
Jadi A Jati dan Kakak Qara tidak berpisah? Kenapa tega bohongin Nara," lirih gadis kecil itu dengan tatapan yang tajam meminta penjelasan pada sepasang suami istri yang sedang kencan.
"Berisik, kenapa loe bisa ada di sini sih?" sungut Jati, hatinya dongkol, dan juga marah serta kesal gara-gara Nara. Kencana romantisnya terancam gagal.
"A Jati, jangan dibiasain ah. Marah-marah terus sama adiknya." Qara bergantian menatap Nara dan mengembangkan senyumnya.
"Nara, apa kabar. Kamu ke sini sama siapa." Qara meraih tangan Nara dengan lembut dan menggenggamnya. Inilah yang membuat Nara dan Jati luluh. Sifat lembut Qara yang tidak semu orang miliki. Membuat Nara dan Jati yang sama-sama punya sifat keras pun luluh.
"Nara datang dengan Mamah dan Papah," jawab Nara dengan suara lembutnya.
Sontak saja Jati langsung melebarkan kedua matanya ketika mendengar jawaban adik bungsunya.
"Ka ... kamu datang dengan Mamah dan Papah?" tanya Jati dengan tersengal.
Nara pun mengangguk tanpa dosa, dan memang ia tidak tahu apa-apa. Sehingga tidak ada yang perlu ditutupi.
"Di mana Mamah dan Papah?" tanya Jati dengan pandangan mata mengedar keseluruh penjuru mall, tetapi tidak berhasil menemukan ke dua orang tuanya.
"Ada di restoran itu. Nara keluar mau beli makanan di sana." Nara menunjuk food court yang menjajakan makanan dari negara Korea.
__ADS_1
"Ikut kita!" Jati langsung mengamankan Nara. Agar tidak ketahuan orang tuanya. Nara pun tanpa protes ikut ke mana Jati membawanya. Begitupun Qara yang mengekor di belakang mereka.
Jati membawa Nara ke tempat parkir motor. Karena di tempat itu Iren dan Thomy tidak mungkin tahu keberadaan Jati dan Qara.
"Abang lepas!" Nara berontak setelah sampai di tempat parkir.
"Awas kalau kamu bilang sama Mamah dan Papah kalau kita masih bersama," ancam Jati dengan suara penuh penekanan.
"Tidak bisa Mamah dan Papah harus tahu. Karena Abang sudah bohong." Nara nampaknya justru meledek Jati.
Jelas Jati yang kesabarannya setipis tisu pun langsung meradang lagi. "Heh, asal kamu tahu yah gue bohong juga demi kebaikan. Loe tahu kan bagaimana sifat papah kamu. Siapa yang mau kalau istri aku justru dia buat selalu tertekan. Dan salah satu cara aku melindungi kakak ipar kamu ya dengan cara bohong dan menyembunyikan Qara. Loe masih kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa," sungut Jati dengan suara yang semakin meninggi.
"A udah lah, lagian wajar Nara bilang gitu. Karena kita yang sudah berbohong." Berbeda dengan Jati yang berbicara dengan suara yang cukup keras dan dingin penuh emosi. Qara selalu berbicara dengan nada bicara yang lembut dan menjadi penengah di antara kakak beradik itu.
Sesuai yang diinginkan oleh Qara. Jati pun diam. Kini gantian Qara menatap adik iparnya dengan tatapan yang teduh.
"Kita duduk di sana yah." Kini gantian Qara menuntun adik iparnya agar duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Lagi-lagi Nara tidak protes. Gadis kecil itu mengikuti ke mana Qara menuntunnya.
Jati pun mengekor di belakang sang istri dan adik iparnya.
__ADS_1
Qara dan Nara kini duduk berhadapan. "Nara, apa yang kami lakukan memang salah karena sudah berbohong, tetapi kami melakukan demi kebaikan kami. A Jati ingin memberikan waktu untuk Kakak dan A Jati saling memahami perasaan kami. Hingga kami yakin kalau memang kami akan tetap melanjutkan hubungan pernikahan kami. Kamu hanya tahu kami berbohong, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan kami dengan Om Thomy dan Tante Iren. Ada rahasia yang hanya kami ber-empat yang tahu. Itu alasan kita melakukan sandiwara perceraian ini. Namun, berhubung kamu sudah tahu semuanya. Kakak berharap kamu bisa menjaga rahasia ini sampai kami punya waktu untuk mengatakan yang sebenarnya pada orang tua kamu. Terutama Om Thomy." Qara berbicara dengan sangat hati-hati sehingga Nara pun mengerti dan diam tidak seperti saat berbicara dengan Jati.
"Baiklah Nara, akan tutup mulut. Tapi Nara pengin main ke rumah Kakak Qara." Nara mengembangkan senyum terbaiknya.
Mendengar ucapan Nara jelas Jati langsung kembali meradang. Dia aja baru ketemu sang istri beberapa jam yang lalu dan kini Nara malah ingin main ke rumah persembunyian Qara. Jelas bisa bikin gagal acara mengadon lanjutan yang sudah Jati rencanakan.
"Gak bisa. Kamu lebih baik pulang. Lagi pula kamu masih kecil mana bisa kamu pergi-pergi. Nanti papah kamu dan mamah kamu marah lagi." Jati dengan tegas menolak apa yang Nara inginkan.
"Ya udah kalau tidak diizinkan untuk ikut Nara bakal bilang ke Papah," balas Nara dengan nada penuh ancaman.
Kembali Qara menghirup nafas dalam, karena Jati dan Nara lagi-lagi beradu mulut.
"Sekarang Nara jangan main dulu yah. Kakak masih belum siap kalau Om Thomy tahu di mana Kakak tinggal. Tapi kami janji kalau semuanya sudah siap. Kapanpun Nara mau main Kakak tidak akan larangan. Tolong untuk saat ini biarkan kami nikmati hubungan ini tanpa ada masalah. Kalau Om Thomy tahu kami berbohong bukan hanya A Jati yang kena masalah. Bisa-biasa kakak dan keluarga kakak jadi korbannya juga."Qara memberikan tatapan penuh permohonan.
Nara pun kembali diam untuk berpikir. Yah, beruntung Jati memiliki istri yang sabar dan ngayomi. Kalau tidak mungkin Jati dan Nara akan terus bertengkar.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1