Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Perkembangan yang Baik


__ADS_3

Jati menatap Dewa yang baru saja masuk ke ruanganya. Tatapan Dewa sudah mewakili kalau laki-laki itu ingin marah dengan Jati.


"Qara bilang loe mau marah sama gue. Sekarang loe bisa sepuasnya marah sama gue, jangan takut gue tidak akan melawan, gue akan dengarkan apa pun yang akan loe ucapkan," ucap Jati ketika Dewa baru duduk di tempat sebelumnya Qara duduk.


Dewa menatap Jati dengan tajam. "Tanpa gue marah pun loe pasti sudah tahu apa kesalahan loe. Percuma gue marah karena pada akhirnya loe akan lupa lagi," balas Dewa dengan suara dingin.


"Maaf ...."


"Maaf? Sudah telat Jat, kedua orang tua loe sudah nyalahi gue atas musibah yang menimpa loe. Pernah nggak loe kepikiran kalau hal ini bakal terjadi, bahkan Tante Iren sampai marah-marah di depan ruangan loe sampai nunjuk-nunjuk gue, seolah gue adalah penyebab atas apa yang terjadi dengan loe. Padahal kalau Tante Iren tahu anaknya yng sudah dibilangin tapi bebal, betapa malunya Tante Iren tahu kelakukan anaknya." Dewa langsung memotong ucapan Jati hatinya sudah sangat dongkol. Sehingga dia pun langsung menyembur Jati. Meskipun Iren tidak sampai marah-marah seperti yang Dewa katakan, intinya Dewa hanya ingin Jati ke depannya bisa berpikir lagi. Tidak lagi seenak sendiri kalau memutuskan apa-apa, akibatnya orang lain juga ikut kena imbasnya.


"Iya aku minta maaf, nanti aku bakal jelaskan sama Mamah kalau ini semua salah aku."


Jati dan Dewa pun terus mengobrol hingga waktu satu jam habis dan Dewa harus ke luar, setidaknya Dewa merasa lega karena bisa meluapkan unek-unek apa yang ada di dalam hatinya.


*******


Pagi hari menyapa, di kediaman Jati yang mewah. Malam tadi Thomy sudah berbaikan dengan sang istri bahkan hubungan mereka seperti tidak terjadi apa-apa, masih sama-sama romantis. Itulah kelebihan Thomy beskipun keras kepala dan apa yang ada dalam pikiranya harus sesuai dengan apa yang dia inginkan, Thomy selalu mau meminta maaf lebih dulu pada sang istri, meskipun ada rasa gengsi-gengsinya tapi akhirnya mau mengakui kesalahanya juga.


"Pah, Jati sudah dipindahkan ke ruang rawat," ucap Iren ketika ia bangun tidur laangsung membuka ponselnya, dan ada pesan dari dokter yang mengabarkan kalau Jati sudah dipindahkan di ruang rawat.

__ADS_1


"Bagus dong, tandanya dia akan cepat sembuh," jawab Thomy dengan ketus.


Iren pun tak henti-hentinya mengucapkan syukur dan raut wajah yang terus berbinar bahagia. Namun, tidak lama setelahnya Iren langsung lesu.


"Tapi, untuk cari perawat untuk Jati gimana yah Pak, kita kan tidak mungkin menjaga Jati terus, dokter bahkan bilang luka di kakinya akan lama menuju penyembuhannya. Kita harus cari perawat yang khusus merawat Jati." Iren nampak berpikir keras.


"Ya tinggal cari orang aja yang mau merawat Jati gitu aja kok rept. Papah sekarang tidak bisa menemani Mamah di rumah sakit lama, Papah akan bekerja kalau terlalu lama bolos nanti malah kerjaan terbengkalai lagi."


"Tapi Papah akan ke rumah sakit kan?" tanya Iren, dan di balas anggukan oleh Thomy.


"Papah juga ingin pastikan bagaimana kondisi Jati."


Setelah urusan di rumah selesai Iren dan Thomy pun langsung mengunjungi rumah sakit di mana putranya di rawat. Rupanya Jati memang sudah jauh membaik meskipun masih terlihat pucat dan lemas. Qara pun tampak sangat telaten merawat Jati. Bahkan menyuapi Jati dengan telaten sedangkan Dewa baru tidur ketika pagi menyapa, bergantian dengan Qara. Begitu Qara bangun Dewa pun langsung bergantian tidur, sudah hampir dua malam Dewa hanya tidur beberapa jam doang, sehingga begitu kondisi Jati membaik Dewa langsung bisa tidur dengan nyenyak.


"Jati udah jauh lebih baik Mah, bahkan dokter bilang satu minggu lagi kalau kondisi Jati makin membaik udah boleh pulang," jawab Jati dengan suara yang lemah.


"Syukurlah, Mamah senang dengarnya. Nanti Mamah akan carikan orang khusus untuk merawat kamu, dan Papah juga sudah setuju, karena Mamah dan Papah tidak bisa jaga kamu terus, sehingga kamu harus punya perawatan sendiri," ucap Iren dengan mengusap-usap tangan Jati dan menciuminya, sedangkan Thomy tidak ada ucapan apa-apa, sudah biasa bagi Jati kalau papahnya seperti itu.


Iren dan Jati pun terus berbicara dengan hangat, Jati pun menjelaskan pada kedua orang tuanya kalau kecelakaan itu murni atas dirinya bukan kesalahan Dewa ataupun teman temanya. Dan Iren pun tidak lagi menyalahkan Dewa akan kejadian ini.

__ADS_1


"Kalau gitu Mamah antar Papah dulu yah ke depan, Papah mau kerja, tapi Mamah akan temani kamu seharian ini," ucap Iren yang dari tadi mengabaikan Qara, begitupun Thomy, untung Qara sudah kebal hatinya sehingga tidak seperti dulu yang langsung melow.


Jati pun menangguk. "Hati-hati," ucap Jati pada papahnya tetapi Thomy hanya membalas dengan anggukan. Iren dan Thomy pun bergegas ke luar ruangan karena hari sudah siang juga.


"A Jati, Qara pamit ke toilet dulu yah," ucap Qara meletakan kotak makan yang sebelumnya terus dipegangnya. Tanpa menunggu jawaban Jati, Qara pun langsung meninggalkan Jati, tetapi bukanya ke toilet Qara justru pergi ke luar.


"Loh katanya tadi mau ke toilet tapi kok malah ke luar," gumam Jati dengan menggaruk-garuk kepalanya.


Sedangkan Qara langsung berlari menyusul dua pasangan suami istri yang sedang berjalan dengan beriringan.


"Tante Iren, Om Thomy tunggu." Qara memanggil pasangan suami istri itu.


Iren dan Thomy yang merasa dipanggil pun langsung menghentikan langkahnya, seprti biasa Thomy akan memberikan tatapan sinis.


"Ada apa Qara?" tanya Iren, dari nada biacaranya sangat lembut, tetapi kadang hatinya tidak sama dengan nada bicaranya.


"Ada yang ingin Qara bicarakan penting," balas Qara dengan setengah tersengal karena sempat berlari untuk cepat menghampiri pasangan suami istri itu.


"Katanlah cepat! Aku sudah telat kerja."

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2