
[As'salamuallaaikum, A Jati, alhamdulillah akhirnya A Jati telpon juga. Qara takut terjadi apa-apa dengan A Jati,] cerocos Qara begitu sambungan telpon yang Dewa lakukan dengan ponsel Jati langsung di angkat oleh wanita yang diberi nama kontak di ponsel Jati bidadari surga yang ternyata namanya Qara.
[Wa'alaikumussalam, maaf Mbak, ini bukan Jati tapi temanya, namanya Dewa.]
Deg!!! Jantung Qara seolah berhenti berdetak ketika mendengar kalau di balik telepon Jati bukanlah laki-laki yang tengah ia cemaskaan. Melainkan laki-laki lain bernama Dewa. Lalu Jati ke mana?
[Dewa, temanya A Jati, jadi sekarang A Jati di mana?] tanya Qara dengan perasaan yang jauh lebih cemas dari yang sebelumnya. Meskipun laki-laki yang bernama Dewa belum mengatakan apa-apa mengenai keadaan Jati, tetapi Qara bisa menebak memang terjadi sesuatu dengan calon suaminya.
[Apa kita bisa ketemu?] tanya Dewa tanpa menjawab pertanyaan Qara. Perasan Qara yang memang sedang tidak baik-baik saja ketika mendengar pertanyaan Dewa, justru Qara terisak samar. Air matanya seolah mengejeknya. Membuat ia jadi wanita cengeng.
[Apa yang terjadi dengn A Jati?] tanya Qara sekali lagi. Ia hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan Jati, apakah mimpi buruknya benar-benar terjadi. Apakah harapan papahnya Jati akan benar-benar terjadi ia tidak bisa menjadi istri dari anaknya karena Jati yang menyerah untuk berjuang?
[Qara bisa tolong share alamat kamu tinggal, aku akan jemput kamu, dan aku akan jelaskan apa yang terjadi dengan Jati, tetapi maaf aku tidak bisa jelaskan di telepon,] jawab Dewa yang tahu kalau Qara tengah menangis.
__ADS_1
[Aku tidak kenal kamu, bagaimana kalau kamu adalah orang jahat?] tanya Qara memastikan lagi, apalagi ia memberikan alamat yang cukup privasi.
[Saya Dewa, teman dekat Jati, kalau aku berbuat jahat sama kamu, kamu bisa laporkan aku ke polisi dengan menyebut namaku polisi sudah kenal denganku, dan bisa membuat aku terkurung di penjara. Aku butuh bertemu dengan kamu, untuk membahas Jati. Tolong sekarang jangan bertanya banyak dulu. Katakan saja kamu tinggal di mana. Aku akan ceritakan kalau bertemu dengan kamu,] jelas Dewa, tanpa banyak membuang waktu dalam panggilan telepon.
Dan Qara pun tanpa pikir panjang lagi, ia langsung memberitahukan alamatnya. Tentu Dewa cukup kaget setelah tahu di mana Qara tinggal hampir dua jam ia harus tempuh perjalanan ke rumah Qara, tetapi demi Jati, Dewa pun rela datang ke rumah Qara.
Lagi-lagi Dewa syok melihat kondisi rumah Qara, karena Dewa tahu betul Jati adalah anak orang kaya raya, tetapi kalau Qara adalah kekasih Jati rasanya sangat mustahil. Tanpa mendengar penjelasan dari Qara, Dewa pun bisa menarik kesimpulan dari hubungan Jati dan Qara. Yah, Dewa bisa menebak bahwa hubungan Qara dan Jati pasti terhalang restu. Orang tua Jati kaya raya seperti mustahil kalau mengizinkan Jati berhubungan dengan Qara.
"Maaf A Dewa, rumah Qara hanya begini." Sama seperti pertama kali Jati datang, Qara pun meminta maaf dengan kondisi rumahnya yang sangat sederhana. Qara tahu pasti teman-teman Jati juga orang-orang berduit. Terlebih Dewa datang ke rumahnya pun membawa kendaraan roda empat.
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan A Jati, Apa kecemasan Qara benar-benar terjadi?" tanya Qara dengan wajah yang sembab. Dewa bisa menyimpulkan di balik wajah cantik Qara sudah menangisi ketakutanya dengan Jati.
Dewa menyodorkan ponselnya, di mana di sana ada foto Jati yang tengah berbaring tidak sadarkan diri di ruang ICU dengan alat medis yang cukup banyak.
__ADS_1
Qara tidak langsung mengambil ponsel Dewa, ia benar-benar tidak siap tahu bagaimana kondisi Jati. Qara masih ingat betul ucapan Jati yang seolah laki-laki itu berpamitan untuk selamanya dengan Qara kalau ia menyerah berjuang.
Tes... air mata Qara jatuh seiring dengan tangan yang menyentuh ponsel Dewa. Air mata Qara semakin deras ketika melihat kondisi Jati. Pikiran Qara buntu, bahkan untuk sekedar bertanya kondisi Jati saat ini bagaimana, bibirnya kaku.
"Kondisi Jati koma, dan belum setabil." Dewa yang seolah tahu kalau Qara ingin tahu kondisi Jati, tetapi bibirnya kaku pun langsung memberitahukan kondisi Jati saat ini.
"A... apa boleh saya bertemu dengan A Jati?" tanya Qara dengan bibir bergetar sempurna.
"Yah, tujuan aku datang ke rumah kamu adalah agar kamu menemani Jati. Mungkin saja dia bisa sadar karena dijenguk oleh kekasihnya."
Dewa mengulas senyum setelah menatap wajah Qara yang masih memerah karena malu diledek Dewa.
Bersambung.....
__ADS_1
...****************...