
"Alasanya kamu mau nikah dengan Jati apa, bukanya Jati sakit? Orang tua Jati bagaimana? Setuju atau tidak? Dan buat Jati sendiri bagaimana?" cecar Abah membuat Qara harus hati-hati menjawabnya. Salah jawab bisa-bisa Qara tidak akan mendapatkan restu dari abahnya.
Qara sih wajar abahnya bertanya seperti itu karena memang ia adalah anak pertama dan wanita satu-satunya dalam keluarga pasti abah ingin yang terbaik untuk putrinya. Bersyukur Qara sebenarnya karena itu tandanya abahnya tidak ingin anaknya sedih, sehingga memilihkan calon suami dengan sangat baik, dan jangan salah pilih.
Ibarat kata masa depan putrinya ada di tangan abah. Salah pilihkan suami justru derita yang akan War rasakan.
Qara menatap abahnya dan juga ke dua adiknya secara bergantian. Nampaknya mereka sangat penasaran dengan apa yang akan Qara berikan jawaban.
"Qara bingung kalau ditanya alasan memilih menikah dengan A Jati sedangkan kondisi A Jati tidak bisa dikatakan baik-baik saja, A Jati sedang berjuang untuk sembuh, dan Qara pun harus banyak bersabar untuk merawat A Jati, tapi hati kecil Qara yang memutuskan kalau Qara ingin menikah dengan A Jati saat dia sakit. Mungkin dengan Qara yang merawat, A Jati jadi bersemangat untuk sembuh." Qara menjawab dengan sangat hati-hati.
"Untuk orang tua Jati bagaimana apakah dia juga mengizinkan kamu menjadi menantu mereka. Apalagi kalau dilihat dari penampilan dan keseharian Jati dia bukan orang biasa." Abah kembali menayakan izin dari ke dua orang tua calon suami putrinya.
"Orang tua A Jati justru senang Qara mau menerima anaknya yang sedang berjuang untuk sembuh. Mereka sama berpikir seperti Qara. Mereka juga berharap dengan Qara menikah dengan anaknya, AJati akan bersemangat untuk sembuh. Mungkin ini salah satu dorongan dan dukungan yang bisa Qara berikan untuk A Jati yang sedang sakit. Qara yakin kalau A Jati pasti akan sembuh." Qara mengulas senyum tipis.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan ini. Abah nggak mau nanti dengar kamu malah berpisah atau bertengkar karena alasan-alasan yang tidak masuk akal. Merawat orang sakit itu butuh kesabaran dan Abah hanya tidak ingin kamu menikah hanya modal coba-coba atau keberuntungan, setelah itu bercerai."
Deg!! Mendengar ucapan orang tuanya Qara langsung kembali keingat dengan rencananya. Wanita berhijab itu pun terpaksa mengembangkan senyumnya. Seolah semuanya baik-baik saja. Meskipun dalam hatinya ada rasa nyeri karena ia telah membohongi abahnya.
__ADS_1
"Abah jangan khawatir, Qara sudah memikirkan keputusan ini dengan matang," jawab Qara dengan yakin.
"Baiklah kalau memang apa yang kamu katakan seperti itu. Abah sebagai orang tua harus mendukung apa pun itu keputusan anaknya. Abah yakin kamu itu pasti untuk memutuskan ini tidak gegabah. Kamu sudah memikirkan ini dengan matang. Abah hanya bisa mendoakan kamu agar apa pun yang kamu putuskan membawa berkah kebaikan dan juga kebahagiaan."
Mendengar doa tulus dari sang abah. Qara justru semakin dibuat bersalah. Ia benar-benar dirundung penyesalan, yah ia kembali di selimuti kebimbangan. Apalagi apa yang dikatakanya adalah kebohongan apa yang terjadi, keputusannya menikah dengan Jati justru sebaliknya.
Di saat Qara diselimuti dengan rasa bersalah dan juga rasa tidak tenang karena kebohonganya pada abah, demi mendapatkan restu agar bisa menikah dengan Jati. Di rumah sakit Thomy yang baru pulang kerja pun langsung mampir ke rumah sakit. Yah, jelas Iren yang meminta Thomy mampir ke rumah sakit tidak bukan untuk membahas apa yang tadi pagi sudah dibahas dengan Qara.
"Papah sudah pulang dan sekarang kamu bisa mendengar apa yang tadi Mamah katakan," ucap Iren ketika sang suami sudah mengabarkan kalau dirinya saat ini sudah berada di jalan.
Jelas Jati langsung mengembangkan senyumnya, bahkan sejak Qara menagatakan mau menikah dengan dirinya. Jati sangat bersamangat untuk sembuh. Entah berapa kali Jati berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan sembuh.
"Pah, kata Mamah, Papah setuju kalau Jati menikah dengan Qara?" tanya Jati begitu Thomy sampai di ruanganya dan duduk di samping Iren.
"Tapi apa nanti kalau kamu menikah bisa berpikir dengan dewasa. Menikah itu banyak tanggung jawabnya Jati. Sebenarnya Papah masih ragu untuk menikahkan kamu dengan Qara hal itu karena kamu yang masih berpikir seperti anak-anak. Qara sudah dewasa bahkan usia kamu dan dia bukanya beda sampai empat tahun. Cara berpikir Qara, Papah akui sangat dewasa dan ngayom (Membimbing) Sedangkan kamu masih kaya gini saja, bahkan untuk tujuan hidup sendiri Papah tidak tahu kamu akan bawa kemana kehidupanmu. Masa depan semrawut. Kasihan Qara nanti kalau dapat suami seperti kamu," ucap Thomy yang sebenarnya berbicara seperti ini agar Jati bisa berpikir dan tanggung jawab dengan kehidupan masa depannya.
"Jati tahu apa yang Papah khawatirkan. Jati Janji akan tanggung jawab dengan istri Jati, Jati akan semangat untuk sembuh dan kali ini bersungguh-sungguh untuk sembuh. Jati juga mau buktiin pada Qara, Mamah dan Papah kalau tanggung jawab tidak dilihat dari umurnya," jawab Jati dengan yakin.
__ADS_1
"Yah, Papah suka dengan semangat kamu, tapi kamu juga harus benar-benar berjanji dan ditepati. Jangan hanya janji hanya di mulut saja." Thomy mengulas senyum samar bahkan Jati dan Iren pun hampir tidak bisa melihat senyum dari suaminya.
"Berati itu tandanya Papah setuju kalau Jati menikah dengan Qara?" tanya Jati dengan suara yang jauh lebih kencang.
"Yah, tapi ingat janji kamu, kamu harus buktikan juga janji kamu itu."
"Siap Pah, Jati janji akan tepati janji Jati." Terlihat jelas wajah Jati yang sangat bahagia. Mungkin kalau tidak sedang sakit Jati akan koprol, jingkrak-jingkrak dan berjoget ria. Tak ada hal yang bisa bikin ia sangat bahagia seperti ini selain kabar kalau sang papah akhirnya menyetujui pernikahan dirinya dengan Qara.
"Jadi ini pernikahan Qara dan Jati akan dilangsungkan kapan Pah?" tanya Iren yang sejak tadi lebih banyak diam mendengarkan obrolan antara suaminya dan juga putranya.
"Terserah Jati, apa dia siap kalau menikah dengan cepat. Kalau Papah mengikut anaknya saja." Thomy menatap Jati agar memberikan jawaban.
"Kalau Mamah maunya besok, gimana? Apa kamu sudah siap Sayang?" tanya Iren, yang berhasil membuat Jati langsung terkejut.
"Besok Mah?" tanya Jati kaget sekaligus bahagia, pastinya.
"Apa mau nunggu sampai sembuh?" Kali ini Thomy yang kembali bertanya.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...