Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Bidadari Surga


__ADS_3

"Tan, jangan kaya gini Tan, Jati pasti sedih kalau Tante kaya gini," ucap Dewa sembari memegang pundak Iren agar wanita itu jangan seperti itu. Selain malu dilihat oleh orang-orang. Dewa juga yakin kalau Jati bisa merasakan kesedihan itu.


"Diam kamu, ini semua gara-gara kamu pasti, Jati kecelakaan gara-gara kalian yang membuat Jati balapan liar kan?"


Deg!!! Ketakutan Dewa benar-benar terjadi. Orang tua Jati menuduhnya penyebab atas kecelakaan anaknya.


Dewa hanya bisa menunduk ketika mendengarkan makian dari Iren. Laki-laki itu tahu bagaimana hancurnya seoang ibu ketika melihat anaknya terbaring antara hidup dan mati, belum untuk kembali hidup normal Dewa pun tidak tahu, karena dokter sendiri mengatakan Jati mengalami luka yang cukup parah terutama bagian dada dan kakinya.


"Maafkan Dewa, Tan. Tapi Dewa sebelumnya sudah mengingatkan Jati agar tidak mengikuti balapan itu, tidak seperti yang tante katakan. Dewa menasihati Jati, tetapi Jati justru mengatakan kalau ada apa-apa dengan dirinya kedua orang tuanya akan bahagia, Jati sedang banyak masalah malam itu dan bukan hanya Dewa yang menasihati Jati semua teman-teman kita menasihati Jati, Tan, tapi tidak ada yang berhasil menahanya," jawab Dewa, ia tidak mau disalahkan begitu saja, karena Dewa tahu Jati seperti ini juga pasti ada andil dari kedua orang tuanya yang mungkin saja memang sedang ada masalah dengan Jati dan mengakibatkan Jati malam tadi benar-benar berbeda.


Mendengar jawab Dewa, Iren pun hanya menundukan pandanganya, ia benar-benar di hinggapi rasa bersalah. Yang dikatakan Dewa ada benarnya, Jati pergi dengan keadaan marah, tetapi bukan berati ia senang mendengar anaknya seperti ini. Tidak ada orang tua yang senang dengan melihat anaknya terbaring berjuang hidup dan mati.


"Karena Tante sudah datang sebaiknya Dewa pulang Tan," pamit Dewa dengan sopan, tetapi lagi-lagi Iren yang masih marah dan terkejut dengan ini semua pun hanya diam saja tidak menjawab ucapan Dewa.

__ADS_1


Setelah tidak ada jawaban dari Iren, Dewa menghampiri kaca di mana di dalam sana ada Jati, meskipun ia tidak sepenuhnya sadar tetapi Dewa yakin kalau Jati akan mendengar ucapannya.


"Jat, gue pulang dulu yah, loe cepatlah sembuh. Gue tahu loe itu kuat bukanya loe yang selalu bilang kalau loe itu adalah orang paling kuat, dan sekarang buktikan kalau loe memang kuat sekuat dengan nama loe Jati. Kita semua di sini tidak henti-hentinya doakan loe biar sembuh dan kita akan berkumpul lagi." Dewa berpamitan pada Jati, besar harapanya kalau Jati bisa mendengar ucapanya dan memotivasi dirinya untuk sembuh.



"Dewa pulang Tan ...." Sekali lagi Dewa pun berpamitan pada Iren. Meskipun laki-laki itu tahu kalau Iren tidak akan menjawabnya.


Markas The Kalongs adalah tujuan Dewa setelah pulang dari rumah sakit, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Jati, kenapa dia malam ini sangat terlihat banyak masalah. Tidak harus menunggu lama kini Dewa sudah sampai di tempat yang dijadikan tempat berkumpul oleh anggotan genk the kalongs.


"Tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Sampai sekarang masih kritis," ucap Dewa dengan nada bicara yang lemah. Dewa tidak bisa menyalahkan teman-temannya karena memang malam tadi Jati yang bersikeras mengikuti balapan liar.


"Terus dia dijaga oleh siapa?" Kali ini Padi yang langsung mengambil alih pertanyaan untuk Dewa.

__ADS_1


"Nyokapnya, mereka marah pada kita, karena menganggap kita adalah penyebab Jati seperti itu, padahal gue udah larang sampai cape tapi sulit untuk membuat kepercayaan pada keluarga Jati."


Dewa menghela nafas dalam.


"Ponsel Jati di mana?" tanya Dewa pada anggota yang lain.


Padi yang memang dipercaya memegang dompet dan ponsel Jati pun mengambil dan memberikanya pada Dewa. Dewa yang memang sangat penasaran denganĀ  yang terjadi pada Jati pun langsung membuka ponsel Jati. Mungkin saja dengan membuka ponsel Jati dia akan tahu apa yang menjadi penyebab Jati bisa seprustasi semalam.


Untungnya Jati memang tidak pernah merahasikan pin ponselnya sehingga Dewa pun masih ingat pin ponsel Jati.


Kening Dewa mengerut sempurna ketika menatap layar ponsel Jati banyak panggilan dari kontak bernama bidadari surga, bukan hanya panggilan telepon tetapi pesan juga banyak yang dikirimkan oleh bidadari surga.


"Siapa bidadari surga ini?" batin Dewa sangat penasaran.

__ADS_1


"Apa dia adalah penyebab Jati putus asa dan ingin bunuh diri?" gumam Dewa perlahan ia membaca chat m Jati dengan wanita bernama bidadari surga.


Bersambung.....


__ADS_2