Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Pertanyaan dari Abah


__ADS_3

"Setelah mematikan Dewa pulang, Qara pun langsung masuk ke rumahnya dan bergegas untuk bersih-bersih sholat lalu ia memilih untuk tidur. Tubuhnya selama di rumah sakit tidak bisa tidur sehingga saat ini Qara ingin menggunakan waktu dengan baik. Istirahat yang cukup untuk menghadapi kehidupan yang mungkin kedepanya akan sangat melelahkan. Tidak harus menunggu waktu lama Qara pun sudah pulas menyusuri alam mimpi. Lelah dan banyak pikiran membuat Qara dari kemarin sulit tidur.


Entah berapa jam Qara tertidur, dan ia baru terbangun ketika mendengar suara abahnya, dan adik-adiknya. Setelah bangun tidur Qara pun merasa jauh lebih baikan. Ia pun beranjak dari tempat tidur seadanya dan bergegas ke dapur. Yang sudah bisa Qara tebak adik-adiknya yang sedang masak.


Yah, Meskipun Deva dan  Diki adalah laki-laki, tapi untuk masak dan beres-beres rumah mereka sudah pintar dan itu sebabnya Qara tidak takut abah dan adik-adiknya akan kelaparan kalau ia bekerja di Jakarta karena kedua adiknya pun rajin-rajin.


Sesuai yang Qara bayangkan adik-adiknya sedang memasak dengan sangat lihai.


"Loh, Teteh udah pulang?" tanya Deva. Begitupun Diki dan abahnya langsung menatap ke arah Qara.


"Udah dari tadi, ini baru bangun tidur." Qara memilih duduk di dipan( Kursi dari bambu) karena matanya masih berat.


"A Jati bagaimana kondisinya Teh?" Kali ini Diki yang bertanya.


"Parah emang luka Jati, Ra?" Tidak mau ketinggalan Abah juga langsung menayakan kondisi Jati.


"Cukup parah Bah, kakinya untuk sementara tidak bisa digunakan berjalan karena ada keretakan, dan tulang rusuk ada yang patah dan melukai hatinya, kemarin udah di operasi dan sekarang sudah sadar, tapi belum bisa dikatakan baik-baik saja, karena baik hati dan kakinya harus banyak yang dilakukan pengobatan, dan terapi.


"Astaga. Kok ngeri banget Teh. Terus sekarang A Jati sudah pulang ke rumahnya?" tanya Diki lagi.


"Belum lah Dik, baru juga ke luar dari Icu semalam, mungkin satu apa dua minggu baru bisa pulang. Itu pun harus melewati banyak pemeriksaan dulu baru boleh pulang. Setelah menjawab pertanyaan sang adik Qara pun menatap abahnya yang bisa Qara artikan kalau abahnya pun juga nampak sangat serius ikut cemas dengan keadaan Jati.

__ADS_1


"Abah nanti Qara akan ngomong sesuatu dengan Abah yah," ucap Qara yang melihat abahnya masih lelah.


Abah pun menatap putrinya bingung. "Mau ngomong apa sih, kok kayaknya serius banget. Ya udah ngomong sekarang aja. Kenapa mesti nanti," balas Abah, dengan penasaran.


"Nanti aja Bah. Lagian Abah Pasti sedang cape juga kan," balas Qara, dan kini Qara pun memilih membantu ke dua adiknya masak. Biasanya yang masak selalu Qara, pasti nanti kegiatan seperti ini akan sangat Qara nanti-nantikan, dan tentunya akan sangat rindu dengan kebersamaan ini. Karena ketika Qara merantau ke Jakarta, adik-adiknya yang akan menggantikan tugas-tugasnya.


*******


Setelah Isa, Qara pun sudah bersiap akan ngomong pada Abahnya ia saat ini sedang nonton TV bareng dengan dua adiknya. Sedangkan abahnya masih ada di mushola, biasanya abah memang selalu ngobrol dulu dengan para tetangga, sementara dua adik Qara yang memang selalu ikut sholat di mushola begitu sholat sudah selesai maka mereka akan langsung pulang.


"Emang mau ngomong apa sih Teh?" tanya Diki, di mana ia saat ini sudah SMA sehingga sudah sangat paham dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Qara.


"Nanti juga kalian tahu kok," jawab Qara dengan tetap bersikap tenang, tetapi tidak dengan duduknya yang sejak tadi Qara duduk tidak dengan tenang. Yah, gadis berhijab itu takut kalau ia akan salah jawab nantinya. Meskipun Qara sudah menyiapkan segala jawaban atas kemungkinan pertanyaan yang akan abahnya tanyakan.


"As'salamuallaikum ...." Suara orang yang ditunggu-tunggu oleh Qara pun sudah datang. Namun justru membuat Qara semakin tidak tenang.


"Wa'alaikumussalam," jawab Qara dan ke dua adiknya secara bersamaan.


"Duh si Abah ditungguin sama Teteh lama banget uwihna. Tingali tah Teteh sampai kesangan (Lihat tuh Teteh sampai keringatan)." Diki meledek Qara yang nampak berkeringat.


"Apaan sih Diki, keringatan wah wajar kan gerah," balas Qara ngeles.

__ADS_1


"Iya we lah." Diki pun membalas dengan senyum meledek pura-pura. percaya aja pokoknya.


"Ada apa sih Ra, kok kayaknya penting banget?" tanya Abah setelah menyimpan peci dan membuka baju koko dan menggantungkan di paku. Abah pun langsung duduk bersender ke bilik dengan memakai kaos dalam yang sudah lusuh.


Qara justru bukanya buru-buru menjawab apa yang abahnya tanyakan. Ia justru menatap kedua adiknya dan juga abahnya secara bergantinya. Ternyata yang penasaran bukan hanya abahnya tetapi Diki dan Devi juga penasaran kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Qara.


"Ayu atuh Teh enggal ngomong." Deva yang sudah menunggu pun tidak sabar, ingin kakaknya cepat memulai obrolan.


"Sabar naha, iyeu keur mikir," balas Qara. Ia memang benar-benar sedang mikir kira-kira dari mana dia mulai obrolan penting ini.


"Bah, kalau Qara nikah dengan A Jati, apa Abah setuju," ucap Qara dengan suara yang lirih. Ada rasa lega di hati Qara karena ia pada akhirnya bisa juga memulai untuk meminta izin menikah dengan abahnya. Setelah pertimbangan dan kesiapan yang cukup membuat Qara pusing.


"Hah, nu bener Teh."


"Laina A Jati nuju sakit."


Diki dan Deva pun tidak kalah kaget. Qara juga bisa melihat kalau abahnya sangat kaget.


"Alasanya kamu mau nikah dengan Jati apa, bukanya Jati sakit? Orang tua Jati bagaimana? Setuju atau tidak? Dan buat Jati sendiri bagaimana?" cecar Abah membuat Qara harus hati-hati menjawabnya. Salah jawab bisa-bisa Qara tidak akan mendapatkan restu dari abahnya.


Qara sih wajar abahnya bertanya seperti itu karena memang ia adalah anak pertama dan wanita satu-satunya dalam keluarga,.pasti abah ingin yang terbaik untuk putrinya. Bersyukur Qara sebenarnya karena itu tandanya sang abah tidak ingin anaknya sedih, sehingga memilihkan calon suami dengan sangat baik, dan jangan salah pilih.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2