Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Doa Untuk Calon Suami


__ADS_3

"Kenapa kamu bawa dia ke sini. Emang dia dokter, dukun atau apa bisa menyembuhkan jati?"


Deg!! Qara langsung mengangkat wajahnya ketika mendengar ucapan Thomy. Ingin ia membalas ucapan laki-laki paruh baya dengan tampang jutek itu. Namun, Qara tahu ini bukanlah situasi yang pas. Lagipula ini rumah sakit Qara tidak ingin ada keributan.


Wanita berhijab itu pun mencoba menarik nafas dalam, dan membuangnya perlahan, mencoba mengontrol emosinya.


"Maaf Om kalau kedatangan saya mengganggu Anda, dan membuat suasana di sini jadi tidak nyaman. Saya datang ke sini tidak ada maksud apa-apa, saya murni ingin menjenguk A Jati tidak ada maksud apa-apa," balas Qara, meskipun dalam hatinya sakit mendengarkan ucapan Thomy tetapi ia yakin diamnya dia tidak mengurangi rasa hormatnya. Diam jauh lebih baik dari pada membalas dengan ucapan yang menyakitkan lagi.


"Saya yang minta Qara datang ke sini Om, jadi kalau Om tidak suka, silahkan saja lampiaskan pada Dewa." Dewa yang merasa kasihan dengan Qara pun angkat bicara. Meskipun Dewa baru kenal Qara beberapa jam yang lalu, tetapi Dewa tahu Qara orang yang baik, buktinya begitu datang langsung mengulurkan tangan pada Thomy hendak bersalaman, tetapi laki-laki paruh baya itu mengabaikanya, dan justru melemparkan pertanyaan yang menyakitkan.


Setelah Dewa angkat bicara Thomy pun tidak banyak berbicara, kembali diam dan itu dianggap oleh Dewa dan Qara sebagai izin kalau Qara boleh menjenguk putranya.


"Selamat pagi Tante." Kini Qara perlahan menghampiri Iren yang tetap berdiri dengan lesu dan bersender ke dinding. Pandangan matanya terus menatap Jati. Qara pelahan menyapa Iren dengan ramah dan mengulurkan tanganya hendak bersalaman dengan Iren. Meskipun tadi Thomy menolak untuk berjabat tangan dengan Qara, tetapi Qara tidak menyerah ia kembali mencoba berjabat tangan dengan Iren, mungkin saja wanita itu berbeda dengan Thomy.


Benar saja Iren berbeda reaksinya dengan Thomy setidaknya wanita cantik itu mau mengulurkan tanganya untuk bersalaman dengan Qara. Ada rasa lega yang Qara rasakan ketika bisa bersalaman dengan Iren.

__ADS_1


"Jati kondisinya cukup parah, dan sekarang masih belum bisa pindah ke ruang rawat inap biasa, karena kondisinya terlalu lemah. Tolong doakan Jati, Qara. Doakan agar tetap bertahan dan sembuh kembali," ucap Iren masih dengan air mata yang terus mengalir. Penyesalan di hati wanita itu yang membuat Iren tidak henti-hentinya menangisi kondisi Jati.


"Pasti Tante, Qara akan doakan A Jati terus sampai sembuh," balas Qara yang tidak kalah sedih ketika melihat tubuh Jati yang terbaring tidak berdaya. Perasaanya Qara campur aduk melihat kondisi Jati, dan yang paling jelas adalah perasaan marah pada diri sendiri karena bersikap bodoh menerima tawaran Thomy. Andai ia tidak mengikuti kemauan Thomy mungkin Jati masih sehat-sehat saja. Itu yang ada dalam pikiran Qara. Tanpa terasa Qara pun terisak ketika membayangkan kalau hal paling buruk akan terjadi.


"A Jati, ini Qara datang. Cepat sembuh dan cepat bangun yah. Qara janji akan berjuang kembali demi hubungan kita direstui oleh kedua orang tua kita," batin Qara, dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.


"Tante, apa kita belum boleh masuk ke dalam?" tanya Qara dengan penuh hati-hati. Pasalnya tepat di belakangnya ada Thomy yang siap mendengarkan percakapan mereka.


"Belum Qara, Jati belum melewati masa kritisnya. Dokter mengatakan kalau Jati memang sudah bangun, tetapi dia masih belum setabil kondisinya dan masih sangat lemah, sehingga belum ada yang diizinkan masuk ke dalam sana. Tante juga ingin sekali meminta maaf pada Jati. Semua ini karena kesalahan Tante. Tante sangat menyesal." Tangisa Iren kembali terdengar.


"Tante, jangan sedih dan jangan merasa bersalah seperti ini. Semua yang terjadi pada kita di atas muka bumi ini, sudah ditentukan garis takdirnya oleh Alloh. Jadi Tante jangan berpikiran seperti itu. Tante harus tetap kuat demi putra Tante. A Jati pasti sedih kalau lihat Tante menangis seperti ini. Biarkan A Jati istirahat dulu, nanti pasti akan sembuh Qara yakin A Jati itu kuat untuk menghadapi ini semua." Qara mengusap punggung Iren yang masih terisak.


******


Waktu terus berlalu, tanpa terasa hari pun sudah malam. Dan itu tandanya Qara sudah harus pulang, tapi Jati belum juga boleh dijenguk. Sejak pagi Qara hanya berdiri di depan jendela. Ia akan pergi kalau waktunya sholat. Hal itu sangat dimanfaatkan oleh Qara untuk berdoa dengan sangat khusu, mungkin saja Alloh akan mengabulkan doanya.

__ADS_1


"Qara ini sudah malam dari siang kamu belum makan, apa tidak sebaiknya kamu makan dulu," ucap Dewa.


Yah, Dewa pun tidak pergi lagi ia menunggu sampai Qara selesai menjenguk calon suaminya.


"Tidak A Dewa, Qara tidak lapar," balas Qara dengan pandangan mata tidak dialihkan dari Jati yang masih terbaring lemah. Sejak tadi Qara berpikir apa yang ia bisa lakukan agar bisa membuktikan pada Jati kalau dia menyayanginya sangat tulus.


Dewa pun kembali diam. Yah, Qara setiap ditawari makan selalu saja jawabanya tidak lapar, tetapi Dewa juga tidak bisa memaksanya, laki-laki itu sangat tahu bagaimana perasaan Qara saat ini. Sehingga Dewa pun hanya bisa diam dan tidak lagi memaksa Qara makan.


Sebelumnya Qara sudah mengirimkan pesan pada Diki, agar mengabarkan pada abahnya, malam ini Qara sudah memutuskan akan menginap di rumah sakit. Ia sangat yakin kalau Jati akan segera bangun. Sedangkan kedua orang tua Jati pun sudah pulang, karena mereka juga masih punya anak lain yang harus diurus sehingga untuk menjaga Jati di serahkan pada Qara dan Dewa.


Ini adalah kesempatkan Qara agar bisa membuktikan pada orang tua Jati bahwa ia itu tulus mencintai anaknya, bukan karena harta dan lain sebagainya. Jati tulus mencintai Qara, begitupun Qara sangat tulus mencintai Jati.


"A Jati, sekali lagi Qara mohon, bangunlah. Qara janji akan memperjuangkan cinta kita," gumam Qara dengan mengusap kaca jendela, seolah itu adalah wajah Jati.


Qara dan Dewa langsung bergeming ketika dokter berlarian masuk ke ruangan Jati. Jantung Qara semakin tidak menentu takut yang teramat dalam, kalau hal buruk akan terjadi pada calon suaminya.

__ADS_1


"A Jati bertahanlah, perjuangan A Jati tinggal sedikit lagi. Qara yakin A Jati pasti bisa."


__ADS_2