
"Au ..." Kedua mata Thomy terbuka, dan Jati pun langsung mendekat.
"Papah sudah bangun?" tanya Jati dengan suara pelan, sementara Qara berdiri di samping Jati.
"Au... ini sakit sekali." Thomy hendak meraba mata yang diperban, tetapi kembali mengaduh karena tangannya yang juga terluka. Sehingga tidak bisa mengetahui apa. yang terjadi dengan dirinya.
"Jangan dipaksa Pak kalau memang sakit." Jati menahan tangan Thomy agar tidak memegang matanya yang baru saja dioperasi.
Thomy pun mengikuti ucapan Jati, ia langsung menatap ke sekeliling ruangan, yang hanya ada Jati dan juga Qara, tetapi seperti biasanya Qara lebih banyak diam. Begitupun Jati juga kembali diam ketika papahnya mengamati dirinya.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya Thomy dengan sesekali meringis merasakan rasa sakit yang luar biasa di kaki, tangan dan juga matanya.
"Papah kecelakaan. Apa Papah masih ingat kenapa bisa Papah kecelakaan?" tanya Jati, mengikuti saran dari polisi yang mana lebih cepat Jati tahu apa yang terjadi antara Thomy dan Tuti, istri mudanya.
Mendengar pertanyaan Jati, Thomy pun langsung menunduk seolah sedang mengingat-ingat dengan apa yang terjadi.
"Setau Jati, Papah dan Tuti sedang bulan madu di Bali, tapi kenapa wanita itu tidak ada dengan Papah. Papah hanya ditemukan seorang diri di dalam mobil apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jati dengan suara yang pelan, tidak seperti Jati yang biasanya berhadapan dengan Thomy yang selalu bernada tinggi. Jati kali ini jauh lebih sabar dan itu semua karena Qara yang mengajarkannya.
Di saat Jati sedang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan papahnya Qara pun hanya duduk dengan tenang tanpa ingin ikut campur dengan obrolan suami dan mertuanya itu semua karena Thomy yang memang belum menerima sepenuhnya Qara.
__ADS_1
Bukanya menjawab pertanyaan Jati, Thomy justru terisak.
"Papah salah, Papah sudah tertipu, Jati. Apa mungkin ini semua adalah hukuman dari Tuhan karena Papah selama ini menyia-nyiakan kalian," ucap Thomy dengan suara yang berat dan bergetar.
"Maksud Papah apa?" tanya Jati, ia ingin mendapatkan jawaban yang detail dari papahnya meskipun Jati sudah menduga kalau wanita yang menikahi papahnya hanya mengincar harta papahnya.
"Tuti, dia ternyata menikahi Papah hanya untuk mendapatkan harta-harta Papah. Nyatanya wanita itu sebenarnya sudah menikah, dan bahkan memiliki anak-anak. Tidak habis pikir suaminya juga tahu pernikahan istrinya dan mereka sengaja melakukan ini semua untuk bisa menguasai harta-harta Papah_" Suara Thomy hentikan.
Jati pun sudah tahu apa yang terjadi, dan kira-kira siapa pelaku kenapa bisa Thomy mengalami kecelakaan. Jelas wanita licik itu yang ingin menguasai harta Thomy. Tangan Jati pun langsung mengirimkan hasil rekamannya pada polisi yang menangani kecelakaan papahnya.
"Apa Papah tau kenapa Papah bisa kecelakaan?" tanya Jati karena saksi hidup di dalam mobil hanya papahnya.
Thomy menggelengkan kepalanya pelan. "Yang bisa Papah ingat hanya ada kendaraan yang mencoba menyelip dan Papah tidak bisa mengendalikan mobil lagi dan tiba-tiba sudah ada di sini."
"Terus kenapa Papah bisa kecelakaan di Semarang bukanya Bali dan Semarang itu jauh?" tanya Jati, ini adalah pertanyaan yang paling mengganjal di pikiran Jati.
"Papah ingin membuktikan apa yang Papah dengar dari obrolan Tuti, dan ternyata suami wanita itu ada di kota itu. Papah sudah tahu semuanya." Thomy pun menjelaskan apa yang terjadi kenapa dia bisa di kota yang berbeda. Laki-laki itu sesekali terhenti ucapannya karena menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Baiklah Papah sekarang istirahat dulu. Yang tahu Papah saat ini berada di rumah sakit baru Jati dan Qara. Mungkin kedepannya Jati akan minta agar Papah dipindahkan ke Jakarta agar Noah dan Nara bisa bergantian jaga Papah. Jati tidak mungkin menjaga Papah terus-terusan. Selain Jati ada kerjaan Qara juga sedang hamil besar jadi tidak baik kalau berlama-lama di rumah sakit." Kalau dibilang marah, Jati masih marah dengan Papah di waktu-waktu ke belakang ini, tapi Jati juga tidak mungkin membiarkan papahnya seperti sekarang ini. Ia masih memiliki hati nurani.
__ADS_1
Kini pandangan Thomy pun beralih pada wanita berhijab yang sejak tadi lebih banyak diam dan menunduk, selain cape Qara juga mengantuk. Hampir semalaman ia tidak istirahat.
"Qara ...." Suara berat Thomy akhirnya memanggil menantunya.
Qara pun mengangkat wajahnya. Sedangkan Jati mengulurkan tangannya agar sang istri mendekat ke samping Thomy. Qara pun bangun dan berjalan ke samping sang suaminya.
"Maaf kan Papah, selama ini Papah selalu benci sama kamu_" Thomy memegang tangan sang menantu dengan tangan kirinya. Meskipun itu sangat sulit. Karena tangan kanan yang dipasang gips.
Seperti bisanya Qara pun membalas dengan senyum teduh. Dari dulu ia tidak pernah marah dengan Thomy meskipun laki-laki itu terus-terusan menghina Qara.
"Qara sudah maafkan Papah, Qara tahu apa yang Papah lakukan itu semata karena Papah terlalu sayang dengan anak-anak Papah." Sebisa mungkin Qara berbicara yang baik-baik dan tanpa membuat sakit hati baik Thomy maupun suaminya.
Thomy pun mengulas senyum tipis meskipun tidak begitu terlihat.
"Terima kasih. Pantas saja Jati lebih memilih kamu, itu karena kamu baik. Papah malu karena sudah jahat dengan kalian tapi saat Papah seperti ini kalian lah yang ada di pihak Papah. Bahkan menjaga Papah." Thomy kembali merasa bersalah karena selama ini terlalu egois.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1
Sembari nunggu kelanjutan Thomy yuk mampir ke novel bestie othor, di jamin bikin baper.