Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Doa Untuk Jati


__ADS_3

Di atas sajadah, Qara bersimpuh. Bercerita pada Robnya, dengan apa yang ia rasakan. Hatinya semakin sakit, padahal ia tidak tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya, tetapi seolah ia memiliki indra ke enam, dan hatinya berkata kalau Jati sedang tidak baik-baik saja.


"Ya Rab, di mana pun Calon suami hamba berada, dan dalam keadaan seperti apa pun, tolong jaga dia ya Alloh. Hamba tidak memiliki tempat mengadu selain pada Engkau, hamba mohon jagalah dia dimanapun berada. Hamba mohon lindungi dia dari mara bahaya apa pun." Air mata Qara kembali jatuh, ketika ia dihadapkan dengan pilihan yang berat.


Kemarin-kemarin ia tidak merasa berat sama sekali bahkan Qara tetap yakin kalau ia tetap bisa menghindar dari Jati, dan tetap bisa meninggalkan laki-laki yang sudah melamarnya.


Namun kali ini Qara justru dihadapkan dengan lembah penyesalan yang dalam. Andai dia tidak mencoba menghindar dari Jati mungkin dia tidak akan secemas ini. Cukup lama Qara berdiam di atas sajadah. sembari pikiranya terbang entah ke mana. Bahkan hari ini ia benar-benar tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas apa pun. Biasanya ia akan bersemangat untuk masak dan dilanjutkan untuk bekerja, tetapi pagi ini ia merasakan seperti tidak ada gairah dan seperti orang sakit.


"Bismillahirrahmanirrahim...." Meskipun malas Qara mencoba untuk bangun dan segera beranjak ke dapur membuatkan sarapan untuk adik dan abahnya. Lalu ia harus tetap bekerja seperti biasa hanya itu pekerjaan Qara, yang bisa digunakan untuk membantu-bantu perekonomian keluarganya.


Masak dan semua urusan rumah bisa Qara selesaikan dengan tepat waktu. Meskipun pikiranya masih tidak tenang. Apalagi ketika Qara beberapa kali mencoba mengetes menghubungi nomor Jati, tetapi tidak juga aktif. Padahal biasanya pagi hari atau sore hari Jati akan mengirimkan pesan dan menanyakan kabar Qara.


Namun, hari ini tidak ada kabar apa pun. Hatinya semakin yakin kalau Jati sedang marah dengan dirinya. Qara ingin tahu bagaimana kabar Jati, tetapi ia juga tidak tahu nomer siapa pun selain nomor Jati.


Dalam pekerjaan pun, Qara hari ini banyak melamun. Hal itu karena sampai siang ponsel Jati tidak aktif juga.

__ADS_1


[A Jati, bagaimana kabarnya. A Jati baik-baik saja kan? Tolong telpon Qara kalau A Jati sudah baca pesan Qara.] Ini entah pesan keberapa yang Qara kirimkan pada Jati. Setelah sebelumnya berkirim pesan tetapi tidak ada jawaban juga.


Berharap setelah pesan ini Qara akan mendapatkan kabar dari Jati, dengan alasan ponselnya mati atau apalah ia akan mengerti dari pada tidak ada kabar sama sekali.


[A Jati, tolong jangan buat Qara seperti orang gila. Qara sangat menunggu kabar dari A Jati, telpon Qara kalau A Jati membaca pesan dari Qara.] Qara terus mengirim pesan, harapanya masih sama Jati akan memberikan kabar padanya.


*******


Di lorong rumah sakit yang sepi, Iren mengayunkan kakinya dengan kencang menuju ruang ICU di mana anaknya di rawat. Diam-diam Thomy pun menyusul sang istri selain ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Laki-laki paruh baya itu pun ingin tahu bagaimana kondisi anaknya saat ini.


"Dewa, Jati mana?" Meskipun jarak Iren dan Dewa masih ada beberapa langkah, tetapi Iren yang sudah sangat penasaran dengan kondisi jati pun langsung mencecar Dewa.


Dewa yang sedang gelisah pun menatap Iren yang terlihat sangat cemas.


"Jati ada di dalam Tan, tidak boleh di

__ADS_1


jenguk dulu." Dewa menunjuk Jati yang ada di dalam ruang ICU. Pandangan mata Iren langsung mengikuti jari jempol Dewa yang menujuk ke jendela kecil yang bisa digunakan untuk melihat kondisi Jati.


Tubuh Iren langsung bersimpuh ketika melihat kondisi anaknya. Dimana tubuh laki-laki yang pernah hidup di dalam rahimnya hampir tidak terlihat karena banyaknya alat-alat medis yang menempel di tubuh Jati.


"Jati.... Sayang kamu kenapa Nak, cepat bangun Sayang. Mamah ada di sini ....." Jerit Iren dengan tubuh masih bersimpuh di atas lantai.


"Tan, jangan kaya gini Tan, Jati pasti sedih kalau Tante kaya gini," ucap Dewa sembari memegang pundak Iren agar wanita itu jangan seperti itu. Selain malu dilihat oleh orang-orang. Dewa juga yakin kalau Jati bisa merasakan kesedihan itu.


"Diam kamu, ini semua gara-gara kamu pasti, Jati kecelakaan gara-gara kalian yang membuat Jati balapan liar kan?"


Deg!!! Ketakutan Dewa benar-benar terjadi. Orang tua jadi menuduhnya penyebab atas kecelakaan anaknya.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2