Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Kecurigaan Thomy


__ADS_3

Setelah memastikan kalau abang dan juga kakak iparnya pergi dan tentunya Nara sudah bisa main ke rumah kakak iparnya. Nara pun masuk kembali ke dalam mall, akan menemui kembali papah dan mamahnya.


"Kamu dari mana Nara? Ngapain kamu di sini?" Suara yang sangat Nara kenal pun berhasil membuat gadis usia tiga belas tahun itu terkejut.


"Papah, ngapain Papah di sini?" tanya balik Nara dengan wajah dan sikap yang cukup membuat Thomy menelisik Nara karena gerak gerik tubuh Nara cukup membuat heran. Seperti ada yang disembunyikan oleh gadis kecil itu.


"Papah juga mengajukan pertanyaan yang sama barusan, kenapa kamu di sini, lalu kamu tanya Papah juga kenapa Papah di sini. Apa ada yang kamu sembunyikan. Lalu tadi yang berjalan siapa apa itu Qara dan Jati?" tanya Thomy dengan nada yang cukup dingin.


Nara yang sadar kalau gerak geriknya menarik perhatian Thomy pun menarik nafas dalam dan mencoba untuk bersikap tenang kembali. Agar Thomy tidak mencurigainya lagi.


"Bukan Pah, itu bukan Kakak Qara dan juga bukan Abang Jati. Tadi Abang Dewa dan ceweknya," jawab Nara, gadis itu sudah berjanji kalau tidak akan membocorkan apa yang tadi ia temui. Apalagi Nara juga berdiri di pihak kakak iparnya sehingga tidak ingin Thomy mengetahui hubungan abang dan kakak iparnya yang sebenarnya. Bisa-bisa kalau papahnya tahu maka dirinya akan kehilangan Qara dan abangnya lagi.


Nara tidak ingin hal itu terjadi, karena gadis kecil itu baru merasakan kasih sayang yang tulus dari Qara. Sehingga ia tidak ingin kehilangan orang yang peduli lagi dengan dirinya.


Thomy kembali memberikan tatapan yang menelisik. "Kamu jangan coba-coba berbohong dengan papah, karena papah paling tidak suka dibohongi." Thomy memperingatkan anak bungsunya dengan nada yang mengancam.


Nara hanya memberikan senyum terbaiknya. "Nara tidak punya keberanian untuk berbohong sama mamah dan juga papah. Nara tidak akan berbohong," balas Nara dengan pandangan mata yang menunduk.


"Bagus, kalau gitu cepat masuk kita akan pulang, kamu masih kecil jangan ikuti jejak abang kamu," titah Thomy dengan nada yang ketus dan dingin.

__ADS_1


Qara langsung mengangguk dengan mengikuti kemana Thomy pergi. Di belakang Thomy gadis kecil itu pun menghembuskan napas lega karena berhasil memberikan kepercayaan papahnya. Meskipun Nara tidak terlalu yakin kalau papahnya sepenuhnya percaya dengan ucapan dirinya.


******


Masih di tempat yang sama.


"Kamu ngapain sih, harus baik-baik sama Nara nanti dia kalau membuka rahasia kita bagaimana? Lagian dia jadi besar kepala kan kalau kamu bela terus," protes Jati ketika Qara menghampiri dirinya yang sedang duduk di atas motor pinjaman dari Dewa.


"Qara yakin Nara tidak akan mengatakan apa pun tentang kita. Nara bicara seperti itu karena terlalu senang meledek abangnya yang tukang marah. Makannya jangan marah-marah terus agar Nara tidak meledek abang terus." Qara tersenyum dengan manis di hadapan Jati. Eh, istri ini malah ikut-ikutan meledek suaminya. Baru ketemu sekali dengan adik iparnya sudah berani meledek Jati bagaimana kalau ketemu setiap hari bareng Qara bisa-bisa jadi tim untuk ngerjain Jati lagi.


"Awas aja kalau anak kecil itu berani bocor, aku tambal bibirnya dengan lem alteko (Lem Korea yang kekuatannya bisa ngelem bibir sekaligus giginya) biar tidak bisa membuka lagi mulutnya termasuk minum dan makan." Siap yang tidak senang meledek Jati, kalau laki-laki itu memang sangat lucu, jangankan Nara bahkan Qara pun sudah mulai ketularan iseng seperti adik iparnya.


"Dih aku mah nggak pengin punya adik kaya dia, kalau sudah bisa ditukar udah aku tukar tuh dengan yang lebih kalem dan nggak ngeselin.


"Udah ah jangan marah-marah terus gimana kalau kita pulang dan sekarang gantian jalan-jalannya jangan ke mall, tapi ke pasar malem mungkin saja kalau ke pasar malem tidak akan ketemu keluarga A Jati." Qara mencoba menghibur suaminya.


Benar saja wajah Jati jauh lebih enak dilihat dari pada tadi. "Ya udah kita cari tempat lain, baru pulang. Gara-gara ketemu sama keluarga mood jadi hancur," gerundel Jati, mereka pun kembali meninggalkan mall besar itu bertepatan dengan Jati Thomy dan keluarganya juga meninggalkan mall yang sama juga.


Kembali Jati memasangkan helm pada sang istri dengan mesra setelahnya mencium kening Qara. "Cinta banget sama cewek ini, ya Alloh," ucap Jati sembari mencium kening sang istri yang makin cantik dan glowing. Meskipun dulu juga glowing, tetapi sekarang sejak punya pemasukan sendiri Qara pun perlahan mengenal perawatan dan skin care dan make up tipis-tipis juga sudah bisa menggunakannya sehingga dilihat makin membuat hati abang Jati cenat cenut.

__ADS_1


"Qara juga cinta banget sama A Jati, coba jangan marah-marah terus. Pasti cinta Qara makin besar," balas Qara dengan hati-hati. Bukan Qara tidak suka dengan cara Jati berbicara hanya saja kalau kelamaan bertengkar terus dengan adiknya meskipun nantinya akan baikan lagi juga didengarnya kurang enak.


Sehingga Qara pelan-pelan menasihati Jati dengan cara yang lembut agar tidak marah-marah terus. Bagaimana mau punya anak nanti kalau diledek Nara ajah udah langsung kaya kompor meleduk.


"Iya nanti dicoba sabar pelan-pelan," balas Jati yang langsung dibalas senyum manis dari Qara.


Mereka pun kembali meninggalkan mall mewah itu. Bertepatan waktu yang sama Thomy dan keluarganya pun meninggalkan tempat yang sama.


"Pah, lihat deh itu kayaknya Jati. Tapi dengan siapa dia? Kayaknya ceweknya berhijab. Tapi masa ia Jati kan dia belum bisa jalan."


Pandangan Thomy, Iren dan juga Nara menatap ke sebuah motor yang tengah ngantri untuk keluar mall.


Deg! Wajah Nara pun langsung berubah melihat abang dan kakak iparnya.


Bersambung...


...****************...


"

__ADS_1


__ADS_2