
Keesokan harinya setelah menjalankan kewajibanya Qara pun lamgsung menyiapkan segala perabotan yang akan di bawa pulang. Hampir satu minggu Jati di rumah sakit sehingga banyak alat dan pakian yang harus Qara rapihkan sehingga ketika orang yang menjemput suaminya datang ia sudah siap untuk pulang.
Karena suara yang gaduh Jati pun membuka matanya. "Sayang apa yang kamu lakukan?"
Deg! Qara tersentak kaget ketika Jati memanggilnya dengan sebutan sayang. Ini adalah pertama kalinya Jati memanggilnya sayang. Mungkin kalau pernikahan mereka bukan pernikahan pura-pura dan juga pernikahan kontrak. Qara akan sangat senang kalau Jati memanggilnya dengan sebutan sayang. Namun, yang terjadi sekarang berbeda. Qara justru kurang nyaman ketika Jati memanggil dengan panggilan yang sebagian orang tunjukan untuk mengungkapkan sayangnya.
Lagi, Jati melihat raut wajah Qara berubah ketika laki-laki itu memanggil dengan panggilan mesra. Tidak hanya wajahnya yang tiba-tiba berubah tapi Qara juga tidak menjawab pertanyaan Jati.
"Qara kamu sedang apa?" Kali ini Jati kembali mengganti panggilanya dengan nama istrinya seperti pada biasanya.
Wanita berhijab itu pun mengangkat wajahnya, dan untuk kali ini Qara mengembangkan senyumnya dengan manis. "Qara sedang merapihkan barang-barang yang akan kita bawa pulang."
"Udah kamu jangan kerjakan itu, nanti akan ada Bibi yang datang dan membantu kamu merapihkan pekerjaan itu semua. Kamu istri aku cukup mengurus aku, dan jangan kerjaan pekerjaan seperti itu," balas Jati, dengan nada bicara yang menunjukan tidak suka.
__ADS_1
Qara hanya mengulas senyum getir. "Tidak apa-apa A, Qara suka kok melakukan ini semua."
Dalam hatinya menjerit, karena Jati tidak akan pernah tahu bahwa yang ia lakukan adalah sebatas pekerjaan juga, demi gaji lima juta. Qara rela melakukan ini semua.
"Qara ... kenapa aku melihat kamu memang seperti seorang istri yang sengaja dipekerjakan untuk menjaga aku. Kamu istri aku kan bukan perawat yang berkedok dalam sebuah ikatan suci pernikahan?" tanya Jati dengan duduk bersandar di atas ranjang tempat tidurnya. Kedua matanya awas menatap Qara, mencari gerak gerik yang memcurigakan.
Mendengar ucapan Jati tentu Qara tersentak kaget. Ia tidak menyangka kalau Jati akan dengan mudah menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau kamu memang bukan seperti yang aku tuduhkan, cobalah mendengar ucapan aku. Bukanya aku ini adalah suami kamu. Dan kamu pasti tahu hukumnya istri pada suaminya. Salah satunya mematuhi apa yang suaminya katakan bukan malah melawan atau justru mengabaikanya." Kali ini Jati berbicara semakin tegas. Sehingga Qara pun tidak lagi melawan. Ia meletkan pakaian yang sedang ia rapihkan.
"Qara hanya merapihkan pakaian Qara dan A Jati, rasanya tidak enak kalau orang lain yang merapihkanya," ucap Qara sembari duduk di samping Jati.
"Untuk apa ada asisten rumah tangga kalau apa-apa dikerjakan sendiri."
__ADS_1
Qara mengangguk sebagai tanda kalau wanita berhijab itu mengerti apa yang Jati mau, tetapi pada kenyataanya Qara hanya tidak ingin kalau Jati pada akhirnya curiga dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara dirinya dan perjanjian dengan Thomy.
"Maafkan aku kalau ucapan aku membuat kamu bersedih, tetapi jujur aku tidak suka sama sekali dengan perlakuan kamu yang memperlakukan aku layaknya aku ini adalah atasan kamu. Padahal aku adalah suami kamu maka lakukankah apa yang seperti suami istri lakukan pada umumnya, bukan seperti kamu yang memperlakukan aku." Jati berusaha meraih tangan Qara, di mana sejak ia menikah perlakuan Qara justru semakin berbeda.
"Tidak ada yang harus di salahkan, karena pada kenyataanya mungkin memang Qara yang terlalu berlebihan untuk mengurus A Jati, Qara hanya ingin memberikan pelayanan yang terbaik untu suami Qara," balas Qara, ngeles mungkin ini adalah kata-kata yang pas agar Jati tidak berpikiran macam-macam lagi.
Jati mengangkat bibirnya sebelah. "Melayani? Kalau mau melayani suami bukan kaya gini Qara, tapi seperti ini." Jati mencuri ciuman dari bibir istrinya.
"Jati! Apa yang kalian lakukan ....!"
Bersambung....
...****************...
__ADS_1