Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Surat Kontrak Pernikahan


__ADS_3

"Bagaimana para saksi sah?" tanya Penghulu pada saksi pernikahan Qara dan juga Jati.


"Sah!" Secara bersamaan saksi pernikahan menjawab dengan keras.


"Alhamdulillah."


Abah dan yang lainya mengucapkan hamdalah. Sejak saat ini Qara pun sudah sah sebagai istri dari Jati. Doa pernikahan pun di panjatkan oleh penghulu dan tanpa ketinggalan juga abah mendoakan anak dan menantunya agar pernikahan mereka penuh dengan kebahagiaan. Tanpa terasa air mata Qara pun terus menetes.


Ini adalah hari bahagianya sekaligus ada rasa sedih ketika ia tahu kalau sejak saat ini tandanya ia akan tinggal berjauhan dengan abah dan kedua adiknya.


"Kenapa nangis?" tanya Abah dengan suara lembut dan mengusap punggung putrinya.


"Qara hanya sedih, nanti Abah, Diki dan Deva bakal tidak tinggal lagi sama Qara," jawab Qara menangis di pelukan abahnya.


Dengan tangan yang lembut Abah mengusap lembut hijab putrinya. "Kamu jangan khawatir, Abah tidak akan ada apa-apa meskipun hanya tinggal dengan adik-adik kamu. Mereka anak yang rajin pasti bisa menggantikan kamu," balas Abah dan dibalas anggukkan oleh Qara, yah memang  tidak seharusnya Qara menangis ini adalah hari bahagianya. Kalau Qara terus menangis malah nanti abahnya akan curiga kalau sebenarnya ia tertekan dengan pernikahan ini.


Setelah acara pernikahan. Abah sore harinya pun pulang diantarkan oleh Dewa lagi.


"Qara, Jati, Abah pulang dulu yah. Kamu semoga cepat sembuh, dan buat Qara layani suami kamu dengan baik. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia hingga kakek dan nenek." Abah berdoa dengan tulus untuk anak dan menantunya. Entah berapa kali laki-laki berpeci itu mendoakan anak dan menantunya.


Bahkan Abah pun menasihati Jati dan juga Qara apabila ada masalah dan masih banyak lagi nasihat yang Abah berikan pada menantu dan anaknya.

__ADS_1


"Baik yah, terima kasih untuk izin yang Abah berikan akhirnya Jati bisa menikahi Qara. Jati akan membahagiakan anak Abah sebisa Jati." Jati berjanji pada orang tua Qara.


"Wa, gue titip Abah yah antarkan dengan selamat." Jati meminta tolong pada sahabatnya agar mengantarkan mertuanya, dan tentu Jati juga memberikan uang pada Dewa agar sebelum mengantarkan mertuanya lebih dulu membelikan oleh-oleh untuk adik-adik iparnya. Terutama untuk Deva yang sangat dekat dengan Jati.


Setelah berpamitan dengan menantu, anak dan besannya. Pukul empat sore Abah pun pulang diantar oleh Dewa, sedangkan ke dua orang tua Jati pun masih tinggal di rumah sakit.


"Qara bisa ikut Papah sebentar," ucap Thomy, ini adalah obrolan pertama antara Thomy dengan Qara paska pernikahan putranya. Untuk pertama kalinya juga Thomy membiasakan diri dipanggil Papah oleh Qara sama halnya dengan panggilan dari Jati.


Qara menatap Jati, untuk meminta izin dari suami barunya.


"Kenapa tidak di sini saja ngomongnya Pah?" tanya Jati, tentu ingin tahu apa yang terjadi di antara orang tuanya dan juga Qara.


Qara mengusap pundak Jati.


"Yang dikatakan Papah dan Mamah benar, tidak enak kalau dokter yang datang ke sini. Ini tidak akan lama kok." Qara mencoba membuat Jati agar tetap tenang.


"Ok baiklah, tapi nanti kamu katakan juga apa yang kalian bicarakan," balas Jati sebelum mengizinkan Qara ikut dengan papahnya. Sebagai jawaban atas permintaan Jati, Qara hanya memberikan seulas senyum teduh, agar Jati tidak kepikiran atas apa yang mereka bahas nantinya.


Setelah mendapat izin dari Jati, Qara pun langsung berjalan mengikuti ayah mertuanya. Untuk urusan menjaga Jati untuk sembentara waktu diserahkan pada Iren.


Qara duduk di samping Thomy, untuk beberapa saat mereka terlibat kebisuan. Baik Thomy maupun Qara tidak langsung berbicara. Wanita yang sudah resmi menyandang setatus menatu dari Thomy membiarkan ayah mertuanya yang berbicara lebih dulu.

__ADS_1


Thomy pun mengambil kertas yang sudah ia persiapkan untuk perjanjian dengan Qara. "Kamu bisa tanda tangan di sini!" Thomy mengulurkan kertas perjanjian itu.


Tanpa pikir panjang dan buang waktu Qara pun mengambil kertas dan pena yang Thomy ulurkan, dan menanda tangani apa yang Thomy perintah. Tanpa ingin membacanya, karena Qara jelas sudah tahu apa isi dari surat perjanjian yang kemarin sempat ia bahas bersama dengan ke dua mertuanya.


"Apa kamu tidak ingin membacanya dulu?" tanya Thomy ketika melihat Qara tanpa berbicara dan membaca langsung membubuhkan tanda tangan.


"Tidak perlu, karena saya yakin kalau apa yang Anda katakan itu demi kebaikan anak Anda. Saya rela dan ikhlas merawat anak Anda, jadi tidak usah dibaca pun saya rasa tidak akan rugi." Qara kembali menyerahkan selembar kertas yang sudah ia tanda tangani pada Thomy.


"Bagus, saya suka dengan jawaban kamu. Semoga kamu bisa merubah anak saya, dan merawat dengan baik."


Mendengar ucapan Thomy, Qara hanya mengulas senyum masam.


"Anda jangan khawatir, saya orang yang tidak pernah ingkar janji," balas Qara dengan tegas. Ia tidak akan merasa takut atau tersudut dengan ucapan-ucapan dari mertua kontraknya.


Bersambung....


...****************...


Teman- teman sembari nunggu kelanjutan kisah A Jati dan Teh Qara mampir yuk ke novel bestiee othor di jamin bikin baper.


__ADS_1


__ADS_2