
Tidak banyak yang berubah dari hari-hari Qara, hampir setiap hari wanita itu hanya disibukan dengan orderan yang masuk. Bahkan sejak ia menjadi pengusaha rumahan yang menjual pancake dan risol mayo. Wanita berhijab itu hampir tidak pernah ke luar rumah. Selain karena kesibukannya. Ia juga hampir tidak pernah ke luar rumah dengan alasan tidak suka dengan keramaian. Nyatanya ia memang tahu batasan sebagai seorang istri yang sedang berjauhan dengan suaminya.
Ia menjaga agar tidak ada finah nantinya. Kini Qara pun sedang mejaga kesetiaan dirinya, dan agar tidak ada ucapan yang aneh-aneh dengan dirinya. Lagi pula Qara juga baru di Jakarta dan belum banyak tahu kota ini dan ia juga belum banyak temannya.
Di tempat lain pun sama Jati yang sedang berjuang untuk bisa berjalan perlahan, tapi pasti ia pun sudah makin lancar jalanya. Bahkan untuk aktifitas di rumah ia sudah banyak berjalan. Hanya kalau ke kantor laki-laki itu tetap menggunakan kursi roda. Namun, kalau di rumah ia berjalan hanya di kamarnya.
Yah, Jati masih ingin merahasiakan kesembuhannya. Termasuk pada ke dua adiknya dan ke dua orang tuanya. Tentu Jati meminta Deril juga merahasiakan kesembuhannya.
Hari ini rencananya ia akan berkunjung ke rumah Qara. Sudah dua bulan lebih ia tidak berkunjung ke rumah sang istri. Selain rindu dengan celoteh Qara yang semakin berani saat di telepon. Ia juga ingin setor bibit unggulnya agar cepat menjadi Jati junior. Dua bulan bagi laki-laki yang sudah berumah tangga jelas waktu lebih dari dua bulan adalah waktu yang sangat lama.
"Ril, kamu hari ini pulang sendiri saja yah. Aku ada urusan di luar," ucap Jati ketika Deril dan Jati sudah waktu pulang kerja.
Mendengar ucapan Jati, Deril sebagai asisten pribadi sekaligus yang bertanggung jawab atas keamanan Jati pun menatap serius dengan ucapan Jati.
"Anda mau ke mana Bang?" tanya Deril yang kali ini memanggil Jati dengan sebutan Abang. Laki-laki itu yang meminta agar Deril memanggilnya abang, Jati lebih nyaman dengan panggilan itu dari pada tuan atau aden. Tidak nyaman itu yang Jati rasakan ketika ada yang memanggil dengan sebutan seperti itu.
"Ada urusan di luar. Kamu tidak perlu tahu," balas Jati tanpa melihat ke arah Deril. Laki-laki itu sedang bertukar kabar dengan istri tercintanya.
"Lalu nanti kalau saya ditanya oleh Tuan Thomy, saya harus jawab apa?" tanya Deril dengan suara lirih dan tentu ia sudah merasakan takut, karena Thomy kalau marah pasti akan mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas untuk didengar.
"Kamu bisa mengatakan kalau aku sedang ada urusan, dan kalau ditanya lebih lanjut kamu jawab kalau aku sudah besar jangan diikut campuri lagi. Kamu juga bisa lihat kan kalau aku itu baik-baik saja. Aku sudah bisa jalan jadi aku rasa juga tidak butuh kamu lagi." Bukan maksud Jati tidak menghargai Deril, tapi ia tidak suka pada Deril yang terlalu nurut dan patuh dengan ayahnya. Deril sangat sulit untuk diajak kerja sama.
__ADS_1
Deril masih diam, ia pun hanya diam dan memikirkan ucapan Jati.
"Kamu tenang saja, Papah tidak akan marah pada kamu. Biar aku nanti bicara dengan Papah. Kamu boleh bawa mobil aku, dan aku akan naik taxi." Jati pun langsung berdiri dan melangkah kaki lalu duduk di kursi roda. Yah dari sekian banyak orang hanya Deril dan dokter Darius yang tahu kalau Jati sudah sembuh.
Seperti biasa Deril akan mendorongnya. Sebenarnya Jati bisa saja, berjalan seperti orang lain. Toh kaki dia sudah sembuh dan di rumah pun ia sudah berjalan seperti biasa. Hanya saja, Jati tidak ingin buru-buru mengabarkan kabar bahagia ini pada seluruh karyawannya.
Yah, alasanya adalah ia tidak ingin kalau karyawannya banyak yang suka dengan dirinya apalagi sekarang sudah bisa berjalan dengan normal. Bahkan banyak bibit-bibit wanita genit. Terlebih semua orang tahunya Jati adalah seorang duda. Duren sakit, sudah keren sarang duit seperti itu kira-kira sebutan untuk Jati. Namun saya dia duda hanya sandiwara.
Menjaga cinta Qara, lagi-lagi itu alasan yang Jati lakukan hingga kini masih betah melakukan aktivitas dengan menggunakan kursi roda. Ia ingin tetap terlihat cacat agar Qara tidak banyak pesaingnya. Ia akan menujukan kaki normalnya hanya di hadapan Qara.
Deril terus mendorong kursi roda Jati hingga ke taxi yang sebelumnya sudah dipesan oleh Jati.
"Kamu tenang saja Deril. Aku bukan anak kecil," balas Jati dengan santai. Sedangkan pikiran Deril adalah orang tua Jati belum tahu kalau anaknya sudah bisa jalan. Sehingga Deril cemas kalau mereka akan marah lebih parah karena membiarkan Jati pergi seorang diri.
"Jalan Pak." Jati menepuk supir taxi, padahal Deril belum menutup pintu mobil yang belakang. Deril yang mendengar ucapan Jati pun hanya bisa pasrah.
"Pak titip bos saya yah. Kalau ada apa-apa Anda bisa hubungi saya." Deril akhirnya pasrah dan memberikan kartu namanya pada sopir taxi yang akan membawa bosnya.
"Baik Mas," balas sang supir dengan sopan, sembari mengambil kartu nama yang Deril berikan.
"Dasar lebai," gerutu Jati dengan menatap sengit pada Deril yang di nilai terlalu berlebihan.
__ADS_1
Deril sendiri pun membuang nafas kasar ketika taxi yang membawa Jati perlahan pergi meninggalkanya. Laki-laki itu menyiapkan mental kalau-kalau ia akan dimarahi oleh dua bosnya. Yah Thomy dan Iren yang pasti akan marah pada Deril karena membiarkan Jati pergi seorang diri. Mana Deril tidak tahu kira-kira Jati akan pergi ke mana.
*******
Sementara itu Jati sendiri setelah menempuh perjalanan hampir satu jam kini sudah sampi di rumah yang pastinya sangat ia kenal. Rumah yang dulu sepi karena tidak berpenghuni, kini disulap menjadi rumah yang tidak ada hentinya. Hampir setiap saat ada saja, ojek online yang siap mengantarkan dagangan sang empunya rumah. Dari dalam mobil Jati mengulum senyum bangga ketika melihat kalau sang istri kini sudah menjadi wanita yang sukses.
Jati dengan dibantu supir taxi pun turun menggunakan korsi roda. Yah, ia ingin memberikan kejutan pada sang istri kalau ia sudah bisa berjalan, tetapi untuk memuluskan rencananya tentu dia harus berpura-pura masih cacat.
"Sudah sampai sini saja Pak, biar saya masuk sendiri saja," ucap Jati pada sopir taxi yang membantu mendorong korsi rodanya. Jati memberikan bayaran dan tips untuk sopir taxi. Lalu ia menggerakan roda otomatisnya dengan memencet tombol yang ada di samping kanan pegangan kursi rodanya.
Ia masuk ke rumah Qara dan langsung bertemu dengan Deva.
"A Jati_" Deva memekik bahagia ketika melihat Jati datang, tetapi Deva langsung menutup mulutnya ketika Jati meletakan telunjuknya di depan bibirnya. Yah, Deva yang tahu kode itu pun langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Teteh ke mana?" tanya Jati pada adik iparnya dengan suara setengah berbisik.
#Cie yang mau setoran bahagia banget ....
bersambung....
...****************...
__ADS_1