
Pukul tujuh malam. Jati dan yang lainya mengadakan pesta di rumah baru Qara. Eh, ini bukan pesta seperti yang orang lain sering adakan, ini hanya kumpul bersama dengan masak nasi liwet khas sunda, dan tentu lalapannya dari kebun Abah. Sudah jadi tradisi ketika berpergian maka mereka akan membawakan hasil kebun.
Setelah acara kumpul-kumpul dan makan bersama berakhir. Kini Jati dan Dewa pun pamitan pada Qara. Yah, kini Qara dan Jati harus tinggal terpisah, sampai kapan? Entahlah mereka pun tidak tahu sampai kapan mereka akan jalani hidup seperti ini. Yang jelas saat ini mereka sedang berjuang untuk sembuh hubungan yang normal.
Di kamar yang cukup luas dan nyaman. Jati dan Qara berdiri berhadapan. "Sayang, aku pulang dulu yah. Kamu semoga betah di sini dan kalau ada apa-apa kamu infoin aku yah," ucap Jati kedua tangannya menangkup pipi Qara, dapat Jati lihat ada gurat kesedihan di wajah istrinya. Namun, kembali keperjuangan cinta. Nikah itu butuh perjuangan.
"A Jati juga jaga diri yah. Janji sama Qara kalau A Jati akan cepat sembuh dan sering bermain ke sini. Karena pasti Qara akan sangat kangen kalau A Jati tidak main ke sini," balas Qara, dengan mengembangkan bibirnya dengan manis.
"Aku janji akan sering bermain ke sini, tapi itu pun kalau kondisi memungkinkan. Karena kalau memaksakan datang malah aku takut nanti Papah akan tahu kalau kita hanya sedang bersandiwara."
Qara mengangguk lagi-lagi mencoba mengerti dengan keadaanya. Dan setelah mereka melepas rindu. Jati dan Dewa pun pulang. Berat pasti itu yang Qara rasakan ketika melepas Jati untuk pulang, tapi tidak ada alasan lain selain ia harus sabar. Wanita itu yakin kalau akan ada pelangi setelah hujan badai. Begitupun dengan Jati yang memiliki keyakinan sama, pasti ada bahagia setelah duka.
*******
Dengan berat hati Qara melepaskan Jati pulang ke rumah keluarganya. Sedangkan ia di sini akan berjuang dengan doa dan usaha untuk membuktikan bahwa cinta yang mereka punya bukanlah isapan jempol belaka.
"Qara bisa kamu duduk," ucap Abah dengan menujuk korsi di hadapannya setelah Jati pulang. Yah, Qara tahu meskipun Jati dan Dewa menjelaskan apa yang terjadi dengan berbagai alasan, pasti sebagi orang tua Abah merasakan sesuatu yang janggal.
Wanita berhijab itu pun mengikuti apa kata Abah. Duduk di hadapan Abah dengan wajah menunduk. Qara sudah siap dengan segala yang akan ditanyakan oleh abahnya.
Untuk sesaat ruangan keluarga hening, Qara pun masih menunduk mendengarkan apa yang akan abahnya tanyakan nanti.
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari Abah?" Sesuai dengan apa yang Qara bayangkan. Pertanyaan itu yang keluar dari bibir Abah.
__ADS_1
Wanita itu mencoba menghembuskan nafas beratnya sebisa mungkin tetap tenang dengan apa yang abahnya katakan.
"Seperti yang A Jati katakan tadi kalau A Jati akan menjalani pengobatan dan sekarang A Jati ingin fokus dengan kesembuhanya makanya A Jati minta agar Qara tinggal untuk sementara waktu di rumah ini," balas Qara, alasan yang ia katakan tentu sama dengan alasan yang Jati dan Dewa katakan sebelumnya.
"Tapi kenapa Abah justru tidak melihat seperti itu. Kamu istrinya seharusnya ketika Jati akan melakukan pengobatan atau terapi dan apa pun itu kamu akan ikut dan menemani Jati bukan malah kamu bersembunyi di sini." Yah, sebagai orang tua Qara tentu tahu kalau Abah bisa merasakan ada yang tidak beres dengan hubungan pernikahan kami.
"A Jati berobat tidak di Jakarta Bah, akan coba berobat ke negara sebelah. Dan A Jati ingin kalau Qara tetap di sini karena A Jati akan berangkat dengan Dewa. Kalau Qara ikut malah tidak enak dengan Dewa, dan kalau tinggal di rumah mertua, jujur Qara tidak betah." Wanita berhijab itu untungnya sudah menyiapkan jawaban yang masuk akal agar Abah tidak bertanya hal-hal yang lain-lain lagi. Qara tidak ingin menambah masalah dengan abahnya.
"Semoga apa yang kamu katakan emang benar yah. Kamu dan Jati sedang tidak mencoba menyembunyikan sesuatu."
"Qara tidak berani untuk menyembunyikan sesuatu Bah. Apa yang Qara bicarakan memang begitu adanya."
Kini Qara bisa bernafas lega, karena Abah bisa percaya dengan alasan yang Qara katakan, meskipun Qara masih bisa menilai kalau Abah tidak sepenuhnya percaya, tetapi setidaknya Qara tidak dicecar lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan.
********
Ketika Qara sudah aman tinggal di rumah persembunyiannya. Jati pun baru pulang ke rumah tepat pukul sepuluh malam. Yah sesuai yang Jati dan Dewa tebak juga, kalau Thomy dan Iren belum tidur dua orang itu masih duduk di ruang keluarga, sudah bisa mereka tebak kalau Thomy dan Iren menunggu Jati pulang.
"Jati, bisa duduk sebentar." Iren yang langsung menghampiri Jati dengan wajah yang cemas. Sedangkan Jati sendiri tentu menunjukan wajah masam juga. Jelas yah harus memberikan wajah sedih agar akting yang dia lakukan lebih natural.
"Wa, loe pulang aja. Terima kasih yah sudah bantu gue." Jati memberikan kode pada Dewa agar pulang saja, dari pada nanti Thomy ikut introgasi Dewa, ya meskipun Jati dan Dewa sudah pasti menyiapkan jawaban yang sama. Antisipasi kalau ada pertanyaan-pertanyaan colongan.
"Kalau gitu gue pulang yah, loe semoga cepat sembuh." Sesuai yang Jati inginkan maka Dewa pun langsung pulang. Sedangkan Jati menggerakan korsi rodanya agar duduk mendekat dengan ke dua orang tuanya.
__ADS_1
"Apaa kamu sudah antarkan Qara?" tanya Iren, dengan wajah yang terlihat sedih. Jati tahu kalau mamahnya sudah bisa menerima Qara, hanya sapa papahnya masih tidak setuju dengan Qara. Jadi rasanya percuma kalau Iren menerima Qara, tapi aku Thomy tidak melakukan itu.
"Sudah Mah, lagian kalau belum pasti Qara ada di sini. Udah lah Mah, jangan bahas Qara lagi kepala Jati sedang pusung banget," elak Jati dengan tangan yang mencoba memijat pelipis kepalanya, agar terlihat kalau apa yang dia katakan memang benar kalau kepalanya sedang sakit.
"Ada omongan apa dari abahnya Qara?" Kali ini Thomy yang angkat bicara.
"Seperti orang tua lain, pasti kecewa ketika Jati datang dan mengembalikan anaknya. Tapi mereka tahu kok, dari pada dipaksa bertahan yang ada malah semakin menciptakan hubungan tidak sehat," balas Jati dengan jawaban yang tentunya sudah ia siapkan.
"Kamu kasih uang untuk mereka?" tanya Thomy lagi.
"Tidak. Lagian Qara juga menolak ketika mau dikasih uang. Mungkin dia tidak butuh uang-uang dari Jati." Kembali Jati menjawab dengan jawaban yang sudah dia siapkan.
"Udah tidak ada yang dibahas kan Pah, Mah, kalau gitu Jati akan masuk ke kamar," ucap Jati, kembali ia menggerakkan korsi rodanya.
Pasangan suami istri itu pun tidak lagi bertanya pada Jati karena mereka tahu Jati sedang sedih.
"Oh iya Pah Mah, mulai besok Jati akan kembali bekerja. Di rumah suntuk," ucap Jati tanpa membalikan badannya.
Dengan bekerja selain mengalihkan perhatian Thomy, Jati juga bisa dengan tenang mengawasi Thomy yang mungkin saja akan membahayakan Qara dan keluarganya.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1