Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Cerita Pada Dewa


__ADS_3

Perjalanan yang ditempuh Qara dan Dewa pun tidak ada obrolan, sepi kaya kuburan pokoknya di dalam mobil. Bahkan ini lebih irit dari pada saat berangkat ke rumah sakit. Qara terus menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam, tetapi sedetik pun wanita berhijab itu tidak bisa tertidur, dalam otaknya terlalu banyak yang dipikirkan terutama nanti ketika Jati tahu kebenaranya. Sudah pasti Jati akan sangat marah. Qara sangat sadar kalau ia saat ini sedang menyimpan masalah untuk suatu hari nanti, tetapi Qara juga tidak berhenti berharap kalau sebelum Jati sembuh ke dua orang tua Jati merestui hubungan mereka yang sesungguhnya.


Sehingga tidak harus ada perjanjian gila itu, atau setidaknya seperti yang di novel yang pernah ia baca. Di saat surat kontrak sudah hampir habis ada pertolongan dan tidak harus bercerai, tetapi mereka tetap melanjutkan pernikahan yang sudah terjalin dengan suci. Tentunya hidup dengan bahagia. Namun, ini bukan kisah novel ini adalah pengalaman pribadinya sehingga selain ia berharap kalau restu itu akan hadir, Qara juga harus mempersiapkan hal terburuk nantinya.


"Qara, kamu kenapa sih aku perhatiin kaya gelisah gitu. Kamu nggak sedang tidur kan?" tanya Dewa. Yah, sejak tadi Dewa memang memperhatikan tingkah Qara yang mana matanya terpejam, tetapi tidak dengan perasaanya yang sedang gelisah. Sehingga Qara terlihat gelisah terus.


Mendengar pertanyaan Dewa, Qara pun perlahan membuka matanya. Bingung tentu yang Qara rasakan, apakah harus bercerita dengan Dewa atau tidak. Mungkin setelah bercerita dengan Dewa, laki-laki yang ia nilai baik bisa memberikan solusi. Namun, Qara juga belum begitu kenal dengan Dewa sehingga sedikit sungkan kalau harus bercerita dengan masalah yang cukup serius. Qara justru tidak langsung menjawab, ia hanya diam dengan memainkan jari-jarinya.


"Qara, kalau kamu ada masalah ceritalah. Mungkin ada yang kamu rahasiakan, ada yang terjadi dengan kamu tanpa sepengetahuan aku ceritakanlah. Kalau kamu berasa tidak enak mau cerita dengan aku, karena aku yang tidak begitu kenal sama kamu, maka kamu anggap aku abang kamu aja. Karena aku anggap Jati juga seperti adik aku sendiri." Meskipun Dewa dan Qara baru terlibat pertemuan yang singkat tapi Dewa bisa tahu dan yakin kalau Qara itu orang baik dan sekarang sedang dalam masalah.


"Qara lagi bungung banget," balas Qara dengan suara lirihnya. Akhirnya setelah mempertimbangkannya dengan matang Qara pun memutuskan untuk bercerita dengan Jati. Dengan apa yang terjadi dengan Qara dan ke dua orang tua Jati.


"Bingung karena apa? Apa mungkin bingung karena Om Thomy, Tante Iren? Ada omongan mereka yang kurang mengenakan?" tanya Dewa dengan detail.

__ADS_1


"Apa A Dewa sudah dengar kalau Qara akan menikah dengan Jati?" tanya Qara balik.


"Jati pernah cerita, kalau dia bakal nikah dan aku sih yakin kalau cewek yang merubah pikiran Jati ya kamu. Memang ada apa?" tanya Dewa, semakin penasaran.


"Qara tadi dengar obrolan Om Thomy dan Tante Iren kalau mereka sedang cari perawat untuk menjaga dan merawat A Jati selama masih sakit, karena dokter bilang untuk penyembuhanya cukup lama dan membutuhkan proses yang panjang untuk terapi dan segala macam. Itu sebabnya Qara mengajukan diri untuk menjadi perawat A Jati, tapi Qara minta syarat agar mereka menikahkan Qara dan A Jati. Tujuanya tentu agar Qara bisa menyentuh A Jati tanpa dosa, dan juga apa yang Qara lakukan menjadi pahala yang diridhoi Alloh. Tapi ...." Qara menjeda omonganya, karena ia masih ragu apakah mau cerita dengan Dewa atau tidak. Ia takut kalau Dewa nanti malah bocor.


"Tapi .... yah tapinya apa? Bikin aku jadi makin penasaran aja," Gerundel Dewa yang tidak sabar ingin mendengar kisah kelanjutan Qara dan Jati.


Mendengar ucapan Qara, Jati hanya terkekeh. "Apa aku harus berjanji dengan kamu, agar kamu yakin kalau aku tidak seperti itu. Aku adalah orang yang pandai memegang rahasia. Jadi kamu tidak harus khawatir kalau rahasia kamu akan bocor. Aku cowok, sejak kapan cowok suka gosip.


"Ya kali ajah, kalau memang perlu janji maka berjanjilah kalau A Dewa tidak akan cerita apa-apa dengan siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Tetap jaga rahasia Qara dan ke dua orang tua A Jati." Qara menatap Dewa dengan serius.


"Iya-iya aku janji." Dewa pun tidak kalah serius juga dengan ucapanya. "Jadi ayo ceritakan, jangan sampai aku mati penasaran nih," imbuh Dewa.

__ADS_1


"Orang tua A Jati juga mengajukan syarat, untuk aku bisa menikah dengan putranya," balas Qara dengan menunduk.


"Syaratnya apa? Apa orang tua Jati meminta uang sama kamu?" tanya Dewa dengan serius, dan Qara pun langsung menggeleng.


"Bukan, justru aku tetap dapat uang bulanan. Jadi setatus aku tetap pekerja di mata mereka hanya pernikahan ini agar aku bisa dengan halal menyentuh tubuh A Jati, dan untuk syaratnya. Pernikahan aku dan A Jati semacam pernikahan kontrak. Yang mana masa kontrak aku dan A Jati selesai kalau A Jati sudah sembuh, dan selama masa kontrak aku tidak bisa melakukan hubungan suami istri kalau itu terjadi apalagi sampai aku hamil maka kontrak akan langsung terputus, alias aku harus meminta cerai."


Citttt .... Mobil pun langsung direm seketika oleh Dewa.


"Perjanjian macam apa itu. Gila itu Qara. Kamu jangan mau."


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2