
Dengan hati yang bercampur aduk, Qara terus mendengarkan penjelasan Dewa tentang kondisi sahabatnya.
"Tapi apa A Jati ada kemungkinan sembuh A Dewa?" tanya Qara dengan perasaan yang campur aduk. Dalam hatinya ia benar-benar di selimuti dengan perasaan bersalah. Qara sangat yakin apa yang terjadi pada Jati itu ada ikut andil dari perbuatannya. Andai ia tidak mengikuti kemauan papahnya Jati dan di mana ia mau untuk meninggalkan Jati. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini, itu yang ada dalam pikiran Qara saat ini.
"Aku tidak mau mendahului takdir Tuhan, tetapi bukanya sebagai hamba kita tidak ada salahnya kalau terus berusaha agar Jati tetap sembuh?"
"Kalau gitu, A Dewa tunggu di sini dulu yah. Qara mau pamit sama Abah, takut nanti Abah nyariin Qara."
Setelah mendengar jawaban dari Dewa, Qara pun tidak membuang waktu lama ia langsung pergi menuju kebon di mana abahnya sedang bekerja. Sementara Dewa menunggu Qara di depan rumahnya.
*****
Sesampainya Qara di kebun, ia langsung mengutarakan apa yang menjadikanya pergi ke kebon di siang hari.
"Jati kecelakaan?" tanya Abah, kaget. Apalagi setelah Qara mengatakan kalau Jati kondisinya cukup parah, dan sampai saat ini belum sadar.
"Iya Bah, Qara ingin melihat kondisi A Jati," ucap Qara sekali lagi.
"Kamu nanti berangkatnya sama siapa? Apa orang itu orang baik?" tanya Abah, sebagai orang tua tentu ia sangat takut kalau anaknya kenapa-kenapa. Bahkan diberita dan tivi-tivi sudah banyak orang yang jahat karena tidak saling kenal. Bahkan ada yang di bunuh. Sehingga sebagai orang tua Abah perlu memastikan kalau apa yang ia lakukan adalah demi kebaikan putrinya.
__ADS_1
"Sama Dewa Bah, dia teman baik A Jati, A Dewa jemput Qara karena kasihan lihat A Jati, mungkin dengan Qara datang A Jati bisa sembuh," jawab Qara dengan sangat berharap kalau abahnya mengizinkan untuk pergi menjenguk Dewa.
"Ya udah, tapi kamu tetap harus hati-hati kamu tidak boleh terlalu percaya sama orang lain. Tetap waspada dan jaga diri. Abah belum bisa pulang karena kerjaan belum selesai, tapi sampaikan salam Abah untuk Jati." Abah bersiap untuk melanjutkan pekerjaanya.
"Baik Bah, nanti Qara sampaikan salam Abah untuk A Jati," balas Qara, setelahnya wanita berhijab itu pun kembali ke rumah dan bersiap untuk mengunjungi Jati. Setelah berpamitan pada adik-adiknya Qara pun ikut bersama Dewa untuk menjenguk kekasihnya yang masih belum sadar.
Sepanjang perjalanan Qara pun tidak banyak berbicara pikiranya benar-benar tidak karuan ia tidak bisa membayangkan kalau sampai terjadi hal-hal buruk pada Jati pasti ia akan merasa sangat bersalah, pasalnya hanya Jati yang selama ini baik dengan Qara.
Meskipun mereka terpisahkan dengan jarak, dan kesibukan, tetapi hampir setiap hari Jati memberikan kabar pada Qara dan selalu bertukar pesan memberitahukan kegiatanya apa saja dan masih banyak yang dilakukan oleh Jati untuk membuat Qara terhibur.
*******
Pasangan suami istri diam tanpa kata berdiri di depan jendela kaca, mereka saling mengunci mulut masing-masing, pandangan matanya terus memperhatikan kondisi Jati yang sangat lemah. Tangan Iren sesekali mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi. Hatinya hancur ketika melihat anak yang dilahirkannya tidak berdaya seperti ini.
Dokter barusan mengatakan kalau Jati sudah sadar, tetapi karena kondisinya yang sangat lemah sehingga untuk beberapa waktu belum ada yang diperbolehkan untuk menjenguk ke dalam ruanganya. Kondisi Jati sangat lemah sehingga benar-benar dibutuhkan pantauan medis.
Sepatah kata pun tidak ke luar dari bibir Iren maupun Thomy. Jelas yang Iren lakukan adalah bentuk protes yang ia lakukan karena Thomy yang mengakibatkan Jati seperti ini. Sedangkan Thomy diam karena tidak ingin bertengkar dengan istrinya. Cukup di rumah saja bertengkar tidak di tempat umum. Meskipun Thomy ingin sekali memulai obrolan dengan Iren.
"Tuan, Nyoya, salah satu dari kalian dipanggil dokter Darius," ucap salah satu perawat yang datang menghampiri Iren dan Thomy.
__ADS_1
"Antarkan saya ke ruangan dokter Darius, Sus." Iren langsung mengambil alih, tidak mau kalau Thomy yang menemui dokter Darius.
"Mari Nyoya."
Iren mengekor di belakang wanita cantik yang berseragam perawat.
"Masuk!!" Terdengar suara dokter Darius yang meminta Iren masuk. Dengan perasaan yang tidak karuan Iren pun masuk dan bersiap mendengarkan hasil dari pemeriksaan keseluruhan yang dijalani oleh Jati.
"Selamat pagi Dok, saya Iren. Orang tua atas pasien bernama Jati yang kecelakaan semalam," sapa Iren dengan sopan.
"Selamat siang Nyonya Iren. Maksud saya memanggil Anda adalah ingin menjelaskan kondisi putra Anda dan segala resiko yang mungkin saja terjadi akibat kecelakaan hebat yang dialami oleh putra Anda."
"Baik Dok, jelaskan saja. Saya siap terima apapun itu kemungkinan terburuknya, tetapi saya mohon tetap lakukan yang terbaik untuk anak saya," ucap Iren dengan mata berkaca-kaca. Selama ini ia memang kurang dekat dengan Jati, tetapi bukan berati Iren membenci Jati. Iren sayang dengan putranya. Ia tahu sebagai anak muda Jati ingin belajar mencari jati dirinya. Sehingga Thomy dan dirinya selalu menilai negatif karena ternyata yang Jati inginkan tidak sejalan dengan apa yang harapkan oleh ke dua orang tuanya.
Sebagai orang tua tentu ingin anaknya sekolah dan membantu bisnis keluarganya, terlebih Jati adalah anak sulung. Namun, ternyata keinginannya tidak sejalan dengan apa yang Jati lakukan, ia malah malas sekolah dan selalu pergi dan pulang sesukanya. Sehingga baik Iren maupun Thomy marah dan kecewa dengan perbuatan Jati. Semua yang dilakukan Jati salah di mata Iren dan suaminya.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1