
Brakkk... Nara menutup pintu kamar Jati dengan keras. Gadis usia tiga belas tahun itu masih marah pada abangnya yang mengira beneran akan menceraikan kakak iparnya. Sehingga ia pun rasanya sangat kecewa pada abangnya sendiri, karena gadis itu baru saja merasakan bahagia punya kakak ipar yang baik, tapi justru abangnya kembali memisahkan.
Jati sendiri sudah selesai berbicara dengan ke dua orang tuanya. Dan kini ia akan kembali ke kamarnya.
Bertepatan dengan itu Nara pun keluar dari kamarnya. Pandangan Jati dan Nara pun saling bertemu, dapat Jati lihat dari sorot mata Nara kalau ia sedang marah berat pada abangnya.
"Abang kenapa harus ceraikan Kak Qara sih. Apa Abang nggak tau Kakak itu baik, Nara juga suka dengan Kak Qara, tapi kenapa Abang ceraikan Kakak. Abang jahat," jerit Nara, sembari terisak penuh kemarahan. Akhirnya apa yang mengganjal di hatinya pun bisa dilampiaskan pada abangnya.
Dalam batin Jati juga terenyuh dengan Nara yang ternyata sebegitu sayang dan pedulinya pada sang istri. Namun, Jati masih tidak tega pada Qara kalau tetap berada di rumah ini. Jati tahu Qara sangat tertekan dengan ayahnya. Jati tidak tega melihat sang istri yang selalu tertekan, hidup dengan tekanan itu tidak enak. Itu sebabnya ia melakukan sandiwara ini semata karena Jati tidak ingin Qara stres dengan sikap Thomy.
"Udah kamu sekolah sana. Jangan ikut campur dengan urusan orang gede. Nanti juga kamu bakal tahu apa yang Abang lakukan semata demi kebaikan kita," balas Jati, kali ini ia berbicara lebih lembut. Karena laki-laki itu sejujurnya juga tidak tega pada sang adik bungsunya. Yah, Jati tahu Nara selama ini kurang kasih sayang, sama seperti yang Jati dan Noah rasakan sehingga begitu bertemu dengan Qara yang penyayang tiga orang itu langsung nyaman. Termasuk Noah, hanya saja Noah tidak terlalu menunjukkan seperti Nara, karena dia itu laki-laki sehingga bisa menyembunyikan rasa nyamannya. Berbeda dengan Nara yang justru langsung nempel banget dengan Qara dan menunjukan satu sama lain rasa nyamannya.
Qara juga mungkin karena adik-adiknya laki-laki sehingga ketika bertemu dengan Nara yang sama-sama perempuan langsung nyaman untuk curhat.
__ADS_1
"Bukan kebaikan kita, tapi kebaikan Abang. Abang jahat. Abang egois," jerit Nara sembari menangis. Gadis usia tiga belas tahu itu justru lari ke kamarnya. Ia memilih tidak sekolah. Toh mamah dan papahnya juga tidak pernah memperdulikan mereka.
Jati pun menatap Nara yang lari ke lantai dua di mana di sana kamarnya berada. "Kasihan kamu Nara, tapi maafkan Abang. Percayalah Abang melakukan ini terpaksa. Abang nggak bisa melihat kakak ipar kamu tertekan oleh sikap Papah. Abang nggak bisa melihat Qara terus-terusan ditekan. Dia juga butuh kebahagiaan, dan bahagia Qara bukan di rumah ini," batin Jati. Dengan pandangan mata masih menatap pintu kamar adiknya.
Jati yakin kalau Nara sedih paling hanya sebentar setelahnya ia akan kembali ceria. Ia hanya terlalu cemas dengan Qara sehingga marah seperti itu. Nanti juga kalau Qara sudah tidak ada di rumah ini Nara akan kembali mandiri dan tidak manja lagi.
Jati kembali menggerakkan kursi rodanya membuka pintu kamar dan di sana Qara sedang duduk di samping tempat tidur, dengan wajah yang muram. Pandangan Jati dan Qara pun saling bertemu.
Qara membuang nafasnya kasar. "Qara hanya kepikiran Nara, kasihan dia anak yang baik tapi justru dia harus jadi korban sandiwara kita. Gimana kalau Nara beneran marah dengan kita dan dia jadi anak yang murung. Apa kita katakan saja apa yang terjadi pada kita, dan terkhusus untuk Nara tidak apa-apa dia tahu rumah Qara, kasihan dia anak yang manis dan baik," Sama halnya dengan Jati, Qara juga tidak tega dengan Nara yang sedih kehilangan kakak iparnya.
"Jujur aku juga merasakan seperti itu. Kasihan dia anak yang kurang kasih sayang, sehingga ketika bertemu dengan kamu dia sangat senang, tapi sekarang baru juga dia merasa nyaman sekarang harus dipisahkan dengan kamu. Tapi aku juga takut nanti Nara malah keceplosan dan Papah dan Mamah malah tahu fakta yang terjadi dengan kita, malah bahaya. Jadi sekarang biarkan dulu Nara tidak tahu, tapi kalau dia masih marah dan ngambek. Mungkin nanti kita pertimbangkan lagi. Udah jangan sedih Nara baik-baik saja." Jati menggenggam tangan Qara yang terasa dingin. Yah, dari tadi Qara merasa takut kalau Thomy akan masuk ke kamar ini.
Beruntung ketakutannya tidak terjadi. Thomy tidak datang ke kamarnya yang tandanya ia tidak harus merasa takut lagi seperti tengah uji nyali di ruangan yang angker.
__ADS_1
"Udah jangan sedih lagi. Lebih baik kita berpelukan. Atau kita mau coba di kamar ini bikin dedek?" goda Jati dengan mencium tangan Qara, di mana wanita cantik itu masih murung wajahnya.
Qara tersenyum dengan manis.
"Gini saja lebih baik A Jati sembuh, baru kita bikin keponakan cewek untuk Nara mungkin dia akan senang kalau dapat ponakan cewek. Sekarang A Jati sembuh dulu aja yah." Qara tersenyum jahil dan mengedip-ngedipkan kedua matanya seperti orang kelilipan.
"Kenapa harus tunggu nanti kalau sekarang bisa." Jati menarik tangan Qara agar duduk di atas pangkuannya.
#Nah loh Jati jangan macam-macam nanti malah encok lagi.....
Bersambung....
...****************...
__ADS_1