
Sudah hampir satu jam Qara berada di ruangan Jati, dan kini saatnya ia pamitan kata dokter tidak boleh terlalu lama di dalam sehingga Qara pun harus kembali menunggu di luar. Namun tidak apa-apa setidaknya rasa kangen Qara sudah terobati dengan pujaan hatinya.
"A Jati sekarang Qara ke luar dulu yah, kasihan A Dewa juga pengin ngobrol dengan A Jati, kayaknya sih A Dewa juga bakal marah dengan Aa," bisik Qara, meskipun Qara tidak tahu permasalahan Dewa dan Jati tapi terlihat dari wajah Dewa kalau laki-laki itu pun sangat kesal dengan tingkah Jati.
"Yah, dugaan kamu pasti benar. Aku sudah siap apa pun konsekuensinya. Tapi apa kamu tidak bisa tetap di sini saja," balas Jati, ia masih sangat kangen dengan Qara tapi sudah harus berpisah lagi aja.
"Gak bisa A Jati, Dokter barusan bilang Qara hanya boleh masuk satu-satu. Kalau A Jati sudah di ruang perawatan baru nanti Qara akan temanin lagi. Sekarang A Jati istirahat. Qara akan berjuang kembali untuk hubungan kita." Qara menatap Jati dengan serius.
Mendengar ucapan Qara tentu Jati jadi semakin bahagia. Bahkan saking bahagianya ia tidak lagi merasakan sakit baik di kakinya maupun di perutnya. Padahal seharusnya luka bekas operasi dan patah tulang serta hati yang terluka rasanya sangat menyiksa, ada rasa sesak dan nyeri serta pegal. Namun, ketika ada obatnya di sampingnya ia pun tidak lagi merasakan sakit yang terlalu menyiksa.
"Terima kasih, kamu jaga diri jangan sampai sakit, dan jangan sampai kamu lupa makan. Makan yang banyak biar punya tenaga yang banyak juga," balas Gala. Qara pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Kalau gitu Qara pamit yah. Qara akan tunggu di depan. Sekarang gantian A Dewa yang akan masuk ke dalam."
Jati pun membalas dengan anggukan kepala. Tanpa menunggu lama Qara pun ke luar ruangan, karena jatah dokter untuk menjenguk pasien pun hanya dibolehkan satu jam. Tidak boleh lebih karena Jati harus istirahat.
__ADS_1
"A Dewa, kalau mau masuk silahkan Qara sudah selesai," ucap Qara dan berhasil mengagetkan lamunan Dewa.
"Astaga kirain siapa." Dewa yang tengah duduk dengan menatap ke depan pun terperanjat kaget ketika mendengar suara Qara.
"Makanya jangan melamun A, ngelamunin siapa sih?" goda Qara sembari mengambil duduk di samping Dewa.
"Enggak ngelamunin siapa-siapa. Mau ngelamunin kamu, tapi kamu udah keduluan sama Jati." Ketika Qara bergurai, maka Dewa pun membalas dengan hal yang sama.
"Aduh A Dewa kalau ngomong bisa banget. Awas aja nanti A Jati dengar malah berantem lagi. Qara nggak mau nanti dituduh jadi penyebab kalian berantem."
Mendengar ucapan Dewa Qara pun tertawa dengan renyah.
"Ya Tuhan, paket komlit banget yah ternyata A Jati itu." Yah, paket komplit sih paket komplit tapi bukan keburukan juga kali Qara.
Dewa pun tidak kalah tertawa. "Yah, dia paket kumplit sifat jeleknya, kadang aku sampai bingung nasihati dia. Mungkin karena dia masih muda jadi masih labil. Tapi kalian cocok kok, kamu penyabar sangat cocok untuk Jati yang keras kepala." Dewa memberikan jari jempolnya sebagai tanda kalau dia suka dengan sifat Qara.
__ADS_1
"Terima kasih, tapi ngomong-ngomong Qara sudah selesai ngobrol dengan A Jati. Mungkin A Dewa mau marahin A Jati juga, Qara persilahkan mumpung A Jati belum bisa melawan, jadi bisa ngomong sepuasnya, puas-puasain marah. Qara juga tadi gitu."
Dewa langsung menatap Qara yang dengan yakinya ngomong marahi Jati. "Kamu serius marahi Jati? Terus dia gimana?" tanya Dewa dengan heran. Seorang Jati yang keras dan terkenal sulit dinasihati dan keras kepala bisa-bisanya dimarahi oleh Qara, apa Qara tidak tahu kalau Jati itu adalah orang yang mengerikan.
Qara mengangguk untuk memberikan jawaban pada Dewa. "Qara serius, abisan kesel karena sok jagoan jadi masuk rumah sakit udah gitu bikin cemas pula. A Jati nggak gimana-gimana, malah hanya tersenyum saja."
Dewa menyipitkan kedua bola batanya. "Jangan-jangan Jati gegar otak lagi. Tumben-tumbenan dia dimarahi tertawa rasa-rasanya tidak mungkin seorang Jati dimarahi bisa tertawa."
Dewa yang sudah kenal Jati jauh lebih lama tentu heran, Jati yang biasanya akan ngeyel dan uring-uringan kalau dinasihati masa iya dinasihati oleh Qara malah tertawa. Apa sehebat itu kekuatan cinta. Bisa jadi pawang orang galak dan keras kepala.
"Seriusan, makanya A Dewa buruan masuk puas-puasain marah, dijamin A Jati nggak akan balas marah." Qara pun segera mengusir Dewa agar bergantian menjenguk Jati.
Dewa pun tidak banyak ngobrol lagi, langsung pamitan dengan Qara. Yah, yang dikatakan Qara benar ini adalah kesempatan untuk marahi Jati. Karena belum bisa melawan, kalau sudah bisa melawan pasti jatuhnya gelud.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...