
Di dalam taxi.
Dua wanita beda usia cukup lama diam mereka hanya saling genggam tangan mereka untuk menguatkan satu sama lain.
"Maafkan Nara yah Kak," ucap Nara dengan suara serak dan air mata yang terus jatuh, akhirnya gadis kecil itu membuka obrolan. Qara sebenarnya bukan tidak mau memulai obrolan ia hanya bingung takut membuat adik iparnya semakin sedih.
Qara menarik Nara ke dalam pelukannya. Mengusap rambut lurusnya. Nara yang tidak pernah diperlakukan seperti itu justru semakin sedih hatinya. Pernah sih ia diperlalukan seperti itu, tapi itu oleh asisten rumah tangganya. Bukan ibu, ayah, maupun kakak-kakaknya. Dia kuat hanya berpura-pura nyatanya dia tetaplah anak kecil yang manja dan cengeng.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak perlu sedih. Semua pasti akan indah pada waktunya." Qara yang memang penyayang dan sabar pun tida membiarkan Nara sedih. Pekerjaan dia adalah guru anak-anak Tk sehingga kesabarannya sudah bisa dikatakan lulus. Menghadapi Nara dan Jati sudah tidak sulit lagi.
"Nara pasti nanti akan sangat merepotkan Kakak dan juga Abang. Tapi Nara tidak betah tinggal di rumah," ucap Nara mencurahkan isi hatinya.
"Jangan punya pikiran kaya gitu. Nara adalah adik Abang Jati yang artinya Nara juga adik Kakak juga. Kita semua keluarga. Hidup susah atau tidak asalkan Nara tidak keberatan dengan hidup yang pas-pasan kakak akan sangat senang kalau Nara betah tinggal di rumah kakak. Kakak suka nanti malah tambah rame. Nanti di rumah ada Diki, Deva dan juga abah merasakan semuanya rame jadi Nara pasti tidak akan kesepian," ucap Qara memperkenalkan keluarganya.
__ADS_1
"Deva dan Diki siapa?" tanya Nara yang memang belum kenal dengan keluarga kakak iparnya.
"Deva dan Diki itu, adik-adik kakak. Deva sekarang kelas empat SD, Diki sekarang kelas tiga SMA sebentar lagi lulus," balas Qara, menjelaskan dengan detail adik-adiknya.
"Mereka galak-galak tidak?" tanya Nara yang sontak saja langsung membuat Qara tertawa. Nara terlalu polos. Ya kali kakaknya aja baik masa adik-adiknya galak. Gak galak sih hanya saja cukup iseng turunan dari Jati.
"Tidak mereka tidak galak-galak. Kalau galak-galak Nara bisa kasih tahu kakak biar mereka dapat hukuman."
Mendengar kakak iparnya yang sangat seru pun Nara mengembangkan senyum. Di saat Nara dan Qara masih di dalam taxi dan perjalanan di malam minggu yang cukup padat sehingga yang sampai rumah duluan justru Jati. Laki-laki itu yang baru datang dan mengira kalau Nara dan istrinya sudah sampai pun langsung masuk ke dalam rumah yang ternyata dua adik iparnya sedang belajar. Yah, Jati akui Diki dan Deva memang anak yang pandai-pandai dan rajin. Bahkan untu masak mereka pintar juga. Pokoknya kalau Jati sedang kumpul dengan mereka jadi minder karena dia tidak bisa apa-apa selain bikin anak dan pembuat rusuh. Eh bikin anak juga belum dikatakan pintar karena belum berhasil juga.
"Loh Qara belum pulang? Perasaan tadi pulang duluan?" tanya balik Jati dengan bingung. Karena ia jelas-jelas lihat taxi yang ditumpangi Qara sudah jalan duluan. Ia ngobrol dengan Iren juga cukup lama. Jati malah jadi tidak tenang.
"Emang A Jati dan Teh Qara berantem? Kok pulangnya sendiri-sendiri?" Deva langsung kepo, dia adalah orang pertama yang paling tidak suka kalau kakaknya disakiti.
__ADS_1
"Loh, kok berantem sih. Bukan berantem,.tapi tadi Qara pulang bareng Nara. Enggak mungkin kan satu motor bonceng bawa orang bertiga. Maka dari itu Qara dan Nara naik taxi. Aa Jati kira udah sampai."Jati menjelaskan kenapa dia menanyakan Qara yang belum sampai.
"Oh kirain A Jati marahan sama Teteh." Deva menggaruk punggung lehernya dengan senyum malu-malu.
"Enggak lah, A Jati takut pawangnya Teteh kamu banyak nanti malah Aa kalah lagi."
Baru juga Jati mau membalikan tubuhnya dan mencoba menghubungi istri dan adiknya untuk menanyakan keberadaanya. Sebuah taxi berhenti di depan rumah mereka. Yah, itu adalah Qara dan Nara.
"Loh kok A Jati sudah sampai. Pasti ngebut yah." Qara langsung memberikan tatapan tidak suka karena suaminya suka ngebut.
"Iya betul itu Kak, pasti Abang ngebut." Nah loh Nara baru juga dibaikin dan bakal dijaga sama Jati malah mau bikin abang sama kakaknya perang ajah.
"Nara! Gue balikin ke Thomy baru tau rasa!" Bukan Jati kalau sabar mah. Baru diledek gitu sama. adiknya langsung ngereog.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...