
"Lapar tidak?" tanya Jati dengan berbisik di belakang telinga Qara. Wanita cantik itu pun mengangguk dengan yakin. Ya udah jangan ditanya jelas lapar. Habis olahraga sore masa tidak lapar. Apalagi sampai dua jam. Ah, Jati mah emang rada-rada.
"Kita makan di luar yah!"
Qara menatap Jati dengan tatapan yang serius, di mana Jati sedang menatap ponselnya. "Kenapa harus makan di luar?" tanya Qara. Dia sebenarnya tidak terlalu suka dengan keramaian, tentu lebih memilih makan dan menghabiskan waktunya di rumah.
"Sejak menikah kita tidak pernah jalan-jalan ke luar. Jadi sekarang kita gunakan untuk jalan-jalan atau bisa dikatakan pacaran. Bukanya pacaran paska menikah itu pahalanya sangat banyak," goda Jati. Sebagai pemburu surga jelas Qara pasti sangat mempertimbangkan ajakan Jati.
"Pacaran kan tidak harus di luar rumah. Kita bisa pacaran di dalam kamar atau bahkan ngobrol di rumah seperti membahas masa depan dan rencana-rencana kita kedepannya," timpal Qara dengan nada bicara yang jauh lebih genit. Ajaran Jati benar-benar diterapkan dengan sangat baik oleh Qara.
Jati mengulurkan tangan agar Qara mendekat ke arahnya. Wanita cantik itu pun mengikuti kode dari Jati. Ia mendekat ke Jati dan duduk di pangkuannya.
"Yah memang untuk pacaran kita tidak harus keluar rumah, tapi kalau di dalam kamar dan rumah terus bosan Sayang. Kita butuh jalan-jalan sesekali. Apa kamu tidak bosan selama ini di dalam rumah terus. Keluarlah sesekali nikmati udara luar. Kita makan di luar sembari mengobrol santai. Baru itu namanya kencan ala anak muda. Kita masih muda jadi nikmati masa muda, dan masa pacaran kita sebelum nanti ada Jati junior dan pasti kita akan sulit untuk jalan-jalan keluar." Jati memangku sang istri dengan berbicara sembari tangannya melingkar di perut ramping Qara.
Mendengar penjelasan Jati tentu Qara paham bentul dengan apa yang Jati katakan. Sebenarnya juga Qara setuju saja kalau mereka jalan-jalan sejenak untuk mencari suasana baru. Namun, rasanya tidak akan seru kalau Qara tidak mengerjai Jati. Jadi kali ini Qara sedang mengetes suaminya. Memang umur Jati lebih muda empat tahun dari Qara, tetapi sifat dewasa dan pengertian Jati patut diacungi jempol.
"Tapi di sini tidak ada kendaraan, apa kita akan naik kendaraan umum?" tanya Qara. Yah, dia memang belum memiliki kendaraan hanya ada motor satu, itu pun motor matic dan juga sepeda ontel yang digunakan oleh Deva untuk bersekolah. Bukan karena Qara tidak punya uang untuk membeli itu semua hanya saja Qara merasa belum terlalu membutuhkan. kendaraan yang lebih lagi. Terlebih Qara lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah.
"Itu soal gampang selagi ada Dewa kita bisa manfaatkan kekayaan dia. Aku barusan minta Dewa antarkan motor dia ke sini. Kita jalan-jalan naik motor." Jati dengan percaya diri menunjukkan chat dirinya dan Dewa. Sontak saja Qara melebarkan matanya ketika mendengar ucapan Jati.
"Kenapa harus naik motor? Kaki A Jati belum sembuh total. Qara tidak mau! Takut nanti akan terjadi sesuatu yang berbahaya. Tolong jangan cari masalah lagi. Kemarin saja A Jati kecelakaan sudah membuat Qara sedih. Kalau nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kembali bagaimana?" Tatapan Qara sudah mewakilkan betapa cemasnya wanita itu dengan kemauan Jati yang ingin jalan-jalan dengan naik motor.
Jati mengusap rambut Qara yang tergerai indah. "Kamu percaya dengan aku. Semuanya akan baik-baik saja. Aku sudah sembuh betul. Dan soal kecelakaan kemarin itu karena aku yang memang kurang berhati-hati dan juga pikiran aku yang sedang banyak masalah makanya aku tidak bisa mengendalikan pikiran aku. Tapi untuk kali ini karena membawa istri tersayang aku akan seribu kali berhati-hati. Lagian kita hanya keliling-keliling wilayah ini. Mau yah, kasihan Dewa sudah jalan ke sini bawa motor. Kalau balik lagi capeknya dobel. Apa kamu gak kasihan dengan Dewa?" balas Jati. Paling bisa banget emang Jati ini kalau urusan rayu merayu.
__ADS_1
Beruntung Jati memiliki teman yang sangat pengertian seperti Dewa. Siap direpotkan kapan saja. Bahkan saat ini di malam minggu dia mau direpotkan oleh Jati dengan mengantarkan motor yang akan dia pinjam. Enggak modal banget memang abang Jati ini udah mah pinjam, tapi mau enaknya saja. Untung Dewa kesabarannya setebal kamus bahasa inggris sehingga masih kuat menghadapi Jati yang super nyeleneh.
Melihat keseriusan Jati dan juga janji sang suami. Qara pun pasrah saja. Tidak bisa dipungkiri dia memang ingin merasakan kecan ala anak ABG apalagi kencan yang halal pasti juga sensansinya akan berbeda.
Qara pun berganti pakaian sesuai kendaraan yang akan mereka gunakan. Jati menatap Qara tanpa kedip ketika cewek yang biasanya berpenampilan dengan gamis panjang dan juga rambutnya hanya bergo sederhana, kali ini berdandan dengan memakai celana jins yang tidak menampakan lekuk tubuhnya serta kaus panjang dan dilapisi dengan jaket kulit berwarna hitam, serta pasmina simpel Tidak terlalu yang wah banget, tetapi tidak dipungkiri penampilan Qara sangat cocok dengan tema kencan malam ini yaitu simpel, dan romantis.
"Udah yuk ...." Qara mengagetkan lamunan Jati yang sedang menatap kagum dengan kecantikan Qara. Meskipun wanita itu hanya menggunakan bedak dan lipstik dengan warna yang natural.
"Kok A Jati lihat Qara kaya gitu. Memang ada yang aneh?" tanya Qara, kembali wanita cantik itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. "Tidak ada yang aneh, tapi kenapa A Jati lihat Qara seperti itu?" tanya Qara ulang, rasanya ia tidak percaya diri dengan tatapan Jati.
"Aku hanya heran kenapa ada bidadari turun dari kayangan. Apa mungkin aku menyembunyikan selendang kamu." Jati menatap Qara tanpa kedip.
"Apaan sih. Jangan berlebihan ah. Aku bukan bidadari dan kamu juga bukan Jaka Tarub yang mencuri selendangku," balas Qara dengan mencubit hidung Jati yang mancung. "Udah ayo katanya mau makan di luar. Kalau tidak mau, aku ganti baju lagi nih," ancam Qara dengan menunjukkan wajah kesalnya.
"A Jati ..."
"Iya Sayang, jangan panggil gitu ah jadi ingat tadi di dalam kamar mandi." Bukan Jati kalau tidak iseng.
Qara pun memilih berjalan lebih dulu dan meninggalkan Jati dengan keisengannya.
Pandangan Abah, Diki dan Deva langsung tertuju ke kamar Qara yang akhirnya keluar juga dari kamarnya. Padahal biasanya Qara adalah orang yang sangat tidak betah hanya berdiam diri di dalam kamar. Tetapi kalau ada temanya sampai tiga jam lebih betah banget mengurung di dalam kamarnya.
"A Jati sudah bisa jalan." Deva yang pertama kali lihat Jati berjalan pun terkejut bahagia karena kakak iparnya sudah bisa berjalan normal lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Kamu sudah bisa jalan lagi." Abah tidak kalah bahagia melihat menantunya yang kali ini sudah bisa berjalan dengan normal.
"Iya Bah, alhamdulillah berkat doa dari Abah dan kalian semua." Jati pun bersalaman dengan Abah karena saat ia datang belum bertemu dengan abah yang sedang menjalankan sholat azhar di masjid dekat rumahnya. Yah, laki-laki paruh baya itu memang masih memegang kebiasaanya. Yaitu kalau beribadah selalu di masjid. Sehingga meskipun mereka baru tinggal di lingkungan ini, tetapi sudah banyak tetangga yang mengenalnya. Hubungan mereka dengan tetangga pun semakin hari semakin baik banyak kenalan.
Diki pun tidak kalah bahagia melihat kakak iparnya sudah bisa berjalan lagi.
"Kalian mau ke mana kok rapih banget?" tanya Abah melihat penampilang sang putri yang jauh lebih cantik dari biasanya.
"Kita mau makan di luar Bah. Sekali-kali ingin keliling-keliling sekitar sini biar nggak bosan." Jati pun mengambil alih jawaban atas pertanyaan dari abah.
"Oh ya udah kalau gitu. Abah hanya pesan kalau kalian hati-hati di jalan yah. Jati jangan ngebut-ngebut kamu masih pemulihan." Seperti orang tua pada umumnya Abah pun menasihati menantunya apalagi Jati baru saja mengalami kecelakaan yang hebat. Tetapi laki-laki itu tidak ada trauma-traumanya.
Setelah berpamitan dengan abah dan kedua adiknya Qara dan Jati pun langsung keluar. Apalagi Dewa sepertinya sudah datang. Yah, benar saja bertepatan dengan Jati keluar Dewa juga turun dari kuda besinya. Di belakang ada Padi yang juga membawa kendaraanya. Yah mereka nanti pulang berboncengan Dewa dan Padi, karena motor Dewa di pinjam oleh Bambang Jati.
"Loe baru sembuh ngapain bawa motor sih." Sama dengan biasanya Dewa itu paling bawel masalah kesehatan Jati.
"Nah betul A Dewa, Qara juga kurang setuju A Jati naik motor dulu. Tapi susah dibilangin," adu Qara pada Dewa. Di mana mereka sudah jauh lebih dekat.
"Tenang Qara, aku bawa dua helm, kalau nanti Jati ngebut-ngebut kamu getokan nih helm ke kepala Jati biar dia tahu rasa."
#Bagus Dewa aku setuju ide kamu.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...