Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Tangisan Nara


__ADS_3

Sembari menunggu antrian pembayaran tiket, Jati pun menggenggam tangan Qara dengan lembut sembari sesekali mengusap- usap punggung tangan sang istri. Lalu menciumnya dengan lembut. Siapapun yang melihatnya pasti akan iri dengan apa yang dilihatnya.


Dari tempat yang sama beberapa pasangan mata pun terus menatap sepasang kekasih halal itu. Setelah berhasil memastikan apa yang dilihatnya. Pandangan mata Thomy pun kini bergantian menatap ke arah Nara. Sementara Nara langsung menunduk pasrah dengan kemarahan papahnya. Gadis itu sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini.


"Tadi Papah tanya sama kamu Nara, siapa yang berbicara dengan kamu apakah dia adalah Jati dan Qara, tapi kamu bilang bahwa itu adalah Dewa. Lalu siapa yang ada di depan sana. Kamu bisa lihat kan siapa dia? Kamu akan jawab jujur atau Papah turun ke sana dan permalukan mereka?" tanya Thomy dengan nada yang tinggi bahkan air mata Nara sudah turun menyusuri pipinya karena ketakutan, dengan kemarahan papahnya.


Yah, Thomy memang akan seperti itu apabila aturan yang sudah ia buat dilanggar baik oleh Nara maupun kakak-kakaknya.


"Maaf Pah ..." Nara hanya bisa meminta maaf sembari terisak. Sementara Iren justru tidak tahu apa yang terjadi di antara putri dan suaminya. Iren bingung dengan apa yang harus ia lakukan karena ia tidak tahu apa-apa. Apalagi bisa dilihat dari kemarahan suaminya kalau Thomy sangat marah dan itu tandanya laki-laki itu sudah dikecewakan sangat besar oleh putrinya.


"Dibayar berapa kamu sama Jati untuk membohongi kita?" tanya Thomy kembali dengan suara yang semakin meninggi. Sedangkan Nara hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Terus apa yang kamu ketahui dari abang kamu yang kurang ajar itu?" tanya Thomy membuat tubuh Nara semakin ketakutan. Nara sendiri bergeming bingung mau menjawab apa. Karena ia sendiri sudah berjanji tidak akan menceritakan apa pun yang dia ketahui pada orang lain apalagi Thomy.


"Nara!! Jawab!" Suara Thomy menggelegar di dalam mobil membuat Nara semakin ketakutan. Ia memang sering mendengar Thomy marah seperti ini, tetapi itu biasanya marah pada Jati bukan pada dirinya. Namun, kali ini ia justru kena marah juga dengan hal yang paling ia takutnya selama ini.


"Baiklah kalau kamu tidak mau bicara. Biar Papah yang akan tanya sendiri pada Jati secara langsung." Tanpa di sangka Thomy membuka pintu mobil dan turun, dengan langkah tegas Thomy langsung menghampiri laki-laki dan perempuan yang sedang bermesraan itu.


"Pah ... jangan Pah, Abang dan Kakak Qara saling cinta." Nara pun panik langsung mengikuti langkah kaki papahnya. Begitupun Iren yang sebenarnya tidak tahu apa-apa pun ikut menghampiri suaminya. Ingin tahu juga dengan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Anak kurang ajar. Jadi kaya gini kelakuan kamu." Thomy langsung menarik hoodie yang dipakai oleh Jati. Jati dan Qara pun tersentak kaget bukan hanya dua orang itu yang kaget. antrian kendaraan yang sedang mengantri pun menatap ke arah mereka. Maklum ini adalah malam minggu sehingga suasana mall pun cukup ramai.


Jati menatap sengit pada Thomy sedangkan Qara langsung turun dan mencoba melerai papah mertuanya. Agar tidak terjadi keributan yang membuat malu semuanya.


"Om, jangan kaya gini. Malu dilihat orang-orang," ucap Qara sembari mengatupkan tangannya di depan dadanya, berharap kalau laki-laki yang seharusnya ia sebut sebagai papah mertua bisa diajak bernegosiasi dan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Bukan cara mempermalukan seperti ini. Karena dampaknya bukan hanya dirinya dan sang suami yang malu. Mereka sebagai orang tua juga pasti malu.


Berbeda dengan Nara dan juga Qara serta Iren yang tidak ingin Thomy bersikap kekanakan. Jati justru tetap tenang membiarkan papahnya marah. Jari telunjuknya justru mengetuk-ngetuk dengan santai di atas tangki motor. Sontak saja caranya menghadapi kemarahan papahnya justru memancing kemarahan Thomy yang semakin berkorbar.


"Jadi kamu tidak lagi pincang, dan kamu tidak pernah cerai dengan wanita murahan dan matre itu." Tangan sebelah kiri Thomy menunjuk Qara yang ketakutan. Rasa sedih yang sebelumnya menguasai Qara pun kini menahan rasa malu karena berhasil menarik perhatian orang banyak. Bahkan mereka kini sudah seperti sirkus jadi tontonan orang-orang yang kepo dengan apa yang terjadi dengan dirinya dan suaminya.


"Anda bisa lihat sendiri. Dan benar aku tidak pernah bercerai dengan Qara. Dia sampai kapanpun akan jadi istriku dan perlu Anda camkan, istriku tidak matre dan murahan. Jadi jaga mulut Anda!" Jati bisa bersikap sopan apabila dia juga dihargai dan bisa bersikap kurang ajar apabila direndahkan terutama istrinya yang dia tahu Qara adalah orang yang baik.


"Papah!!"


"Sudah Pah, malu dilihat orang-orang."


"Om, jangan kaya gini!"


Qara, Nara dan Iren pun memekik secara bersamaan tepat dengan Thomy yang menghajar Jati. Bahkan petugas keamanan pun langsung datang setelah terjadi keributan yang memancing kerumunan.

__ADS_1


Dua orang petugas keamanan datang untuk melerai Thomy dan Jati. Namun, bukan Jati yang terlihat kekanak-kanakan, tetapi justru Thomy yang juga memaki petugas keamanan yang melerainya.


"Diam kalian! Jangan ikut campur dengan masalah keluargaku!" bentak Thomy dengan mengacungkan jari telunjuknya pada kedua petugas keamanan itu.


"Kalau ini adalah masalah keluarga, baiknya diselesaikan secara kekeluargaan jangan di tempat umum." Salah satu pengunjung mall yang geram melihat sifat arogan Thomy pun menyela ucapan Thomy.


"Tidak usah karena anak itu bukan anakku lagi!" Thomy menatap Jati dengan tatapan penuh kemarahan.


Jati bukanya sedih justru tersenyum penuh kepuasan. "Tidak masalah aku dicoret dari katu keluarga Anda. Terima kasih atas semua didikan Anda hingga aku menjadi seperti ini. Tidak mungkin aku sebagai anak melawan pada orang tua sendiri andai orang tua punya orang tua yang waras. Semua di sini bisa melihat siapa yang keras kepala." Bukan Jati ingin menambah situasi menjadi semakin buruk, tetapi semuanya terjadi karena Thomy yang telah memancing.


"Ayo Sayang kita pulang. Percuma bicara dengan orang yang merasa benar. Segala pengorbanan kita pun sia-sia kalau orang yang kita hormati malah tidak menghargai kita." Jati meminta Qara naik ke motornya lagi, tapi di tahan oleh Nara.


"Abang, Nara ikut dengan Abang." Tangisan Nara pecah lagi, hal itu semakin membuat Qara dan Jati semakin serba salah. Mereka tahu Nara juga tertekan. Tidak mungkin Jati membiarkan adiknya menanggung ke salahnya.


Jati pun turun dari motornya dan menghampiri Nara. Baru seumur-umur Jati memeluk Nara dengan penuh perhatian.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2