
"Sayang itu kataknya adik kamu, mengantarkan pakaian aku," ucap Jati yang masih memakai handuk.
Qara yang sudah berpakaian lengkap pun dengan tergesa ia membuka pintu kamarnya, dan benar saja Deva berdiri di depan pintu dengan wajah ditekuk. dan tatapan yang memendam marah.
"Kamu sudah lama Va?" tanya Qara dengan suara yang lirih.
"Sudah satu jam Deva ketuk-ketuk pintunya. A Jati dan Teh Qara lagi ngapain sih. Masa Deva sudah teriak-teriak dan juga sudah gedor-gedor nggak denger," sungut Deva sembari mengulurkan pakaian Jati yang diantarkan oleh ojek online.
Mendengar Deva marah-marah wajah Qara pun memerah. "Iya Teteh minta maaf tadi ketiduran," balas Qara berbohong demi kebaikan tidak mungkin kan Qara bilang kalau dari dua jam yang lalu Qara dan Jati membuat ponakan untuk Deva dan Diki.
"Tidur, bohong banget kata A Diki, Teteh Qara dan Aa Jati sedang kangen-kangenan. Lagian kalau tidur denger kali pintu digedor-gedor." Deva yang masih polos pun langsung mengatakan apa yang Diki katakan tadi.
Pandangan Qara pun menatap ke arah Diki yang sedang duduk dengan ponsel di tangannya dan laptop di atas meja serta buku catatan orderan yang ada di hadapannya juga. Laki-laki yang saat ini kelas dua sekolah menengah atas pun nampak serius dengan buku catatannya, tetapi bisa Qara lihat kalau adik nomor satunya sedang menahan tawa.
"Ngomong-ngomong ini sudah di bayar belum?" Qara mengabaikan celoteh adik bungsunya.
__ADS_1
"Udah, tapi upah Deva nunggu satu jam belum," balas Deva dengan senyum merekah.
"Kalau gitu Teteh akan bilang sam A Jati. Kalian jangan berpikir yang tidak-tidak. Udah sholat sana." Sengaja Qara pun mengencangkan suaranya agar Diki mendengarnya.
"Udah dong, begitu azan langsung sholat," balas Diki tanpa menatap Qara. Yah jelas Diki tahu tetehnya ngomong kaya gitu ditujukan pada dirinya. Karena Deva diusia yang masih kecil tidak akan tahu apa yang dilakukan orang dewasa sampai berjam-jam di saat baru bertemu.
"Kalau gitu kerja yang benar. Kalau tidak mau uang jajan di potong!"
Brakk ... Qara langsung menutup pintu kamarnya sebelum Diki membalas lagi.
"Ini gara-gara A Jati yang kelamaan mainnya, Deva jadi marah. Dan Diki dia bicara tidak-tidak pasti pada Deva." Qara memberikan pakaian pada suaminya.
"Itu tidak lama Sayang, kalau dibandingkan kita puasa yang sampai dua bulan lebih. Lagian Diki sudah memasuki masa dewasa jadi dia ngerti lah. Dan aku yakin Diki nggak mungkin mengotori pikiran Deva dengan konten-konten yang tidak sewajarnya diucapkan," balas Jati dengan santai. Yah, laki-laki memang bisa tetap sesantai itu kalau urusan ranjangnya diketahui orang lain. Beda dengan Qara yang merasa itu sangat memalukan.
"Tapi Qara malu kalau ketemu Diki," balas Qara masih duduk di samping ranjang tempatnya tidur.
__ADS_1
"Tidak akan. Diki bukan tipe laki-laki seperti itu. Lagi pula aku yakin Diki tidak akan memikirkan hal yang menurut dia tidak penting. Diki pasti bisa membedakan mana kebutuhan dan bukan. Diki sudah beranjak dewasa pasti tahu itu." Jati mengenakan pakaian di hadapan Qara dengan sangat santai. Meskipun di awal Qara menundukkan pandanganya tetapi lama-lama ia pun bersikap biasa saja. Toh wanita itu sudah tahu semua tubuh suaminya.
Mendengar penjelasan Doni. Qara pun berusaha tetap santai dan tidak memikirkan ucapan Deva dan Diki lagi seperti yang Jati katakan. Setelah Jati memakai pakaian yang baru. Kini pasangan suami istri itu pun melakukan kewajiban utama sebagai seorang hamba. Yah, selain Jati selama berpisah dengan Qara dua bulan lebih untuk terapi dan membuktikan pada Thomy dalam pekerjaan. Jati juga belajar agama agar bisa membimbing Qara dan calon buah hatinya kelak. Hasilnya pun jangan diragukan lagi. Kini baik Qara maupun Jati agama mereka semakin baik lagi.
Tiga raka'at sebagai bakti seorang hamba pada sang pencipta pun selesai. Mereka tidak langsung buru-buru beranjak dari tempatnya beribadah. Baik Jati maupun Qara masing-masing melangitkan dia yang hampir sama. Yaitu dua pasangan suami istri itu meminta Tuhan segera menghadirkan calon buah hati di rahim Qara. Mereka juga pasti meminta agar restu yang selama ini diperjuangkan pun segera diraihnya, dan yang terakhir mereka meminta bisa menghadapi ujian rumah tangga bersama-sama serta rumah tangga yang selalu bahagia. Sehat selalu dan dilimpahkan rezeki yang halal.
"Qara mencium punggung tangan Jati dengan ta'dzim. Begitupun Jati mencium kening istri tercintanya dengan mesra dan lama. Terakhir Jati menarik tubuh sang istri dan mereka kembali berpelukan dengan mesra.
"Lapar tidak?" tanya Jati dengan berbisik di belakang telinga Qara. Wanita cantik itu pun mengangguk dengan yakin. Ya udah jangan ditanya jelas lapar. Habis olahraga sore masa tidak lapar. Apalagi sampai dua jam.
"Kita makan di luar yah!"
Bersambung....
...****************...
__ADS_1