
Dewa menggeliatkan tubuhnya setelah beberapa kali Qara mencoba membangunkanya.
"Astaga, jam berapa ini," gumam Dewa dengan panik. Ketika baru membuka kedua matanya.
"Jam sepuluh A," jawab Qara menujukkan jam sepuluh di ponselnya.
"Loe tidur, apa latihan mati Wa, kebluk banget," sungut Jati, yang dari tadi gereget banget ketika Dewa dibangunkan oleh calon istrinya tetep aja pulas. Dia pikir rumah sakit ini hotel kali nyeyak banget tidurnya. Sampai badai datang kayaknya nggak bakal ngefek.
"Gue ngantuk dan cape banget." Hidung Dewa mengendus makanan yang ada di hadapanya. Cacing di dalam perutnya memanggil manggil agar segera diisi.
"Ngomong-ngomong ini makanan siapa. Gue laper banget, dari kemarin belum makan," tanya Dewa dengan menujuk makanan yang ada di meja tepatnya ada di hadapannya, dan harum dari masakan itu seolah menguji kekuatan iman Dewa yang sedang kelaparan.
"Tadi Tante memang sengaja beli untuk kalian. makanlah dulu sebelum pulang Qara, Dewa," balas Iren dengan suara yang lembut. Sejak Qara yang bersedia menjadi perawat untuk Jati, sikap dan nada bicara Iren memang jadi semakin hangat, tidak seperti biasanya yang bersikap acuh dan cuek.
"Wah terima kasih Tante, tau aja kalau orang baru bangun tidur itu bawaanya lapar. Qara makan dulu nih. Jangan tolak rezeki. Sini makan! Apa mau disuapi sama Aa Dewa." Yah, Dewa memang senang meledek Jati. Lihat saja padahal Dewa berniat untuk bercanda, tapi Jati sudah langsung memberikan tatapan siaga untuk Dewa.
__ADS_1
"Bercanda Jat, ya kali pagar mau makan tanaman. Biar gue juga berandalan sama kayak loe, tapi gue juga nggak suka ngerebut yang punya temen sendiri lah." Dewa pun langsung mengacuhkan Jati dan memilih melanjutkan makan dengan lahap.
"Qara, kamu makan dulu, jangan sungkan-sungkan. Memang Tante sengaja belikan makanan itu untuk kamu dan Dewa. Tante sudah makan di rumah sama papahnya Jati, sedangkan Jati kan tidak boleh makan-makanan kaya gitu. Hati yang luka masih dalam tahap penyembuhan jadi yang Jati makan harus makanan yang aman untuk luka di hatinya." Iren pun kembali menawarkan makan untuk Qara yang terlihat ragu mau makan.
"Udah nih makan, jangan ragu-ragu. Mumpung Tante Iren baik." Dewa pun membukakan satu kotak makanan lagi untuk Qara biar makan bareng. Dewa juga tahu pasti Qara belum makan juga jadi pasti lapar banget.
"Terima kasih Tante. Qara makan dulu," ucap Qara dengan sopan.
"Kamu makan yang banyak Qara biar nggak sakit." Jati menatap Qara yang akhirnya mau makan ia pun senang sekali, apalagi sebentar lagi bakal tidur bareng dan bisa melihat Qara setiap saat. Bahkan Jati baru membayangkan saja sudah sangat bahagia. Apalagi kalau beneran terjadi, sudah pasti cepat sembuh. Namun, yang mengganggu pikiranya adalah. soal papahnya yang entah mau merestui hubungan dirinya dengan Qara atau tidak. Karena Jati belum berbicara dengan sang papah.
"Wa loe nggak sikat gigi dulu makan. Jorok banget," ucap Jati yang melihat Dewa seperti orang kelaparan.
"Tante, Qara pulang yah." Orang Pertama yang dipamiti Qara adalah Iren. Setelah berpamitan dengan Iren. Qara pun beralih pada Jati.
"A Jati Qara pulang dulu yah, Qara janji setelah ini pasti akan datang lagi ke sini bareng Abah, Diki dan Deva. A Jati cepat sembuh yah."
__ADS_1
Jati mengulas senyum bahagia. "Terima kasih banyak untuk waktunya, dan aku tunggu kedatangan kamu dengan keluarga kamu."
Qara hanya membalas dengan anggukan kepala.
Jati pun bergantian menatap Dewa, yang kali ini sudah segar, wangi dan tampan lah, tidak seperti tadi saat pertama bangun tidur. "Wa, gue nitip Qara yah, pastikan dia pulang dengan selamat," ucap Jati pada Dewa yang akan mengantarkan calon istrinya.
"Iya, bawel banget sih. Gue tahu juga kali keselamatan Qara adalah nomor satu, bukan karena dia calon loe yah, tapi karena itu adalah tanggung jawab gue."
Setelah berpamitan Dewa dan Qara pun benar-benar pamit untuk pulang ke Jonggol.
Sedangkan Jati, menatap mamahnya yang katanya menjaga Jati, tapi tetap saja banyak kerjaan yang dilakukan.
"Mah, apa Mamah yakin kalau Papah akan izinkan Jati menikah dengan Qara?" tanya Jati melajutkan lagi apa yang tadi ibunya katakan akan berbicara dengan papahnya dan akan berjuang untuk bersama-sama menjaga Qara.
Iren mengangkat wajahnya dan meletakkan kaca matanya di atas meja.
__ADS_1
"Soal papah kamu jangan ambil pusing, Mamah kalau sudah bilang mau bantu pasti akan dituntaskan sampai selesai. Lagi pula mana bisa papah kamu melawan Mamah. Jadi kamu tenang lah. Pasti kamu dan Qara akan menikah." Iren senang ketika Jati memiliki kemauan yang tinggi untuk sembuh meskipun itu semuanya karena adanya Qara.
Bersambung....