
"Syarat? Kalau boleh tahu syaratnya apa? Mungkin saja aku bisa mempertimbangkanya?" tanya Jati dengan serius.
"Qara ingin selama kita belum mendapatkan restu terutama dari orang tua A Jati, Qara ingin kalau A Jati dan Qara tidak melakukan hubungan suami istri."
Deg!! Jati nampak tidak setuju. "Kenapa kaya gitu?" tanya Jati heran dong, masa sudah menikah tidak bisa nunu nana apa tidak pusing kepala Jati.
"Qara ingin semua yang kita jalani atas ridho dari orang tua agar semuanya berkah dan barokan," balas Qara dengan yakin.
Mendengar syarat dari Qara tentu Jati tidak langsung menjawab. Berat pastinya yang Jati rasakan. Masa memiliki istri, tapi tidak bisa bercinta kan sangat aneh dan lucu. Ia laki-laki normal ya kali bisa tahan kalau satu ruangan terus dengan wanita yang dicintainya tanpa bermain dokter-dokteran. Sekarang saja sudah sesak terus di bawah sana, apalagi kalau hampir setiap hari bersama dan dirawat oleh Qara pula. Iman siapa yang bisa kuat melawan godaan yang sangat berat.
"Apa tidak ada syarat lain Qara? Syarat dari kamu sangat berat jujur aku tidak bisa lah tahan puasa tidak menyentuh kamu sampai waktu yang tidak ditentukan," tanya Jati dengan suara yang berat. Suasana ruang pun semaki hening.
"Tidak ada A. Syarat dari Qara hanya satu. Inilah ujian perjuangan cinta kita kalau A Jati memang benar-benar cinta dengan Qara pasti A Jati tidak akan keberatan. Bukankah cinta butuh perjuangan? Dan sekarang Qara sedang berjuang untuk hubungan kita, tolong kalau A Jati memang cinta dan sayang dengan Qara, A Jati juga harus mau berjuang bareng-bareng dan menerima syarat dari Qara."
Mendengar ucapan Qara, Jati pun kembali sadar bahwa cinta memang butuh perjuangan. "Baiklah aku akan berjuang demi restu orang tua aku." Yah, pada akhirnya Jati menyerah juga, dan menerima syarat dari Qara.
Qara mengulas senyum bahagia. "Kalau gitu A Jati bicara dengan orang tua A Jati, dan Qara akan berbicara dengan Abah, kalau ke dua orang tua A Jati setuju maka kita akan secepatnya menikah," ucap Qara tanpa basa-basi.
Basa-basi untuk hubungan yang tidak serius untuk hubungan yang serius maka udahan secepatnya.
"Baiklah nanti aku akan langsung ngomong dengan Mamah dan Papah, dan kalau mereka setuju aku akan kabari kamu secepatnya."
__ADS_1
Lagi, Qara hanya membalas dengan senyuman. "Ingat lebih cepat lebih baik, agar Qara bisa mengurus A Jati, mau emang A Jati dirawat oleh orang lain," goda Qara dengan kembali menyuapkan bubur yang sudah dingin.
"Ya enggaklah kamu adalah satu-satunya perawat untuk aku, dan selamanya bukan hanya perawat untuk aku tapi juga untuk anak-anak kita nantinya," ucap Jati dengan yakin. Sedangkan Qara hanya bisa membalas dengan senyum getir.
Biarkan Jati merangkai mimpi indahnya ia tidak ingin merusak mimpi Jati, sedangkan Qara saat ini hanya perlu fokus merawat Jati. Ia sudah menganggap kalau merawat Jati adalah bekerja, lagi pula lumayan gajihnya lima juta lima kali lipat dari gajih dia sebagai pengajar anak-anak TK. Setidaknya Qara tidak terlalu rugi. Ia bisa membantu pendapat yang lebih untuk keluarganya.
Qara dan Jati pun terus mengobrol serius terutama dengan pernikahanya.
"Ehemz ....." Suara deheman dari Iren yang baru masuk dengan membawa beberapa kantong makanan pun cukup mengagetkan Qara dan Jati.
"Kalian sedang ngomongin apa kayaknya serius banget." Iren menghampiri Jati dan memberikan senyum tipis pada Qara, sedangkan Qara pun membalas dengan memberikan senyum tipis juga dan anggukan kepala dengan ramah. Namun, Qara tidak mau terpesona dengan senyuman calon mertuanya, karena Iren dan Thomy adalah dua orang yang sama-sama tidak menyukai dirinya. Jadi Qara tidak bisa terbuai dengan kebaikan Iren. Apa yang Iren dan Thomy lakukan pada dirinya di hadapan Jati hanya pencitraan, itu yang Qara tahu. Sehingga membentengi diri agar tidak terlalu terbuai dengan harapan adalah cara paling baik, agar tidak terlalu sakit hati nantinya.
"Kami sedang ngobrol serius Mah." Jati menatap Qara seolah tengah meminta perizinakan dari Qara agar berbicara masalah yang tadi mereka bahas pada orang tuanya saat ini juga. Dan Qara memberikan anggukan sebagai tanda persetujuan.
"Mah, kalau Jati menikah dengan Qara apa Mamah akan merestuinya?" tanya Jati dengan suara lirihnya. Padahal sebelum Jati meminta izin pada Iren, terlebih dulu Qara sudah meminta izin dengan dirinya dan juga dengan suaminya.
Kini gantian Qara dan Iren yang terlibat tatapan serius, kali ini Qara memberikan kode dengan mengedipkan matanya cukup lama, sebagai tanda kalau Qara meminta Iren mengikuti permainanya.
"Apa Qara mau menikah dengan kamu dengan kondisi kamu seperti ini Sayang?" tanya Iren, mengikuti permintaan Qara.
"Saya mau Tante, saya mau menjaga A Jati." Qara langsung menyela ucapan Jati, seolah mereka belum terlibat obrolan sebelumnya. Qara mengulas senyum ia akui ekting Iren sangat natural.
__ADS_1
"Kalau Mamah setuju yah, tapi tidak tahu Papah," jawab Iren. Mereka benar-benar bersandiwara dengan sangat apik.
"Mah, Jati tahu Papah pasti tidak akan dengan gampang mengizinkan Jati untuk menikah dengan Qara. Jati mohon Mamah coba berbicara dari hati ke hati dengan Papah dan mungkin Papah akan percaya mau dengan omongan Mamah, Jati mau menikah dengan Qara."
Lagi, Iren memerankan ektingnya dengan apik, wanita paruh baya itu tampak berpikir dengan sangat keras, dan mencoba menimang apakah ia akan menerima permintaan dari putranya atau tidak.
Sedangkan Qara dalam hatinya tertawa melihat calon mertuanya yang ternyata pandai berekting.
"Ayolah Mah, emang Mamah mau melihat Jati tidak bahagia?" rengek Jati seperti anak-anak. Laki-laki itu bisa bersikap sangat dewasa di depan Qara, tapi kalau di hadapan Iren sangat manja.
"Baiklah nanti Mamah akan bantu ngomong dengan Papah, dan kamu Qara lebih baik kamu juga pulang dan minta izin dengan keluarga kamu, agar pernikahan ini cepat dilaksanakan." Iren mengedipkan mata pada calon menantunya. Agar Qara juga mengikuti permainannya.
"Baiklah Tante Qara akan pulang dan meminta izin pada Abah," balas Qara dengan suara yang lembut sedangkan Jati langsung tersenyum lebar dengan ucapan mamahnya. Ia menganggap ini adalah pernikahan sungguh-sungguh, padahal tanpa Jati tahu ada kontrak yang harus Qara patuhi, agar bisa merawat dirinya.
"Terima kasih Mah. Jati sayang sama Mamah." Iren pun membalas dengan anggukan. Sedangkan Qara mencoba membangunkan Dewa yang masih pulas tertidur. Benar-beanr pulas sampai tidak dengan kegaduhan di kamar Jati.
#Dewa, kamu tidur apa materi? 🙃
Bersambung....
...****************...
__ADS_1
Sembari nunggu A Jati dan Teh Qara nikah mampir ke Mbak Gatot dan Om dokter yuk, di jamin gak kalah seru...