
Rasa penasaran dalam hati Jati membuat ia ingin tahu lebih atas apa yang sebenarnya terjadi.
"Kerja sama, yang seperti apa? Tidak berhubungan badan dengan aku?" tanya Jati lagi.
"Pernikahan Qara dan A Jati sebenarnya hanya kontrak pekerjaan. Om Thomy yang meminta agar kita tidak melakukan hubungan suami istri kalau Qara ingin tetap aman."
Deg! Jati langsung terkejut mendengar ucapan Qara. Jati pun langsung menatap Qara dengan tajam. Sementara Qara tahu kalau Jati pasti sedang marah sehingga ia pun memilih menunduk kembali.
"Aku tahu, aku salah. Tidak selayaknya aku mempermainkan pernikahan. Maafkan aku." Air mata Qara pun luluh jatuh membuat aliran anak sungai, tidak kuasa membayangkan kemarahan Jati.
Namun bukanya Jati marah dan menghakimi Qara, ia justru merangkul Qara dengan lembut dan membawa tubuh agar bersandar di dadanya.
"Pasti ada alasan kamu melakukan itu," balas Jati, siapa yang tidak marah dengan pernikahan yang ia jalani ternyata hanya sebagai kontrak kerja saja. Namun, Jati tidak ingin menghakimi Qara, karena ia yakin Qara hanya terpaksa menerima tawaran kerja dari papahnya.
Qara mengangguk. "Aku terlalu cinta sama kamu. Aku ingin membuktikan cinta yang aku punya sama kamu. Aku juga tidak rela kalau kamu dirawat dengan wanita lain. Tapi Om Thomy tidak setuju kalau kita menikah sungguhan. Ia ingin pernikahan kita hanya pernikahan kontrak. Dan Qara pun setuju, karena mungkin dengan Qara yang merawat A Jati bisa sembuh dan bisa kembali menjalani aktifitas seperti biasa tidak lagi menggunakan alat bantu berjalan."
__ADS_1
"Apa ada lagi yang membuat kamu takut dengan Papah?" tanya Jati. Ia mencoba mengerti berada di posisi Qara, karena ia pun sangat mencintai Qara. Tidak ingin ia kehilangan Qara.
"Abah, Diki dan Dika, kalau Qara melanggar perjanjian kontrak Om Thomy akan mencelakai mereka." Yah Qara sudah yakin bahwa ia tidak akan merahasiakan apa pun lagi dari Jati. Mungkin dengan ia bercerita pada Jati, dirinya tidak akan lagi merasakan tertekan seperti sekarang ini yang selalu tertekan.
"Kamu jangan takut, aku akan cari solusi untuk masalah kita." Jati mengusap rambut Qara yang saat ini tengah bersandar di dadanya.
"Terima kasih karena tidak marah dengan aku. Aku takut sekali kalau kamu pada akhirnya akan marah dan tidak mau lagi kenal dengan aku," isak Qara.
Jati pun mengulas senyum dan mengacak-acak rambut sang istri yang akhirnya mau diajak mesra-mesraan juga.
"Lain kali aku akan dengarkan apa kata kamu. Aku tidak akan lagi menyembunyikan masalah apa pun, tapi kamu tidak akan menyalahkan Om Thomy kan, nanti malah Qara yang bakal dapat hukuman dan juga abah serta ke dua adik Qara takut kenapa-kenapa." Meskipun Qara belum begitu tahu dengan mertuanya tapi Qara yakin kalau mertuanya itu memang orang yang cukup menyeramkan.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan membuat Papah membenci kamu. Tapi gimana kalau kita juga bermain kucing-kucingan agar Papah juga tidak bisa mencelakai Abah dan ke dua adik kamu." Jati tersenyum cukup lebar ketika melihat Qara sekarang mau diajak mesra-mesraan.
Mendengar ucapan Jati, Qara pun langsung beranjak dari pelukan Jati. "Bermain kucing-kucingan gimana maksudnya. Aku tidak mau kalau kamu justru seolah menantang papah kamu. Dia itu orang yang cukup bahaya aku takut, beliau akan nekat melakukan hal yang membahayakan untuk kita." Dengan tegas Qara langsung menolak apa yang Jati tawarkan.
__ADS_1
"Kamu tenang saja Sayang, rencana aku tidak akan membuat keributan." Jati sangat yakin kalau Thomy tidak akan sadar kalau anaknya juga memilki sifat yang sama seperti dirinya.
"Coba katakan rencana apa dulu, agar aku bisa menilai itu aman atau tidak," titah Qara.
"Kita pura-pura cerai. Biar Papah jangan ganggu kamu dan abah serta Dika dan Diki. Terus Abah dan kedua adik iparku pindah ke Jakarta. Kamu nanti akan tinggal bersama dengan mereka. Papah tidak akan tahu kalau kamu dan aku hanya cerai bohongan," balas Jati. Yah, ketika Thomy merencanakan nikah kontrak dengan Qara. Maka dia juga harus melakukan hal yang sebaliknya.
"Tapi, itu bukanya sama aja dengan rencana Om Thomy terlalu berbahaya," balas Qara kurang setuju dengan yang direncanakan Thomy.
"Tidak Sayang, aku yakin. Besok aku akan atur semuanya dan kamu hanya tinggal mengikuti apa yang aku katakan. Ini jauh lebih aman dari pada kamu ada di rumah ini. Aku takut kalau Papah akan memarahi kamu atau menyakiti kamu. Air mata kamu terlalu berharga untuk menangis. Jadi jangan menangis lagi yah." Jati mengusap wajah Qara yang putih mulus. Ia pun mengangguk dengan semangat.
"Aku janji tidak akan nangis lagi, tapi kalau tidak lupa," balas Qara, kadang ia terlalu bahagia nangis, sedih nangis jadi lupa apa yang mereka janjikan.
"Dasar anak manja, tapi aku sayang." Jati kembali memeluk gemas Qara. Tentu sekarang Qara pun senang dipeluk oleh Jati. Tidak lagi menghindar karena ternyata dipeluk suami rasanya sangat nyaman dan bahagia.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...