Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Nasihat Qara


__ADS_3

"Semoga kamu berhasil merawat dan merubah Jati," ucap Thomy dengan memasukan surat kontrak yang sudah Qara tanda tangani.


"Mohon dukunganya Om." Qara berdiri dan membungkukan punggungnya dengan sopan lalu pergi ke ruangan Jati lagi. Sebelum masuk ke dalam ruangan Jati, Qara pun lebih dulu membuang nafas kasar dan menghembuskanya perlahan lalu masuk dengan wajah yang kebali tenang.


"Kok sebentar?" tanya Jati begitu Qara sudah masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Apa yang dokter jelaskan sudah Qara tahu jadi tidak harus berlama-lama, dan ternyata dokter juga ada kerjaan lain," jawab Qara.


Tidak lama Thomy pun menyusul. "Mah, berhubung sudah ada Qara kita pulang yuk, Papah banyak kerjaan. Qara nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi kita yah." Thomy berbicara dengan menatap Jati dan Qara.


"Papah tenang saja. Qara bisa diandalkan." Jati yang mencoba menjawab apa yang papahnya ucapkan.


Setelah berpamitan pasangan suami istri yang sudah tidak lagi muda pun langsung pulang. Sedangkan Qara sejak pertemuan antara Thomy pun jadi pendiam. Ia lebih banyak membaca novel online. Yang di tulis oleh OcyAenta judulnya Berandalan dikejar Nona Mudha. Dan novel itu ada di aplikasinya baca dengan lambang huruf F. Sok yang mau mampir juga boleh banget. Ramaikan lah biar nggak kaya kuburan keramat.

__ADS_1


"Qara, kamu ada yang disembunyikan?" tanya Jati dengan berusaha duduk menyandar pada sandaran ranjang.


"Tidak, mungkin karena ini adalah pertama kali Qara menjaga A Jati jadi sedikit jenuh. Nanti kalau sudah biasa juga tidak," jawab Qara dengan suara yang lirih.


"Kamu serius? Tapi aku lihat kamu seperti sedang memikirkan sesuatu?" tanya Jati ulang.


"Itu hanya perasaan A Jati aja. Qara sedang baca novel ini lucu banget dan juga bagus jadi fokus bacanya." Qara menunjukan novel yang sedang ia baca hingga lupa waktu.


Dengan sigap Qara pun membantu Jati rebahan. Dengan hati-hati Qara memperlakukan Jati.


"Besok kalau tidak salah ada terapi di kaki ya A." Qara membaca jadwal di esok hari.


"Iya, ini terapi pertama kata dokter rasanya akan sangat sakit. Aku jadi kepikiran," ucap Jati. Belum terapi ia sudah kepikiran bagaimana sakitnya untuk pertama kalinya berlatih menggerakan kakinya yang mengalami retak tulang.

__ADS_1


"Kata dokter A Jati bisa berlatih di gerak-gerakan kakinya, jadi nanti sendi-sendinya tidak kaku dan itu mungkin yang bisa bikin sakit sekali." Qara memperagakan mengferkan kaki agar Jati ikut melatih saraf-sarafnya yang sudah tiga hari belum dilatih untuk berjalan.


Untuk ke kamar mandi masih dibantu oleh perawat laki-laki.


Jati pun mengikuti apa yang Qara katakan ia melatih kakinya untuk di gerakan, tapi baru mencoba diangkat ia sudah meringis kesakitan. "Enggak kuat Ra, sakit banget."


"Ya udah kalau nggak kuat jangan dipaksa, takutnya makin cidera. Tapi lebih sakit luka di kaki atau di perutnya?" tanya Qara. Karena wanita itu justru lebih membahayakan luka yang ada di perut jati.


Mendengar Qara bertanya Jati pun berpikir sejenak. "Dua-duanya tidak enak, diperut suka bikin sesak apalagi kalau menghirup nafas dalam sakit banget, di kaki juga sakit banget apalagi kalau mau ke kamar mandi. Rasanya luar biasa sakit."


"Makanya kalau sehat jangan sok jagoan. Sekarang sudah kejadian, lain kali harus jaga kesehatan. Jangan ngeyel. A Dewa sudah ceria semua yang terjadi sebelum A Jati kecelakaan. Pengin Qara itu marah dan menghukum A Jati, tapi tidak tega."


Qara oun akhirnya bisa marah-marah dengan Jati.

__ADS_1


__ADS_2