Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Nasihat dari Dewa


__ADS_3

"Aku tetap dapat uang bulanan. Jadi setatus aku tetap pekerja di mata mereka hanya pernikahan ini agar aku bisa dengan halal menyentuh tubuh A Jati, dan untuk syaratnya. Pernikahan aku dan A Jati semacam pernikahan kontrak. Yang mana masa kontrak aku dan A Jati selesai kalau A Jati sudah sembuh, dan selama masa kontrak aku tidak bisa melakukan hubungan suami istri kalau itu terjadi apalagi sampai aku hamil maka kontrak akan langsung terputus, alias aku harus meminta cerai." Qara mencoba menjelaskan syarat apa yang ia sepakati bersama orang tua Jati.


"Perjanjian macam apa itu. Gila itu Qara. Kamu jangan mau sepakat dengan syarat gila seperti itu." Dewa saja langsung tidak setuju begitu mendengar penjelasan dari Qara. Dewa menatap pada Qara yang mana saat ini sedang menunduk seperti merasa bersalah.


"Apa jangan-jangan kamu sudah setuju dengan semua ini," tanya Dewa, di mana Dewa sendiri sebenarnya sudah sangat yakin kalau jawaban Qara adalah iya. Dewa pun membuang nafas kasar.


"Aku nggak ngerti jalan pikir kamu kaya gimana." Yah, terlihat jelas kekecewaan di wajah Dewa dengan keputusan yang Qara ambil.


"Aku harap kamu bisa merahasiakan hal ini dari Jati," balas Qara dengan suara yang lirih.


"Rahasia yang seperti apa maksud kamu. Apa kamu pikir Jati itu anak kecil. Dia juga lama-lama akan tahu tanpa aku kasih tahu, laki-laki itu peka Qara dan aku harap kamu tidak akan ada masalah dikemudian hari dengan keputusan ini." Dewa menyenderkan tubuhnya dan pandangan lurus menatap ke jalanan. Sedangkan mereka saat ini sedang duduk dengan mobil menepi ke bahu jalan.


"Aku yakin A Jati akan mengerti dengan pejelasan aku nanti, dan akan paham kenapa aku melakukan ini, dan aku selalu berharap kalau A Jati tidak benar-benar mencintai aku," ucap Qara yang langsung di balas gelak tawa oleh Dewa.


"Itu mustahil sekarang saja Jati sudah jatuh cinta berat sama kamu. Masa sekarang kamu justru berharap sebaliknya. Ya mungkin sih kalau kamu ketahuan berbohong dan melakukan ini hanya karena uang mungkin Jati akan membenci kamu, tapi apa manfaatnya untuk kamu?" tanya Dewa, yah ia wajar bertanya seperti itu pasalnya orang lain akan merasa ingin dicintai dan dihargai terus oleh pasanganya bukan malah di benci.


"Mungkin itu jauh lebih baik, sehingga ketika aku berpisah nanti tidak akan terlalu sakit," balas Qara dengan pasrah.


Dewa membalas dengan senyum sinis. "Tidak ada di dunia ini yang berpisah tanpa adanya rasa sakit. Pasti sakit lah. Tapi itu terserah kamu sih. Aku yakin kamu memutuskan ini bukan dalam waktu singkat. Kamu pasti sudah mempertimbangkan semuanya entah itu baik dan entah itu buruk. Aku sebagai teman hanya bisa mendoakan yang terbaik dengan keputusan kamu, tapi kamu tetap harus hati-hati karena Jati orang yang cukup keras, aku takut nanti Jati justru akan membenci kamu. Kamu selain menjaga Jati juga tolong bimbing juga dia agar tidak terlalu arogan. Dia terlalu buruk sifatnya, labil."


Yah, meskipun Dewa tidak setuju dengan keputusan Qara, tetapi ketika Qara sudah menyetujuinya berati sekuat apa pun Dewa menasihati Qara, wanita berhijab itu akan tetap melakukan apa pun itu yang sudah di sepakati. Sehingga cara paling baik adalah merestuinya.


"Terima kasih, kalau gitu lanjut pulang yuk A, Qara sudah cape pengin istirahat." Qara kembali memejamkan matanya seolah ia akan benar-benar tidur.

__ADS_1


Sesuai yang Qara minta Dewa pun kembali melanjukan mobilnya dengan berhati-hati.


"Ngomong-ngomong kalian akan menikah kapan Qara?" tanya Dewa, meskipun Qara tengah terpejam matanya, tetapi Dewa sih yakin banget kalau calon istri Jati tidak sedang tidur.


"Entahlah, Qara mengikuti kabar dari Om Thomy dan Tante Iren aja," jawab Qara dengan mata yang masih terpenjam.


"Apa kamu tidak ingin berpikir sekali lagi, aku hanya takut kedepanya kamu akan semakin tersandung masalah, dan akan dipersalahkan. Lagi pula untuk merawat orang sakit itu butuh kesabaran, dan ketrampilan yang mungkin kamu sendiri belum menguasai caranya, kalau ada apa-apa nanti takutnya kamu dipersalahkan lagi." Sebagai teman bukanya tidak salah kalau selalu mengingatkan apalagi demi kebaikan bersama.


Qara menjawab dengan gelengan kepala. "Aku sudah yakin dan siap apa pun resiko kedepanya. Dan soal merawat orang sakit, aku akan belajar pelan-pealan. Aku belum mencoba jadi tidak tahu tingkat kesulitanya di mana dan juga aku yakin A Jati bukan lumpuh dan pasti akan sembuh dan juga tidak sepenuhnya aku yang bekerja untuk menjaganya. Jadi tidak ada yang perlu dicemaskan sekali lagi."


Mendengar jawaban Qara yang sangat yakin Dewa pun tidak bisa bilang apa-apa. Biarkan Qara berjalan dengan keputusanya.


Setelah menempuh perjalanan yang justru jadi lebih lama mereka pun sampai di rumah Qara. "Tumben sepi Ra," ucap Dewa sembari rebahan di depan rumah Qara.


"Terus berati kamu ke luar dari kerjaan kamu di sini Ra?"


"Ya mau bagaimana lagi A, lagian lumayan lah kerjaan di sana lebih besar. Mungkin besok Qara akan pamit ke sekolahan, ngasih kabar kalau dapat kerjaan yang lain," jawab Qara dengan membawa minum, dan buah durian. Maklum hanya ada itu di dapurnya. Kalau buah durian memang abahnya punya pohonya banyak sehingga selalu ada belum di belakang rumah ada beberapa pohon.


"Terus kamu juga akan jujur sama abah kamu?" tanya Dewa lagi, terserah dah mau dikatai kepo juga yang jelas Dewa malah makin penasaran dengan rencana Qara.


"Kayaknya tidak A, kalau jujur ya pasti nggak dibolehin untuk nikah lah. Orang tua mana yang nanti tahu kalau anaknya akan jadi janda." Qara mengulas senyum masam.


"Coba, kamu belum ketemu Jati, atau ketemunya sama aku dulu, kamu nggak akan terseret masalah yang bikin pusing kaya gini," balas Dewa sembari mengambil durian yang dari penampilannya aja sudah bikin Dewa ngiler.

__ADS_1


"Ini namanya takdir A, tidak mungkin terjadi seperti ini kalau Alloh tidak mengizinkanya. Udah jadi jalan takdir Qara kaya gini. Ya nikmati ajah."


Dewa pun hanya membalas dengan anggukan kepala. "Ngomong-ngmong ini durian dari mana? Enak banget. Wah ini kalau ada Jati pasti bakal rebutan dia doyan banget sama buah ini." Dewa pun dalam waktu sekejab sudah menghabis kan dua potong daging durian.


"Ada pohonya sendiri A, dan ini kebetulan lagi musim, dan buah. Iya dulu aja sempat di kasih dua katanya habis hanya bertiga sama adik-adaiknya padahal buahnya jauh kebih besar dari ini. Benar-benar doyan banget."


"Yah, dia emang pencinta buah ini." Dewa pun terus ngobron dengan hangat sampai cukup lama.


"Kalau gitu aku pulang yah Ra, kamu istrihat saja dulu jangan sampai sakit. Jangan berpikir yang berat-berat," pamit dan nasihat Dewa.


"Iya A, terima kasih sudah diantar sampai sini. Hati-hati di jalan ya A. "


"Iya, kamu nanti kalau mau ke Jakarta WA aku aja biar aku jemput. Aku mah pengangguran kok jadi banyak waktu luangnya."


"Ok siap nanti kalau sudah ada kabar dari Tante Iren, Qara pasti bakal ngerepoti A Dewa lagi."


"Hist, nggak ada ngerepotin kok, aku senang kok ke sini udaranya sejuk dan nyaman sebenarnya."


Qara hanya menjawab dengan senyuman. Memang ini yang dia betah dari kampung halamannya, meskipun sepi tapi udara masih asri.


#Udah Dewa pulang sana ngobrol mulu kapan baliknya.


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2