Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Keisengan Nara


__ADS_3

"Sekarang Nara jangan main dulu yah. Kakak masih belum siap kalau Om Thomy tahu di mana kakak tinggal. Tapi kami janji kalau semuanya sudah siap, kapanpun Nara mau main Kakak tidak akan larangan. Tolong untuk saat ini biarkan kami nikmati hubungan ini tanpa ada masalah. Kalau Om Thomy tahu kami berbohong bukan hanya A Jati yang kena masalah. Bisa-bisa kakak dan keluarga kakak jadi korbannya juga." Qara memberikan tatapan penuh permohonan pada adik iparnya.


Nara pun kembali diam untuk berpikir. Yah, beruntung Jati memiliki istri yang sabar dan ngayomi. Kalau tidak mungkin Jati dan Nara akan terus bertengkar. Mengingat adik-adiknya sangat senang meledek Jati.


"Baiklah kalau begitu Nara akan tutup mulut, tapi ada syaratnya," ucap Nara dengan tersenyum lembar. Mendengar jawaban Nara. Jati yang kesabarannya setipis kulit bawang pun langsung ngegas lagi.


"Syarat apa lagi sih Bocil. Bentar-bentar syarat. Lama-lama loe itu sifatnya turunan dari papah loe yah." Jati kembali ngegas dengan memberikan tatapan sengit pada Nara.


"Udah A, kita coba dengar dulu syaratnya apa aja." Kembali Qara yang menenangkan adik iparnya dan juga Jati.


"Heran gue punya adik kok ngeselin banget. Lihat mukanya aja bawaannya pengin buang ke laut alaska," cerocos Jati dengan memberikan tatapan tidak suka pada adik bungsunya. Namun Nara bukanya takut dia malah nampak santai santai saja.


Apalagi gaya Nara yang melipat kedua tangannya di depan dadanya dinilai Jati sangat menyebalkan dan songong. Padahal Nara seperti itu juga kurang lebih sama dengan kelakuan Jati yang songong juga, bahkan lebih parah Jati tentunya.


"Ya udah Nara maunya syarat apa?" tanya Qara, dengan suara yang lembut dan menenangkan.


"Nara ingin main ke rumah Kakak Qara," jawab Nara tanpa harus berpikir.


"Tidak bisa. Udah loe lebih baik di rumah aja, belajar biar pinter. Sekolah yang bener biar bapak loe bangga dengan loe yang jadi juara sekolah dan mengharumkan nama kedua orang tua loe. Enggak kaya gue yang  di DO saat sekolah," sela Jati yang langsung menolak keinginan adik bungsunya.

__ADS_1


"Sekarang sedang libur semester Abang. Ngapain belajar-belajar. Lagian bosen belajar terus. Kalau emang pintar ya pintar aja. Lagian kesuksesan seseorang tidak dilihat dari  pintar dan bodohnya saat sekolah. Sukses itu karena giat bekerja dan tidak mudah menyerah dalam menghadapai hidup. Jadi gimana boleh kan Nara nanti main ke rumah Kakak Qara." Nara menaik turunkan alisnya agar abangnya luluh hatinya.


"Tidak boleh ya tidak boleh. Bebal banget jadi adik juga." Tetap pada pendiriannya. Jati pun menolak Nara yang ingin main ke rumah persembunyian Qara.


Qara menghirup nafas dalam ketika melihat  pemandangan di mana suami dan adik iparnya lagi-lagi bertengkar. Memang Qara akui Jati itu kesabarannya sangat tipis, tetapi juga adik iparnya sangat senang meledek Jati.


"Nara boleh kok main ke rumah Kakak, nanti kalau abang tidak mengizinkan Nara mainnya boleh kalau abang saat kerja," ucap Qara dan langsung dibalas senyum kepuasan oleh Nara.


"Kakak Qara boleh mengizinkan Nara main." Nara kembali meledek abangnya dengan cara menjulurkan lidahnya penuh kemenangan dan tatapan yang mengejek.


"Ya udah sana balik lagi masuk. Nyesel gue jalan-jalan ke sini apes ketemu loe." Jati langsung mengusir adiknya.


"Jangan macam-macam loe, Bocil." Jati sudah hampir kehilangan kesabaran benar benar gara-gara adiknya yang sangat menyebalkan.


"Papah dan Mamah belum tahu kalau Abang sudah bisa jalan." Nara tersenyum penuh kepuasan. Berbeda dengan Jati yang langsung ingin menarik Nara, tetapi adik kecilnya yang sudah tahu kebiasaan Jati pun dengan sigap langsung menghindar.


"Jangan main-main loe, Bocil! Mau loe apa?" Jati bener-bener sudah habis kesabarannya menghadapi Nara. Bahkan ada beberapa pengunjung mol yang melihat Jati dengan heran. Karena ngoceh-ngoceh terus udah kaya ibu-ibu kurang uang belanja aja. Yang masak tempe aja kedengeran sampe satu ErTe.


"Nara mau uang aja buat jajan di Perancis." Kan bagaimana Nara tidak melonjak kalau abangnya aja sangat ngeselin.

__ADS_1


"Gila lama-lama gue punya adik kaya loe." Jati pun meninggalkan Nara dan Qara. Terserah ia yakin kalau Qara pasti bisa menasihati adiknya yang sangat menyebalkan dari pada dirinya yang tidak bakal bisa akur dengan adiknya.


"Gini aja deh. Besok kalau Nara main ke rumah kakak, bakal kakak masakin masakan paling enak, tapi janji yah, Kalau Nara jangan bilang sama Om Thomy dan Tante Iren kalau abang sudah bisa jalan. Nanti kakak akan ceritakan alasannya kenapa abang berbohong." Lagi-lagi Qara yang berusaha berbicara dengan adik iparnya.


Nara mengembangkan senyum tipis, menyembunyikan kemenangannya karena abangnya akhirnya bisa ia kerjain.


"Nara hanya bercanda kok. Nara tahu abang dan kakak pasti ada alasan untuk melakukan ini semua. Nara hanya senang saja kalau lihat abang marah-marah."


Tidak berbeda dengan Nara, Qara pun tersenyum dan akui adiknya memang sangat asik, ya meskipun sedikit ngeselin karena membuat suaminya marah-marah terus.


"Ok, kalau gitu kakak pulang dulu yah. Nara selamat bersenang-senang. Nanti kakak akan kirimkan alamat rumah kakak kalau Nara akan main." Qara berpamitan, dan Nara pun langsung membalas dengan anggukkan kepala dan senyum kemenangan.


Sebelum berpamitan Nara dan Qara pun saling berpelukan. Dan kemudian Qara menyusul Jati yang lebih dulu pergi ke tempat parkiran motor pinjaman dari Dewa.


Sementara itu, Nara balik lagi masuk ke dalam mall.


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2