Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Pasangan yang Romantis


__ADS_3

Mencintai dan dicintai adalah pokok dari sebuah hubungan. Sebuah hubungan tidak akan bahagia kalau yang cinta hanya salah satu saja. Harus imbang dicintai dan mencintai. Begitupun hubungan antara Jati dan Qara. Mereka salin mencintai dan dicintai. Namun, mereka tidak seberuntung yang lainya, restu bagi mereka adalah hal yang sulit diraih. Terutama dari Thomy. Entah alasan apa laki-laki paruh baya itu tidak memberikan restu seperti halnya orang tua pada umumnya, merestui ikatan suci pernikahan untuk anak-anaknya. Thomy justru sebaliknya terlalu takut kalau Qara akan jadi menantu dalam keluarganya.


"Aduh ... aduh ..." Jati meringis kesakitan ketika mereka bergumul di atas pembaringan.


"A Jati kenapa?" tanya Qara, ia langsung duduk dan cemas ketika suaminya meringis kesakitan.


"Kayaknya kita belum bisa bikin dede deh, kaki aku sakit banget." Jati masih memegangi bagian lututnya yang nampak kesakitan.


"Ya udah A, Qara tidak masalah kok. Yang penting A Jati cepat sehat dulu. Masalah gituan kita bisa lakukan nanti kalau A Jati sudah sehat." Qara pun mencoba mengoleskan salep yang diberikan oleh dokter.


"Iya sih kalau dipikir seperti itu. Tapi masalahnya adik kecil terus bangun dan minta dimanja gimana dong." Jati mengedip-ngedipkan matanya agar Qara mengerti maksudnya. Yang sakit bagian kaki dari lutut hingga tulang kering karena ada yang retak, tapi dari lutut, tulang femur hingga atas semuanya sehat. Ya kali hanya luka kecil kaya gitu di tunda.


Qara mengerutkan dahinya bingung dengan apa yang dimaksud oleh Jati. Maksudnya apa coba, kedip-kedip kaya gitu," balas Qara, tidak mengerti apa yang Jati maksud.


"Kamu bisa mulai dengan kamu yang memimpin, dan aku akan pasrah menerima serangan demi serangan dari kamu rasanya itu sangat menarik." Jati langsung memberi tahukan apa yang dia maksud.


Mendengar ucapan Jati dengan suara yang mendayu-dayu, Qara pun langsung melebarkan kedua bola matanya. Maksud A Jati apa, Qara tidak tahu. Kita tidur yuk, udah malam." Qara pun merebahkan tubuhnya di samping Jati.

__ADS_1


"Yah, Sayang kenapa tidur, kamu tidak tahu, di bawah sana sudah ada yang bangun, rasanya tidak akan enak kalau diajak tidur. Bikin kepala pusing dan mungkin justru aku akan terjaga terus hingga pagi." Jati pun menuntun tangan sang istri agar merasakan kalau memang sudah ada yang bangun dan keras.


Deg! Jantung Qara langsung bedetak lebih kencang. Dia bukan anak muda lagi, bahkan dalam sekolah pun sudah pernah dipelajari soal hubungan suami istri, banyak edukasi-edukasi dari guru dan juga teman-teman. Bahkan sebelum nikah Qara juga sudah mempersiapkan ini semua.


Namun ketika menyentuh langsung benda keramat itu rasanya tubuhnya seperti tersetrum aliran listrik yang tinggi. Hingga darah mengalir lebih cepat ke otaknya.  Tangan Jati pun memegang pundak Qara meminta sang istri untuk mendekatnya.


"Kalau tidak dikeluarkan akan sangat sakit, dan aku tidak akan bisa tidur," bisik Jati dengan suara yang mendessah.


"Tapi Qara malu kalau harus memulainya. Ini pertama kalinya bagi Qara melakukan hubungan suami istri, malu A." Dari suara Qara yang bergetar Jati tahu kalau sang istri memang malu untuk memulainya. Dan Jati tentu tahu itu. Jangankan untuk pertama kalinya, bahkan yang sudah lama nikah ada saja yang masih malu untuk memimpin permainan.


Deg ... deg ... jantung Qara benar-benar tidak menentu ketika memegang secara langsung benda yang kata orang paling enak. Dan bahkan banyak yang rela berselingkuh, dan berbuat zina demi merasakan kenikmatan duniawi.


"Jangan malu, kan pahalanya gede," bisik Jati, dan Qara pun membalas dengan senyum kecut.


Aneh dan cukup canggung untuk pertama kalinya, tetapi ia kembali lagi berpikir, benar apa kata suaminya hanya dengan bekerja dari tangan ia sudah mendapatkan pahala.


Malam ini Qara pun sudah berkenalan dengan Mr Jhony, meskipun ia belum merasakannya, tapi setidaknya sudah berkenalan. Bahkan sudah tahu ukuran dan juga bentuknya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Jati, setelah Qara membantu memanjakan adik kecilnya. Hingga sekarang ia tidak lagi sakit kepala.


Qara hanya membalas dengan anggukan kepala.


"Aku sudah yakin, besok kita akan mulai bersandiwara. Besok aku akan mengatakan kalau aku ingin berpisah dengan kamu, dan aku akan memulangkan kamu pada orang tua kamu. Sepertinya besok ucapan aku akan sedikit menyakitkan untuk kamu, tapi aku berharap kamu jangan sakit hati bahkan tersinggung dengan ucapan aku. Tapi percayalah, aku hanya sedang akting agar Papah dan Mamah percaya." Jati mengusap pucuk kepala sang istri dan menciumnya dengan mesra.


"Tapi nanti Qara tinggal di mana, dan Abah sama kedua adik Qara gimana?" tanya Qara, yang ada dalam otaknya bagaimana abah dan kedua adiknya. Ia tidak ingin gara-gara menikah dengan Jati justru abah dan adiknya  akan terancam bahaya.


"Kamu tenang saja, semuanya beres. Untuk tempat tinggal akan aku siapkan tempat tinggal yang nyaman untuk kalian, hanya sepertinya Deva dan Diki harus pindah sekolah."


Yah, tanpa Qara ketahui, Jati sudah menyiapkan rumah yang nyaman untuk Qara tinggal dengan ke dua adiknya, dan tentu itu adalah rumah yang ia beli dari uang pribadinya, bukan warisan dari papahnya. Apalagi Thomy cukup perhitungan dalam materi untuk anaknya. Mungkin niatnya agar anak-anaknya mandiri sehingga Thomy tidak memberikan uang jajan yang berlebih.


"Selama itu aman untuk Deva dan Diki, Qara tidak keberatan." Qara tidak akan lagi berpikir keras kepala, ia akan ikut apa kata suaminya. Qarena Qara tahu Jati juga ingin yang terbaik untuk Qara."


Saat ini Qara hanya punya Jati jadi ia akan menjadi istri yang baik untuk imamnya. Terlebih Jati jauh lebih bisa diandalkan meskipun jarak usianya lebih mudah suaminya. Nyatanya usia hanya simbol kematangan pola pikir tetap tidak ditentukan dari usianya. Buktinya Thomy jauh lebih berumur, tapi pola pikirnya seperti anak-anak.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2