Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Wejangan Jati


__ADS_3

Jati yang tahu kalau Nara juga pasti akan terlibat dengan masalah yang ia buat pun langsung turun dari motornya. Ia melihat Nara menangis tergugu, laki-laki itu pun langsung memeluk Nara. Seumur hidup ia jadi abang baru kali ini ia memeluk adik bungsunya.


"Abang, Nara ikut Abang. Nara nggak mau di rumah sendirian," ucap gadis kecil itu di sela tangisnya. Bahkan banyak yang melihat pertunjukan itu.


"Kamu tetap di rumah saja yah, kan ada Noah dan Mamah juga." Tangan Jati mengusap rambut sebahu Nara yang lurus. Gadis kecil itu pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Nara maunya sama Abang." Tangisan Nara semakin menjadi. Meskipun Jati galak, tapi Nara justru lebih dekat dengan dirinya dari pada dengan ibunya sendiri.


"Pergi aja kamu Nara, ikut abang kamu yang tidak tau diuntung itu. Papah mau lihat mau jadi apa kamu tanpa papah dan mamah kamu. Paling kamu juga akan nyusul jadi abang kamu yang urakan itu." Suara Thomy pun membuat tangisan Nara semakin pecah.


Mendengar ucapan Thomy, Jati pun langsung menghirup nafas dalam, dan memejamkan matanya. Sungguh kalau laki-laki itu bukan ayahnya dan ini bukan tempat umum, mungkin Jati akan memberikan pelajaran pada laki-laki itu yang mulutnya semakin tidak bisa dikendalikan.


Jati hanya tidak mau menambah masalah, dia juga tidak mau kalau aksinya menghajar Thomy justru mempermalukan istri dan orang-orang yang perduli dengan dirinya.


Dengan yakin Jati, menggenggam tangan Nara. "Kamu ikut Abang. Abang bisa kasih makan kamu, dan sekolahkan kamu." Jati langsung menarik tangan Nara, dan juga sebelah tangannya menggenggam tangan sang istri agar mengikuti dirinya. Qara pun tidak protes dan nurut dengan apa yang Jati putuskan. Jati meminta Nara masuk ke dalam taxi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri begitupun dengan Qara.


"Kalian naik taxi, biar abang selesaikan masalah ini dulu. Baru abang akan menyusul kalian pulang." Jati memastikan Nara dan Qara baik-baik saja, setelah taxi yang ditumpangi istri dan adiknya pergi Jati pun kembali ke tempat di mana Iren dan Thomy berdiri.

__ADS_1


Jati menatap Iren yang tampak bingung. Ia tidak bisa marah dengan Iren, karena ia tahu apa yang terjadi dengan keluarganya Thomy pasti tidak akan setuju apa pun yang jadi keputusan sang mamah. Apa pun yang ada di dalam rumah mereka Thomy adalah penguasanya.


Yah, mungkin karena laki-laki itu adalah orang yang berasal dari keluarga berkecukupan. Apa yang mereka dapatkan saat ini karena berlatar belakang dari keluarga laki-laki itu yang memodalinya. Sehingga ketika sukses sangat keras dengan anak-anaknya.


"Mah, Jati ajak Nara tinggal dengan Jati dan Qara, kalau Mamah mau ketemu dengan Nara bisa hubungi Jati. Nanti Jati akan kasih tahu alamatnya." Jati hanya pamitan dengan Iren tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke Thomy yang mana laki-laki itu juga sudah balik ke dalam mobilnya.


Kerumunan pun tidak seramai tadi. Kini hanya tinggal Jati dan Iren yang masih tidak tahu dengan semua ini.


"Ini ada apa sih Jati, kenapa semuanya jadi kaya gini?" tanya Iren ia juga ingin tahu dengan apa yang terjadi.


"Jati tidak pernah cerai dengan Qara. Jati selama ini hanya bohong soal perceraian kita. Jati hanya melindungi Qara dari Papah yang selalu menekan istri Jati. Jati sudah tahu perjanjian kalian soal pernikahan kontrak, itu alasan Jati menyembunyikan Qara dari kalian, karena Jati tidak mau bercerai dengan Qara." Jati pun menceritakan semuanya dengan terbuka pada Iren. Wanita paruh baya itu memang kaget dengan apa yang dikatakan oleh Jati, tetapi ia masih bisa memakluminya, lagi pula Iren tahu Qara adalah wanita yang baik.


"Jati terpaksa bawa Nara, karena Jati tidak mau Nara bernasib seperti Jati, dia tidak bahagia di rumah kalian. Jati takut nanti Nara akan mencari kebahagiaan di luar rumah karena merasa rumah bukan tempat yang membuat dia bahagia. Sama seperti yang Jati lakukan dulu. Lebih baik Nara tinggal dengan Jati dan Qara. Kami bisa menjaga dan menyayangi Nara. Mamah cukup jaga Noah, jangan sampai Noah memutuskan sama seperti Jati dan lagi-lagi membuat kecewa papah. Silahkan kalian kerja dari sore sampai malam, biar Nara jadi tanggung jawab Jati, Jati yakin bisa memberikan perhatian dan kebutuhan Nara dengan baik. Jangan khawatir soal itu. Karena Jati bakal kerja banting tulang buat mereka."


Mendengar ucapan Jati, Iren pun menitikkan air matanya. Baru kali ini Iren benar-benar sedih mendengar ucapan anaknya yang dicap urakan itu. Namun, cara berpikir Jati lebih bisa diandalkan dari pada suaminya.


"Mamah harus bagaimana?" tanya Iren dengan suara yang serak.

__ADS_1


"Mamah tetap di rumah jadi istri yang patuh dengan Papah, dan jaga Noah dengan baik. Jangan sampai Noah merasakan tidak bahagia seperti Jati dan Nara. Jangan sampai Noah juga pergi dari rumah itu dan Mamah akan benar-benar kesepian." Bukan Jati tidak sayang dengan mamahnya, tetapi ia juga berhak mendapatkan kebahagiaan. Tinggal di rumah itu bersitegang terus dengan papahnya dan itu tidak baik untuk kesehatannya. Baik mental maupun fisik.


"Kalau Mamah kangen dengan Jati dan Nara hubungi Jati kita akan ketemu disuatu tempat. Mungkin Mamah kalau datang ke rumah Jati akan tidak nyaman karena rumah kita kecil." Jati untuk terakhir kalinya memeluk Iren.


"Mamah titip Nara yah, jaga adik kamu dengan baik. Mamah percayakan Nara dengan kamu. Mamah akan kirim uang untuk biayain hidup Nara."


"Tidak usah Mah, uang Mamah tabung saja. Jati bisa biayain Nara. Mamah tenang saja Nara tidak akan kelaparan dan tidak akan kurang kasih sayang. Kita semua sayang Nara. Itu sebabnya Nara lebih milih kita dari pada kalian yang bergelimang harta."


Iren semakin menangis mendengar ucapan Jati. Yah, dia sendiri sudah tidak nyaman dengan rumahnya yang semakin tidak ada penyemangatnya untuk bekerja. Ia bekerja banting tulang untuk siapa? Sedangkan anaknya saja memilih hidup mandiri tanpa uang darinya.


Namun, ia juga tidak memiliki keberanian seperti Jati meninggalkan suami dan hasil kerja kerasnya. Nanti keenakan suaminya bisa nikah lagi sedangkan harta yang ia punya adalah hasil kerja kerasnya juga.


Orang seperti Thomy kalau Iren pergi tidak akan menyesal yang ada bisa-bisa cari istri baru. Yang rugi Iren karena harta itu harta bersama. Tanpa kerja keras Iren perusahaannya tidak mungkin semaju sekarang.


"Mamah akan nurut apa kata kamu. Kamu jaga diri yah kalau ada apa-apa hubungi Mamah. Mamah ingin melihat kalian bahagia. Kalau. memang keputusan ini yang membuat kalian bahagia Mamah akan dukungan dan berdoa untuk kebaikan kalian. Salam untuk Nara dan Qara."


Jati mengangguk dan tersenyum manis. Setidaknya sang bunda tidak sekeras papahnya.

__ADS_1


Bersambung...


...****************...


__ADS_2