
Pukul sepuluh malam, Qara pun membangunkan Abah yang sedang pulas tertidur, setelah ia kembali mempertimbangkan keputusannya, akhirnya ia pun yakin kalau dirinya akan melanjutkan pernikahan ini. Wanita berhijab itu benar-benar yakin kalau apa yang terjadi dalam hidupnya nanti setidaknya sudah ia siapkan, sehingga ia tidak akan menyesal andai apa yang ia harapan tidak sesui dengan kenyataan.
"Ada apa Ra?" tanya Abah dengan suara berat. Ketika Qara malam-malam mengganggu tidur pulasnya.
"Maaf Qara ganggu Abah tidur yah, bisa kita ngobrol sebentar yah." Qara menujuk karpet di mana biasanya mereka bersantai di tempat itu dengan menonton televisi. Abah pun mengikuti Qara.
"Apa kamu sudah dapat berita mengenai pernikahan kamu?" tanya Abah begitu duduk tidak jauh dengan putrinya. Qara mengagngguk yakin.
"A Jati barusan telpon, katanya besok pernikahan sebaiknya dilaksanakan. Apa Abah tidak keberatan?" tanya Qara jujur wanita itu sangat tidak nyaman dengan tatapan abahnya.
"Kamu sudah siap? Keluarga Jati bagaimana, apa mereka juga sudah siap?" tanya balik Abah.
"Siap Bah, insyaAlloh Qara siap, dan keluarga A Jati juga malam ini sedang menyiapkan pernikahan kita besok, itu artinya mereka sudah siap," jawab Qara sesuai dengan yang Jati katakan barusan melalui sambungan teleponya.
"Ya udah kalau mereka juga sudah siap, kita juga pastinya harus siap, jangan sampai membuat acara yang mereka sudah susun dengan matang malah jadi berantakan." Abah berbicara dengan sangat teduh, membuat Qara semakin bersalah. Gadis berhijab itu setiap mendengar dukungan dari abahnya hatinya menjadi diliputi dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Tapi, apa Abah benaran merestui hubungan Qara dan A Jati. Jujur Qara masih takut kalau Abah hanya ingin melihat Qara bahagia, padahal dalam hatinya Abah berat untuk melihat Qara menikah, apalagi pernikahan Qara benar-benar mendadak serba tidak ada persiapan," tanya Qara agar ia tidak kepikiran terus dengan perasaan abahnya.
Sebelum menjawab pertanyaan Qara, abah lebih dulu menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan, sepertinya abah juga merasakan sesak melihat kondisi yang harus diterima putrinya.
"Sebagai orang tua tentu ingin anak-anaknya bahagia dengan pilihan hidupnya, termasuk Abah juga ingin merasakan itu, kalau ditanya sedih atau tidak menyaksikan pernikahan putri satu-satunya harus seperti ini, tentu jawabanya sedih. Orang tua mana yang ingin menyaksikan pernikahan putrinya dalam kondisi yang seperti pernikahan kamu, apalagi kondisi menantunya dalam keadaan sakit, tapi mau bagai mana lagi. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuham jadi kita hanya tinggal mengikuti jalan dari Tuhan, dan tentunya Abah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu." Abah tersenyum dengan teduh, dan berhasil membuat Qara semakin yakin kalau dia pasti akan bisa melewati ini semua berkat dukungan dan doa dari abah dan kedua adiknya.
Yah, Diki dan Deva pun merestu pernikahan Qara, dan wanita berhijab itu pun yakin dengan bermodalkan dukungan dari keluarganya ia bisa menghadapi masalah dalam rumah tangga nantinya kalau cobaan itu datang.
Setelah memastikan abahnya merestui dan siap esok untuk menikahkan anaknya. Akhirnya Qara pun bisa istirahat dan tidur dengan nyenyak. Apalagi Jati juga dijaga oleh orang yang tepat.
Dari sekian banyak sahabat Jati, Dewa memang yang paling bisa diandalkan. Yang lainnya sibuk dengan urusan masing-masing.
Saat ini jam lima, itu tandanya sampai menunggu Dewa datang Qara pun masih sempat menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya. Dika dan Dewa memang tidak ikut ke Jakarta untuk menyaksikan pernikahan kakaknya hal itu karena ia harus sekolah, sedih sudah pasti, tetapi itu sudah keputusan dari Dika dan juga Deva. Qara ingin sebelum ia akan pindah ke Jakarta untukĀ tinggal bersama suaminya ia benar-benar melayani adik-adiknya dengan baik.
Tanpa membuang waktu lama Qara pun langsung membersihkan tubuhnya, menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Lalu dengan cekatan meracik bumbu untuk membuat sarapan, berhubung tidak ada apa-apa Qara hanya membuat nasi goreng lengkap dengan telor mata sapi.
__ADS_1
Tepat pukul tujuh lewat lima belas Dewa pun datang untuk menjemput Qara dan abahnya.
"Gimana Ra, apa sudah siap?" tanya Dewa dengan mengulas senyum.
"Siap A, maaf A Dewa jadi bolak balik yah." Tanpa menunggu lama Qara membawa tas rangsel yang berisi pakaian Qara, tentangga Qara pun banyak yang bertanya dan dengan kesepakatan bersama Qara pun menjawab akan pindah kerja. Bukan tidak ingin membagi kabar bahagia atas pernikahannya, tetapi Qara hanya menghindari gosip-gosip yang berterbangan, di mana pasti tetangga Qara kalau bilang akan menikah akan menyebarkan gosip-gosip yang gurih dan membuat tensi darah naik.
Sehingga Qara dan keluarganya sepakat untuk merahasiakan dulu pernikahanya, dan ketika sudah ada waktu yang tepat maka Qara akan mengundang para tetangganya untuk mengadakan pengajian sekalian mengabarkan kabar bahagia atas pernikahan dirinya.
Perjalanan Qara pun tidak terlalu berasa karena sepanjang perjalanan banyak obrolan yang Dewa dan abahnya bahas. Berbeda kalau dirinya di dalam mobil hanya berdua dengan Dewa rasanya tidak nyaman dan membuat perjalanan terasa lama. Jantung Qara seperti berdisko Rio ketika mobil yang ia tumpangi perlahan memasuki rumah sakit. Di mana di rumah sakit ini beberapa jam ke depan akan dilangsungkan pernikahan dirinya dan Jati.
Bersambung....
...****************...
Sembari nunggu pernikahan Qara dan Jati, mampir yuk ke novel bestiee othor di jamin seru.
__ADS_1