
Selama makan malam, Jati benar-benar membuat Thomy kebakaran jenggot. Tingkahnya yang sok mesra pada Qara jelas membuat Thomy beranggapan kalau Qara memang sudah mulai memanfaatkan kebaikan Jati dan mulai melanggar perjanjianya, padahal Qara datang ke rumah ini belum ada dua puluh empat jam. Namun, sudah berani melanggar janji yang mereka sepakati.
"Sayang, kamu makan yang bayang, biar nanti malam makin kuat," ucap Jati di tengah-tengah makan malam mereka.
Uhukk ... uhukkk .... Qara langsung terbatuk ketika mendengar ucapan Jati, wanita berhijab itu pun hanya memejamkan matanya. Tentu siap-siap ia akan dapat masalah dengan papah mertuanya. Apalagi Qara tau dari tadi Thomy terus memperhatikannya.
"Kenapa nggak dijawab, kamu jangan malu-malu kaya gitu, bukanya suami istri udah biasa kalau malam lembur." Jati terus mengoceh.
"Jati, jaga bicara kamu, ini meja makan jangan berisik, apalagi yang kamu bicarakan tidak pantas didengar oleh adik-adik kamu." Thomy yang kesabaranya sudah habis pun mulai menegur Jati.
Jati pun mengulas senyum, dan langsung diam, bukan karena dia takut dengan papahnya, tetapi dia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya tadi. Qara ditekan oleh papahnya sehingga Qara tidak mau melayaninya, alasannya apa Jati tidak tahu, tetapi ia sangat yakin kalau Qara tidak mungkin melakukan itu andai papahnya tidak menekan. Jati hanya mengerakan kepalanya naik turun.
Makan malam pun berjalan dengan lancar seperti biasa Nara dan Noah sudah masuk ke dalam kamarnya untuk belajar. Di meja makan kini hanya tinggal Thomy, Iren dan juga pasangan pengantin baru Qara dan Jati..
"Jati, Qara, Papah mau bicara." Thomy lebih dulu membuka obrolan.
Qara mengangguk tanda siap untuk berbicara dengan mertuanya. Namun berbeda dengan Jati yang mengulas senyum penuh arti.
__ADS_1
"Maaf Pah, Jati tiba-tiba mual." Jati menatap Thomy.
"Sayang, tolong antar aku ke kamar. Aku pengin muntah," ucap Jati mencari cara agar tidak ada obrolan dengan papahnya. Jati pun harus terus memperhatikan Qara agar tidak mengajaknya berbicara hanya berdua. Karena pasti tidak aman untuk Qara. Qara justru bergeming bingung mau antar suaminya ke kamar atau tetap di sini untuk mendengarkan ceramah dari Thomy.
"Qara, kamu antar Jati ke kamar. Ngobrol bisa lain kali, sekarang yang terpenting kesehatan Jati dulu." Iren menatap tajam pada Qara agar memabawa Jati ke kamarnya.
"Baik Mah."
Sesuai yang diinginkan oleh Jati, Qara memilih mengantar Jati ke kamar. Ya jelaslah Qara tahu kalau suaminya tidak benar-benar perutnya tidak enak dan ingin muntah. Ini adalah akal-akalan Jati aja.
"A Jati mau muntah benaran?" tanya Qara begitu sudah sampai kamar.
Lagi pula kalau melanggar peraturan itu juga tidak akan berdosa. Itu yang ada dalam pikiran Jati.
Qara yang bingung, serba salah dan juga tidak enak dengan Jati pun menatap jam di dinding. "Qara belum sholat, mau sholat dulu," ucap Qara bersiap-siap akan ke kamar mandi.
"Aku juga belum sholat, gimana kalau kita ibadah bareng?" tawar Jati ia tidak akan menyerah dengan Qara yang terus menghindar.
__ADS_1
Qara mengulas senyum dan menganggukan kepalanya. "Kalau gitu Qara bantu untuk bersuji." Tanpa menunggu lama Qara pun membantu Jati untuk mengambil wudhu.
Pasangan suami istri itu pun untuk pertama kalinya sholat berjamaah, meskipun Jati masih belajar memperdalam ajaran agama, tetapi cukup bisa diandalkan untuk meng-imami Qara. Terakhir setelah melangitkan doa pada Sang Pencipta. Qara pun bersalaman dengan takzim pada Jati dan Jati pun mencium kening Qara untuk beberapa saat.
Jati memegang kedua tangan Qara dan pandangan mata mereka saling bertemu. "Kita ibadah yang lain yuk," bisik Jati dengan suara yang lirih.
Deg! Ini yang Qara takutkan.
"Dosa hukumnya kalau tidak mau. Kamu tentu jauh lebih tahu apa hukumnya menolak keinginan suami. Bukanya sudah jadi kewajiban istri untuk melayani suaminya, baik lahir apalagi batinnya." Tangan Jati pun memegang pipi Qara yang memerah.
Qara sendiri hanya bisa bergeming, dan tidak bisa menolak lagi, karena pasti Jati akan marah lagi dan mulai ngelantur. Memang benar juga apa yang dikatakan oleh Jati kalau ia akan berdosa kalau tidak memberikan haknya yang harus didapatkan oleh suaminya.
Namun, Qara juga takut dengan ancaman Thomy yang akan membahayakan abah dan kedua adiknya.
"Kita melakukannya pelan-pelan. Aku janji Papah tidak akan tahu kalau kita sudah melakukan hubungan suami istri," bisik Jati dengan mengulurkan jari jemarinya menyusuri leher belakang Qara.
Rasa yang aneh langsung menjalar di tubuh Qara.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...