
Baru juga Jati mau membalikan tubuhnya dan mencoba menghubungi istri dan adiknya untuk menanyakan keberadaanya. Sebuah taxi berhenti di depan rumah mereka. Yah, itu adalah Qara dan Nara.
"Loh kok A Jati sudah sampai. Pasti ngebut yah." Qara langsung memberikan tatapan tidak suka karena suaminya suka ngebut.
Mendengar pertanyaan sang kakak iparnya, jelas Nara tersenyum jahil. Sebagai adik yang kakaknya jahil juga jelas Nara tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Iya betul itu Kak, pasti Abang ngebut. Marahin aja, enggak kapok banget baru juga sembuh, udah kebut-kebutan lagi." Nah loh Nara baru juga dibaikin dan bakal dijaga sama Jati malah mau bikin abang sama kakaknya perang ajah.
"Nara! Gue balikin ke Thomy baru tau rasa!" Bukan Jati kalau sabar mah. Baru diledek gitu sama. adiknya langsung ngereog.
Melihat Nara dan Jati sudah mulai bersitegang Qara pun langsung waspada.
__ADS_1
"Udah lah A Jati, Nara itu bercanda kok ya kali dia beneran. Kalau dibalikin lagi ke rumah orang tuanya juga pasti nggak bakal mau," balas Qara melerai, suami dan adik iparnya.
"Nara udah yuk masuk, kakak akan kenalkan Nara sama orang rumah ini." Qara lebih memilih menggandeng Nara dari pada Jati. Lagi-lagi laki-laki itu cemburu sama adik bungsunya yang jauh lebih dapat perhatian dari pada dirinya. Padahal Qara baik sama Nara karena dia merasakan sama-sama nyaman karena akhirnya punya saudara cewek juga. Maklum dia di rumah ini cewek sendiri.
"Sayang kok aku ditinggal." Jati mencoba menarik perhatian sang istri.
"Ya udah A Jati masuk aja kan udah biasa ini. Bukannya ini adalah rumah A Jati. Jangan kaya anak kecil deh malu sama adik-adik." Qara kembali mengabaikan Jati. Eh, bukan mengabaikan tapi sedang mecoba mengetes kesabaran Jati.
Pandangan Nara pun langsung tertuju pasa dua laki-laki yang bisa dikatakan yang satu hampir sama usianya dengan Noah, dan satu lagi hampir sama dengan dirinya hanya saja sepertinya lebih kecil dari Nara. Setelah melihat dua anak laki-laki yang sedang belajar. Nara pun menatap laki-laki paruh baya yang dia sudah bisa tebak kalau dia adalah orang yang disebut Abah.
"Deva, Diki, Abah. Kenalkan ini Nara, adiknya A Jati. Adik bungsu. Mulai sekarang Nara bakal tinggal di sini. Kalian jangan jahil yah. Saling lindungi karena Nara juga saudara kalian," ucap Qara dengan suara yang enak didengar.
__ADS_1
"Yeh rumah ini makin rame," ucap Diki. Deva hanya bilang. 'Iya'.
"Alhamdulillah di rumah ini Teteh ada temennya. Nara kalau ada apa-apa bilang saja. Jangan diam-diam. Kalau Deva usil bilang juga. Dia di sini paling usil soalnya." Abah melirik Deva dan Deva sendiri langsung mengangkat wajahnya.
"Loh kok Deva. Deva mah baik paling jail A Jati tuh yang usil." Nah kan udah mulai saling rusuh.
"Loh ko A Jati, paling rusuh ini." Jati tantan menuduh Nara. Di malam pertama Nara kenalan dengan keluarga kaka iparnya ia sudah nyaman. Mereka baik-baik, lucu meskipun sering usil.
Nara pun menempati kamar yang ada di samping kamar Qara. Awalnya kamar Deva, dan karena ada Nara, jadi Deva pindah tidak dengan Diki.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...