Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Pertengkaran


__ADS_3

"Pah, Papah... Jati Pah..."


Suara jeritan dari Iren begitu ia membuka ponselnya. Pagi itu bahkan matahari saja masih berselimut dengan kegelapan, tetapi Iren sudah membuat kegaduhan di rumah mewahnya.


"Ada apa sih Mah, Jati ada apalagi dengan anak itu? Bikin onar apa lagi dia?" tanya Thomy dengan mata yang masih enggan terbuka. Kebiasaan Jati yang bermain balapan liar tentu sudah bolak balik membuat kejutan untuk orang tuanya. Terutama berurusan dengan polisi. Bahkan mungkin polisi sampai pada hapal pada Jati karena kasus-kasusnya yang berulang kali berurusan dengan polisi.


Iren duduk dengan lemas di samping ranjang, dan memberikan ponselnya pada sang suami. Saking syoknya mendengar berita yang Dewa berikan, hingga bibirnya kaku dan tidak bisa berbicara. Thomy yang penasaran dengan yang terjadi dengan sang istri pun langsung mengambil ponsel dan membaca pesan dari Dewa.


"Anak itu memang selalu bikin ulah. Kalau kaya gini orang tua juga yang terbawa-bawa dan dibikin pusing," maki Thomy dengan mata yang memerah. Antara sedih dan kesal jadi satu.


"Papah ngomong apa sih. Jati kaya gitu juga pasti karena Papah, Jati dengar semu ucapan Papah yang melarang Jati menikah dengan kekasihnya sehingga dia marah dan melampiaskanya dengan balapan liar, lalu terjadi kecelakaan ini semua. Jadi penyebabnya adalah Papah yang terlalu keras dengan anak sendiri. Apa Papah senang sekarang lihat Jati tidak berdaya seperti itu," jerit Iren melampiaskan kemarahanya pada Thomy.

__ADS_1


"Ko, Mamah malah salahkan Papah, jelas-jelas anak itu yang terlalu sok jagoan, anak itu terlalu kekanakan setiap masalah selalu dilampiaskan dengan hal-hal negatif dan sekarang dia kecelakaan yang repot orang tuanya juga. Anak manja dan tidak berguna."


"Cukup!" Iren sangat kecewa dengan ucapan suaminya yang selalu menyalahkan Jati hingga JatiĀ  menjadi keras seperti sekarang. "Cukup salahkan Jati, jelas-jelas Papah adalah penyebab Jati seperti ini. Papah senang sekarang Jati tidak berdaya. Papah jangan ikut ke rumah sakit biarkan Jati Mamah yang urus. Papah bukan orang tua Jati. Manusia tidak punya hati." Iren langsung beranjak dari duduknya, meskipun tubuhnya lemas dan tidak karuan tetapi wanita paruh baya itu memaksakan diri untuk datang ke rumah sakit sendiri dan melihat kondisi anaknya.


Hatinya sangat sakit karena perlakuan suaminya yang tidak pernah melihat kebaikan Jati sedikit pun. Padahal Jati adalah anaknya. Jati juga masih bisa dikatakan anak kecil yang mentalnya gampang down, dan di saat dia butuh dukungan dan nasihat Iren dan Thomy malah selalu menekanya sehingga dalam batin Jati jadi keras sekaligus dia menjadi laki-laki yang sangat lemah.


Mental seseorang berbeda-beda termasuk Jati ia tidak selali bisa berpikir positif seharusnya ada teman yang mengerti perasaan Jati, terutama kedua orang tuanya, tetapi justru dari pengakuan yang lainya dia bermasalah dengan keluarganya obrolan terakhir Jati dan Dewa menjadi bukti bahwa mentalnya tidak baik-baik saja terutama mengenai keluarganya.


"Mah, biar Papah antar. Ini masih pag-pagi buta. Mamah sedang banyak pikiran. Papah takut nanti terjadi sesuatu," ucap Thomy dengan bersiap menghampiri sang istri, tetapi seperti sebelumnya. Iren justru memberikan tatapan yang tajam.


*****

__ADS_1


DI depan ruangan Icu seorang laki-laki berusia dua puluh empat tahu, tengah menatap seorang pasien dengan tubuh penuh alat medis. Harapanya untuk hidup hanya sedikit, luka parah di kaki dan dadanya membuat harapan untuk hidup tidak lebih besar dari enam puluh persen. Bahkan dokter pun tidak bisa memastikan operasi yang barusan dijalani oleh Jati akan berhasil mengingat benturan di dada cukup berat dan mengakibatkan tulang rusuk bagiaan bawahnya ada yang patah dan melukai organ hatinya. Meskipun organ hati apabila rusak masih ada kemungkinan untuk sembuh dan tumbuh organ baru tetapi melihat kondisi Jati yang sangat parah bukan tidak mungkin hatinya akan mengalami kegagalan dalam pembentukan organ yang rusak. Semuanya hanya butuh keajaiban.


"Jat, kenapa loe jahat banget. Loe tahu sekarang gue sedang bersiap untuk mendengarkan kemarahan dari ke dua orang tua loe."


"Jat, bagaimana kalau orang tua loe melaporkan kami ke penjara karena membutat loe cidera seperti ini. Kenapa loe tega Jat."


Dewa pun terus menatap layar monitor jatung, yang mana denyut jantung Jati pun masih sangat lemah. Bakan untuk sementara waktu tidak ada yang diizinkan masuk ke ruangan Icu.


"Jat, gue akan marah besar banget kalau sampai loe nyerah."


"Loe sudah buat situas kita semua tidak aman. Loe sudah buat kita semua dalam ketakutan. Loe jahat Jat."

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2