakai abah dan kedua adiknya.
"Aku janji Qara. Kita duduk bersama untuk mencari solusi bukan untuk saling menghakimi, dan menyalahkan. Kita sudah sah sebagai suami istri sudah selayaknya kita saling terbuka," tutur Jati membuat Qara semakin merasa yakin untuk bercerita dengan Jati dengan apa yang sebenarnya terjadi, karena ternyata menanggung beban seorang diri itu sangat berat.
"Sebenarnya yang A Jati curiga kan itu benar," lirih Qara.
"Yang mana? Aku tidak tahu?" tanya Jati, ingin meminta penjelasan lebih detail dari Qara.
"Soal kerja sama antara Qara dan papah A Jati," balas Qara, pandangan matanya terus menunduk tidak mau menatap ke dua mata Jati.
"Kerja sama, yang seperti apa? Tidak berhubungan badan dengan aku?" tanya Jati lagi.
"Pernikahan Qara dan A Jati hanya kontrak pekerjaan."
Deg! Jati langsung terkejut mendengar ucapan Qara.
Nah loh, kira-kira Jati bakal marah atau nggak yah?
Bersambung....
__ADS_1