Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Manisnya Nara


__ADS_3

Di kamar Jati, kini hanya tinggal Qara, Jati dan juga Nara. Gadis usia tiga belas tahun itu sudah sangat akrab dengan Qara. Apalagi Qara itu sangat baik sehingga Nara cepat akrab dengan kakak iparnya.


Sekarang sudah jatahnya makan siang Qara pun melayani Jati dengan sangat baik seperti biasanya Jati disuapi oleh Qara dengan sangat telaten. Padahal Jati bisa makan sendiri tentunya. Namun, Qara ingin benar-benar bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan ke dua orang tua Jati sehingga ia memberikan pelayanan yang sangat baik untuk suaminya.


"Kak, kenapa disuapi segala sih. Abang kan bisa makan sendiri manja banget," protes Nara dengan menatap malas pada abangnya yang justru semakin maja setelah menikah.


"Bawel banget lu bocil, udah sana balik ke kamar loe. Belajar kek. Tuh Noah aja sudah balik ke kamarnya, kenapa loe nggak balik juga ke kamar loe," usir Jati yang jelas merasa terganggu dengan adanya Nara di kamarnya. Adiknya memang semua seperti itu selalu saja rese baik Nara maupun Noah selalu saja bawel.


"Yeh, Abang tuh yang manja. Lagian ini kan kamar Abang dan Kak Qara juga. Dan Kak Qara tidak keberatan kalau Nara ada di kamar ini iyakan Kak? Kenapa Abang yang sewot. Weee ..." Nara menjulurkan lidahnya semakin menantang Jati.


"Iya Sayang. Kakak seneng malah kalau Nara di sini. Kakak jadi tidak sepi ada yang diajak cerita," balas Qara sembari mengusap ramput adik iparnya yang duduk tidak jauh dari Qara.


"Begini-nih yang bikin anak ini ngelunjak. Terlalu disayang. Jadi nanti tambah manja," balas Jati dengan memberikan tatapan tidak suka pada adik kandungnya yang justru lebih dekat dengan Qara. Bahkan Nara tidak malau untuk bermanjaan pada Qara. Yah, gadis usia tiga belas tahun yang sangat kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya ketika datang Qara yang sangat penyayang dan mengayomi pun cukup bahagia dan merasa sangat dekat.


Tidak hanya Nara, Noah pun cukup dekat dengan Qara, hanya mungkin karena Noah adalah laki-laki dan saat ini sudah mulai transisi dari masa remaja ke masa dewasa sedikit canggung kalau mau bermanjaan seperti Nara. Kalau Nara yang masih tergolong remaja tidak segan-segan meluk cium bakan bermajaan dengan kakak iparnya yang baik. Jati bahkan sampai iri karena pada kenyataanya Qara jauh lebih hangat dengan Nara.

__ADS_1


"Abang juga, padahal bisa makan sendirikan, tapi malah minta disuapin. Padahal Kak Qara pasti cape." Nara kembali memonyongkan bibirnya meledek Jati.


Brugghhh ....


Jati yang kesabaranya setipis tisu pun langsung melempar bantal pada adik bungsunya.


"Kakak ... lihat tuh, Abang kasar banget," adu Nara pada Qara.


"A udah ah jangan kasar. lagian Nara cuma bercanda kok. Jangan dibiasakan kasar nanti malah jadi kebiasaan ringan tangan." Sesuai yang diharapkan oleh Nara, Jati langsung dapat pencerahan dari Qara.


Jati yang sebenarnya marah dan kesal sekali dengan Nara pun hanya bisa melebarkan matanya dan mengumpat dalam hati. Ia tidak seperti Qara yang akur dengan adik-adiknya. Kalau Jati justru kurang dekat dengan adik-adiknya terutama Nara, Jati sering berantem karena adik-adiknya jahil dan ngeselin. Mungkin karena dari kecil mereka saling diasuh oleh pengasuh dan kurang dekat jadi mengakibatkan rasa seperti Jati kurang dekat dan kurang ada ikatan batin dengan adik-adiknya. Mereka akan akur, tapi hanya beberapa jam saja setelah itu akan kembali saling bertengkar.


"Terima kasih Kakak, sekarang Abang nggak bisa galakin Nara lagi, karena ternyata Kak Qara adalah pawang paling ditakuti Abang." Nara memeluk Qara dengan mesra.


"Sama-sama Sayang. Kamu nggak makan siang?" tanya Qara pada Nara padahal ini sudah jam makan siang.

__ADS_1


"Mau, tapi pengin disuapin kaya Abang." Nara menunjuk abangnya dengan manja.


"Jangan mau Sayang, biar dia makan sediri udah gede juga. Lagian kamu istri aku bukan pengasuh dia," protes Jati.


"Ya udah nanti kalau sudah selesai Abang, dan Abang sudah minum obat. Kakak suapi Nara kebetulan Kakak juga belum makan." Qara justru kembali membuat Nara besar kepala.


"Yes ... Terima kasih Kak." Nara berjingkrak bahagia dan mencium pipi Qara berkali kali lalu meledek Jati karena Qara lagi-lagi membelanya.


"Dasar parasit ..." umpat Jati dengan mata terus melebar.


"Udah nggak apa-apa A, lagian kalau Aa sudah makan dan minum obat kan harus istirahat. Qara kesepian. Kalau ada Nara, Qara jadi ada teman ngobrolnya."


Mendengar pembelaan dari kakak iparnya Nara pun semakin meledek Jati.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2