Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Syarat Minta Maaf


__ADS_3

Jati berjalan mendekat ke arah sang istri yang dari mukanya kayaknya asem banget.


"Ada apa Sayang." Jati duduk dengan memeluk tubuh sang istri. "Kenapa tubuh kamu makin ke sini makin wangi yah. Abang suka banget cium tubuh kamu, apalagi kalau kaya gini. Berasa cium minyak wangi." Jati menciumi tubuh sang istri dengan gemas.


"A, jangan kaya gini seolah kamu sedang mencoba menutupi kesalahan kamu. Jangan mengalihkan pembicaraan," balas Qara dengan nada bicara yang ketus. Jati yang sebelumnya tidak pernah melihat Qara seperti ini pun hanya menatap Qara dengan penuh tanya.


"Apa ada yang membuat kamu kesal? Perasaan aku nggak melakukan apa-apa." Meskipun masih ingin mencium sang istri, tapi Jati yang tahu kalau mood Qara sedang tidak baik-baik saja pun hanya bisa diam. Mendengarkan apa yang ingin Qara katakan. Tinggal dengan Qara dan keluarganya cukup lama mengajarkan Jati menjadi orang yang jauh berubah terutama untuk menghadapi masalah.


Kalau dulu Jati adalah laki-laki yang tempramental dan juga laki-laki yang kalau dengar lawan bicaranya berkata-kata yang kurang nyaman membuat Jati langsung naik pitam. Maka sekarang Jati lebih bisa menghilangkan sifat buruk itu dan menjadi lebih sabar.


"Ini lihat, komen-komen mereka, DM mereka. Kenapa tidak A Jati blok saja. Cewek murahan begitu." Qara memberikan ponselnya di mana di sana banyak komen-komen cewek yang gatel. Jati yang penasaran pun langsung membuka apa yang Qara maksud, sontak Jati pun bingung kenapa komen di postingannya sangat tidak sopan.

__ADS_1


"Ya Alloh, Sayang aku tidak tahu kenapa bisa ada komen-komen begini. Apalagi ini DM juga seperti ini. Aku jarang balas komen yang tidak begitu Aa kenal. Kamu percaya kan." Wajah Jati pun langsung berubah, tidak dipungkiri kalau dia memang takut Qara marah. Namun, memang sepertinya Qara sudah benar-benar marah terbukti sang istri diam saja ketika Jati mencoba meminta maaf karena ada cewek-cewek yang kegatelan jadi dia dicemburui sama istrinya.


"Sayang, Aa benar-benar tidak tahu kalau ada cewek yang kaya gitu. Lagian Aa sudah punya kamu yang sudah lebih dari sempurna. Tidak ada lagi alasan Aa untuk cari wanita lain. Kamu sudah membuktikan kalau ada wanita yang benar-benar tulus menerima berandalan ini. Kamu tidak pernah mengeluh meskipun kita pernah berasa di titik paling rendah. Kamu mau menerima Nara dan Noah dengan ikhlas. Kamu adalah bidadai yang Tuhan kirimkan untuk pendamping Mas," ucap Jati dengan serius.


"Pokonya Qara cemburu, meskipun A Jati tidak menanggapinya. Qara tetap cemburu, marah dan kesal, kecuali A Jati traktir Qara makan gudeg," balas Qara dengan menunjukkan wajah yang masih marah dan kesal.


"Hah makan gudeg, beli di mana Sayang? Ini udah malam? Mana ada yang jual gudeg?" Jati melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menujukan pukul sepuluh. Laki-laki itu pun langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Aduh Sayang jangan nangis dong. Iya-iya ini A Jati cari di online," balas Jati, tanganya langsung mengunjungi  aplikasi yang menyediakan jual beli makanan via online. Meskipun dia tidak yakin masih ada yang jual, mengingat ini sudah malam dan toko juga banyak yang tutup.


"Aduh jangan beli online dong A. Kesannya A Jati nggak mau usaha banget buat minta maaf sama Qara." Nah kan Qara sudah mulai mengerjai Jati aura-auranya.

__ADS_1


"Enggak Sayang, Aa hanya cari toko yang buka, setelah itu Aa akan datangi langsung tokonya kok." Jati benar-benar melihat Qara malam itu sangat berbeda. Biasanya kalau ke pasar banyak ibu-ibu atau bahkan penjual yang godain Jati, Qara itu tetap santai, tapi sekarang baper banget.


Qara pun hanya diam saja, tidak banyak protes lagi. Meskipun ia dalam hatinya masih gondok, tapi memang benar juga kalau tidak dicari via online di mana tempat lokasi ada yang jual gudeg yang ada Jati mungkin keluyuran semalaman tidak tahu dapat atau tidak.


"Ya udah tapi cari sampai dapat malam ini kalau nggak dapat aku nggak mau maafin A Jati." Qara pun beranjak dari duduknya dan bersiap untuk ke kamar.


Huhh ... Jati pun membuang nafas kasar, ketika mendengar ucapan sang istri. "Apa iya kalau tidak ada harus ke Jogja," gumam Jati melihat keanehan istrinya. "Bikin juga pasti rasanya tidak enak, lagian siapa yang mau bikin gudeg malam-malam," gumam Jati lagi setelah beberapa aplikasi dia telusuri tidak ada lagi yang jual gudeg.


Kembali Jati menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sudah hampir setengah jam, bahkan ponsel rasanya sampai panas buat cari toko yang jual gudeg. Jati pun memutuskan untuk turun ke bawah, mungkin anggota keluarganya ada yang tahu di mana yang jual gudeg. Asisten rumah tangga atau bahkan karyawa di tokonya tahu di mana yang jual gudeg. Jati pun membuat pengumuman di grup khusus karyawannya. Berharap masih ada yang belum tidur dan berharapnya lagi ada yang tahu di mana jual gudeg.


Emang aneh-aneh aja Qara malam-malam minta gudeg. Udah gitu kalau nggak dapet bakal marah terus sama Jati. Yang salah siapa yang kena marah siapa. Dasar Qara aneh!

__ADS_1


__ADS_2