Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Terpesona dengan Kecantikan Calon Istri


__ADS_3

TepatĀ  pukul sembilan Qara, Dewa dan juga Abah sudah sampai di rumah sakit. Kedatangan Qara dan abahnya pun disambut dengan ramah oleh orang tua Jati, bahkan Qara merasa kalau orang tua Jati kali ini benar-benar berbeda dengan biasanya. Terutama Thomy juga tidak biasanya tersenyum dengan ramah pada calon menantu dan besannya.


Lagi-lagi Qara pun tahu apa yang Thomy dan Iren lakukan adalah sebatas pura-pura. Yah tentu agar Abah tidak berpikir macam-macam.


Dengan keramahan mereka Abah juga pastinya akan berpikir kalau pernikahan Qara memang sangat disetujui oleh orang tua dari Jati. Karena restu dari Abah penting sehingga mereka rela melakukan ini semua.


"Selamat datang Abah, ini adalah suatu kehormatan bisa ketemu langsung dengan Abah." Thomy mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan calon besannya. Begitupun dengan Iren wanita cantik itu pun melakukan hal yang sama dengan suaminya yaitu berjabat tangan dengan hangat bersama abahnya Qara.


Qara sendiri pun melakukan hal yang sama bersalaman layaknya menantu yang benar-benar diinginkan di keluarga mereka.


"Senang juga saya bisa ketemu dengan orang tua Nak Jati." Abah dan kedua orang tua Jati pun menuju sofa untuk mengobrol saling mengakrabkan diri. Sedangkan Qara memilih duduk di samping Jati, bersama Dewa tentunya, yang menghadiri pernikahan Qara dan Jati. Pernikahan Qara dan Jati benar-benar hanya orang tua mereka, dan hanya ada Dewa yang datang jadi teman Jati.


Selain karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk Jati yang masih sakit. Pernikahan mereka juga di lakukan di rumah sakit, sehingga tidak boleh banyak orang yang hadir ke pernikahan mereka.


"Sekarang kondisi loe gimana?" Dewa yang lebih dulu bertanya pada Jati.

__ADS_1


"Jauh lebih baik," balas Jati dengan duduk bersandar kali ini bahkan Jati tampak jauh lebih segar, wangi dan rambutnya pun tampak basah, sepertinya habis di bersihkan dan shampoan. Jati juga berpakaian dengan baju koko, menambah ketampanannya.


"Qara kamu ganti pakaian dulu, penghulu sudah mau datang." Iren mendekat ke calon menantunya dan meminta ganti pakai kebaya dan bersolek agar tidak terlalu pucat. Jati pun menatap kagum pada Qara, yang mau menerima dirinya dengan segala kekurangannya.


Di saat di luaran sana banyak wanita meninggalkan laki-lakinya di saat sang laki-laki diuji dengan mengalami sakit seperti Jati, Qara justru datang menawarkan diri karena ingin ia yang merawat Jati. Sangat beruntung ketika ia bertemu dengan Qara itulah yang dirasakan oleh Jati.


Qara sendiri mengikuti Iren untuk berganti pakaian dengan kebaya dan bersolek, tentu Iren yang membantu Qara untuk bersolek. Karena Qara adalah cewek yang tidak suka ber make up bahkan ia malah tidak memiliki perlengkapan seperti itu kecuali lipstik dan bedak minyak wangi selebihnya Qara pun tidak tahu bagaimana cara pemakaiannya.


"Kamu cantik sekali Qara, pantas anak Tante suka sama kamu, wajah kamu natural saja sudah cantik," puji Iren ketika mengusapkan alat-alat make up di wajah cal;on menantunya. Jujur sejak tadi Qara banyak diam karena masih canggung ini adalah kedekatan pertama dengan Iren, calon mertuanya.


"Yah, memang baik itu nomor pertama. Tapi Tante hanya mau bilang terima kasih sudah mau membantu Tante dan suami Tante untuk menjaga Jati, kami percaya dengan bantuan dari kamu, pasti Jati akan cepat sembuh." Tangan Iren dengan lihai memoleskan satu persatu alat make up hingga Qara benar-benar tampil jauh lebih cantik dari biasanya, hijab dan kebaya yang ia kenakan pun sangat cocok dengan make up hasil karya dari tangan Iren.


"Sama-sama Qara sendiri juga suka membantu menjaga A Jati."


"Kalau gitu ayo kita ke luar kayaknya penghulu sudah datang. Qara dan Iren pun ke luar dari kamar mandi. Benar saja penghulu sudah datang. Pandangan Jati pun tidak berkedip ketika melihat calon istrinya yang ke luar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Hatinya memang tidak salah memilih Jati benar-benar dibuat jatuh cinta sejak pertama bertemu dengan Qara, dan sekarang wanita itu berdiri di hadapannya dengan penampilan yang sangat cantik. Kebaya seadanya dan make up hanya dibantu oleh calon mertuanya tetapi Qara sudah terlihat sangat cantik.


"Sabar, ijab kabul dulu biar bisa belah duren," bisik Dewa yang melihat Jati tidak juga berkedip. Yah, Dewa sendiri akui Qara memang sangat cantik, andai Qara bukan calon istri dari sahabatnya mungkin Dewa juga akan bersaing. Apalagi setelah tahu kalau pernikahan Jati dan Qara hanya dianggap hitam di atas putih bagi kedua orang tua Jati.


Namun, demi nama baik dan juga demi persahabatan Dewa pun harus mengalah membiarkan Jati menikah dengan Qara.


Bersambung...


...****************...


Teman-teman sembari nunggu jawaban sakit Abang Hadi. Mampir yuk ke novel OTHOR yang baru, masih sepi banget kayak kuburan keramat.


Mampir yah dukung Mbak Gatot dan Dokter Doni Mahendra mendapatkan cinta sejatinya.


__ADS_1


__ADS_2