
Di dalam mobil mewah.
"Pah, kenapa Mamah jadi berat banget yah melepas Qara. Sejak Jati kenal Qara, Mamah perhatikan dia jadi berubah sifatnya. Tidak seperti dulu, tapi malah sekarang Jati mau bercerai dengan Qara. Padahal pernikahan mereka baru banget. Belum ada satu bulan. Gimana orang tua Qara nanti menilai kita," ucap Iren memulai obrolan dengan suaminya. Meskipun wanita itu tahu kalau suaminya tidak menyukai Qara.
"Udah lah Mah, yang jalani kan mereka berdua. Mungkin memang itu yang terbaik untuk Jati dan Qara. Lagi pula, cepat atau lambat juga mereka akan cerai. Mungkin lebih cepat lebih baik," balas Thomy, pandangan matanya masih terus terfokus pada jalanan yang sudah mulai padat.
"Ish, Papah ini selalu bicara gitu. Jangan gitu Pah. Kita juga punya anak cewek kalau nanti Nara diperlakukan seperti Qara sama suaminya apa Papah akan terima? Tidak kan, nah itu juga yang terjadi dengan orang tua Qara, mereka juga pasti tidak akan terima kalau Qara dipelakukan seperti itu. Padahal Qara tiak mau melakukan hubungan suami istri itu juga karena Papah yang minta. Andai Papah tidak buat perjanjian itu pasti Jati tidak akan memulangkan Qara pada orang tuanya." Iren justru sekarang berada di pihak Qara, ia sebagai wanita juga ikut sedih melihat nasib Qara.
"Loh, kok Mamah hanya menyalahkan Papah saja, bukanya kita dari awal juga sudah sepakat dengan surat kontrak ini. Jadi Mamah juga ikut andil dalam keputusan kita berdua dong." Thomy tidak mau disalahkan sepihak dong.
"Iya, tapi makin ke sini Mamah makin sadar kalau Qara itu baik. Qara tulus merawat Jati bahkan dia rela dikembalikan ke rumah orang tuanya lagi agar tidak melanggar perjanjian kita. Apa kalau kaya gitu Papah masih ragu kalau Qara adalah cewek yang baik. Mereka sebenarnya saling mencintai hanya saja Papah tidak merestuinya. Mamah jadi kasihan dengan Qara, pasti hatinya sedih banget dengan keputusan sepihak dari Jati. Lalu kalau Jati tahu bagaimana yang terjadi sebenarnya terjadi. Apa nanti Jati tidak marah pada kita?" Iren takut juga kalau anaknya akan kembali marah dan juga akan kembali bertindak bodoh seperti sebelumnya.
"Itu urusan nati saja Mah, biarkan mereka menyelesaikan apa yang terjadi. Papah yakin Jati akan mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari pada Qara. Biarkan Qara menjalani hidupnya sendiri, dan Jati juga menjalani hidupnya sendiri, apalagi umur Qara dan Jati juga beda cukup jauh Jati masih anak-anak cinta yang Jati punya masih cinta monyet. Begitupun Qara, dia tulang punggung keluarga. Kasihan Jati kalau harus kerja banting tulang, sedangkan uang yang dia hasilkan dipakai untuk kebutuhan keluarga istrinya. Jadi Papah tetap setuju mereka pisah."
__ADS_1
Seperti pada obrolan yang sudah-sudah, mereka tidak pernah menemukan kesepakatan bersama. Baik Iren maupun Thomy memiliki pandangan yang berbeda. Dalam batin Iren, sebagai seorang ibu tentu ia ingin kalau Jati bisa mendapatkan bahagia. Karena dalam lubuk Iren ia juga ada rasa bersalah karena tidak pernah memberikan kebahagiaan pada anak-anaknya
Sebagai seorang ibu ia sadar kalau dia selama ini pun tidak pernah memperhatikan anak-anaknya. Ia sadar kalau Jati butuh kasih sayang dan dengan bertemu dengan Qara yang baik dan penyabar tentu Jati langsung nyaman karena ia tahu yang dibutuhkan oleh Jati adalah perhatian dan kasih sayang seperti yang Qara berikan.
**********
Di saat Iren dan Thomy bersitegang gara-gara kabar yang tadi pagi Jati infokan. Di kamar yang mewah, Qara dan Jati justru tengah menikmati keharmonisan. Pasangan suami istri untuk pertama kalinya saling bercumbu penuh dengan kasih sayang.
Qara yang awalnya menolak untuk melayani suaminya karena malu dan alasan lainya, akhirnya luluh dan untuk pertama kalinya memberikan mahkota kesucianya pada laki-laki yang telah menikahinya. Rasa malu itu perlahan pun hilang ketika gelora cinta sudah menguasai. Meskipun ini pertama bagi Qara maupun Jati, tapi tidak menghalangi kenikmatan yang mereka raih.
Nafas mereka masih saling memburu, ketika keduanya baru satau menyelesaikan pendakian yang melelahkan.
"Terima kasih, kamu sudah memberikan hak untuk aku," bisik Jati di balik daun telinga Qara, begitu wanita cantik itu selesai melakukan tugas pertamanya.
__ADS_1
Qara mengulas senyum dari balik wajah yang bersemu merah. "Sama-sama, bukanya ini sudah jadi kewajiban istri jadi tidak usah berterima kasih terus, karena cepat atau lambat pun A Jati akan mendapatkan hak itu," balas Qara dengan suara yang masih tersengal.
"Yah, mungkin seperti itu. Tapi rasanya aku harus tetap mengucapkan terima kasih karena kamu adalah istri yang terbaik," Jati menarik tubuh Qara yang masih polos dan menghujami dengan ciuman mesra.
"Apa kita tidak akan pergi dari rumah ini?" tanya Qara, mereka sudah menghabiskan dua jam waktu untuk olahraga pagi. Dan itu sudah cukup melelahkan untuk Qara. Bukan hanya lelah tapi juga ia merasakan sakit.
Jati menatap jam di dinding kamar mereka. "Kita masih punya banyak waktu sebelum Papah dan Mamah pulang," jawab Jati dengan santai.
"Hist, jangan lah. Qara sudah kangen sama Abah dan juga dua adik Qara. Apa mereka sudah tahu kalau mereka akan diajak pindah oleh Qara ke Jakarta. Nanti kalau mereka ternya menolak bagaimana? Apalagi Abah, kan ada kebon pasti berat meninggalkanya," ucap Qara. Sebenarnya Qara sangat setuju dengan usul Jati, karena Qara juga berpikir kalau tetap tinggal di kampungnya, ia akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tapi juga di kota dia belum mendapatkan pekerjaan pengganti.
Adik-adiknya masih sekolah, tidak mungkin Qara hanya mengandalkan Jati untuk kebutuhan hidup mereka, meskipun Jati berkali-kali bilang kalau laki-laki itu siap menanggung kebutuhan Qara dan keluarganya. Namun, Qara masih ingin memiliki uang pribadi dari hasil kerja kerasnya. Bukan, ia tidak menghargai Jati sebagai suami. Hanya Qara tetap ingat ucapan dari Thomy yang seperti tidak ikhlas karena Qara akan menggunakan uang-uangnya milik anaknya.
Qara ingin membuktikan kalau ia tidak hanya bisa merepotkan suaminya, ia juga bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk kebutuhan pribadi keluarganya.
__ADS_1
Bersambung...
...****************...