
Sore hari menyapa. Jati pun sudah selesai mandi, untuk mandi memang Jati melakukan sendiri Qara hanya membantu memindahkan Jati dari kosi roda ke atas temapt duduk yang sengaja diletakan di kamar mandi setelah peralatan semua disiapkan dan juga pakaian luar sudah dilepaskan, maka Jati akan mandi sendiri dan memakai sabun serta sampo sendiri setelah semua selesai baru Qara akan membantu untuk pindah ke kursi roda lagi dan kembali mendorong ke kamar untuk berganti pakaian, untuk berganti pakaian memang dibantu oleh Qara, tetapi wanita berhijab itu selalu memejamkan matanya dan berpura-pura bodoh apabila tongkat seolah menantang ingin dimanja.
Jati terus menatap Qara ketika memakaikan pakian Jati terutama ketika Qara memejamkan matanya dan seolah tidak tahu kalau di bawah sana ada yang ingin dimanja.
Selama di rumah saki Jati maklum mungkin karena rumah sakit tempat umum sehingga Qara takut ada yang tiba-tiba masuk, tapi kalau di rumah apalagi kamar pribadi rasanya terlalu aneh ketika Qara juga memejamkan matanya. Sepolos itukah? Itu yang Jati pikirkan.
"Kenapa merem sih, bukanya kalau dilihat apalagi di pegang tidak apa-apa, pegang aja," ucap Jati menahan tangan Qara agar tidak beranjak dari pangkal pahanya.
"Apaan sih A, Qara lagi kerja," balas Qara sembari menarik tangannya.
Deg! Jati pun cukup kaget dengan apa yang dikatakan oleh Qara.
"Kerja? Jadi kamu hanya kerja, bukan benaran nikah dengan aku gara-gara cinta? Apa ini yang membuat Papah kemarin marah saat lihat kita ciuman?" tanya Jati dengan pandangan mata yang terus menatap Qara.
"Apaan sih A, kan emang Qara sedang kerja merawat A Jati, agar cepat sembuh. Ingat kan janji kita," ucap Qara sembari mencoba melepas tanganya agar Jati tidak terus memegangnya.
__ADS_1
"Bukan ini, aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku akan marah besar kalau kamu bekerja sama dengan Papah. Aku akan marah." Jati menepis tangan Qara dan melanjutkan memakai pakaian sendiri.
Deg! Tentu Qara kaget dan ada rasa takut yang luar biasa kalau Jati memang akan tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Qara mencoba tetap tenang dan kembali akan membantu Jati yang kesusahan memakai baju.
"Biar Qara bantu." Tangan Qara pun langsung bersiap memakaikan celana Jati, tetapi Jati menggelengkan kepala.
"Aku akan belajar sendiri agar kamu tidak usah cape bekerja untuk membantu aku," balas Jati dengan nada bicara yang dingin. Qara pun tidak bisa berbuat apa-apa ia hanya bisa melihat usaha Jati yang memang bisa memakai pakaian sendiri meskipun Qara melihat seskali meringis.
Setelah celana terpasang dengan cukup baik, kini Qara memberikan kaos yang akan Jati pakai. Untuk memakai kaus Jati tidak harus bersusah payah karena bisa melakukannya sendi. Untuk sisiran dan lain sebagainya Jati melakukan sendiri. Ruangan kamar pun jadi terasa dingin. Karena Jati yang mengunci mulutnya. Laki-laki usia dua puluh tahun itu memilih mengambil laptop dan mengecek laporan pekerjaan.
Tok... tok... tok ...
Pintu di ketuk dari luar dan tidak lama Nara muncul dengan menunjukan gigi putihnya.
"Kakak, Abang waktunya makan malam."
__ADS_1
"Abang makanya nanti aja," balas Jati tidak ingin melihat wajah papahnya.
"Tapi Papah bilang ingin bicara dengan Abang dan Kak Qara," imbuh Nara.
Jati membuang nafas dan meletakan laptopnya, lalu menggerakan kursi roda sendiri. Sedangkan Qara pun mengikut Jati dari belakang. Qara membantu Jati pindah ke kursi makan, dan kali ini Jati justru bersikap romantis.
"Terima kasih Sayang."
Cup ... Jati mencium pucuk kepala Qara, dan setelahnya ia melihat reaksi Thomy yang bisa dilihat dari sorot masanya kalau laki-laki itu tidak suka dengan perlakuan Jati tetapi Jati malah semakin senang.
Qara pun tahu kalau apa yang Jati lakukan semata karena ingin membuat Thomy marah dan kesal. Qara hanya bisa diam seba salah kalau Qara meminta Jati untuk tidak menciumnya pasti Jati akan semakin curiga kalau Qara menikah dengan dirinya memang hanya bekerja untuk Thomy.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1