Berandalan Vs Gadis Berhijab

Berandalan Vs Gadis Berhijab
Akting Yang Sempurna


__ADS_3

Pagi hari menyapa, cahaya mentari sudah mulai masuk dari sela jendela kaca yang lebar. Tentu pagi ini terasa istimewa karena malam tadi Jati dan Qara tidur dengan berpelukan, ini adalah awalah yang baik untuk hubungan mereka. Seperti biasanya Qara akan menyiapkan segala keperluan Jati dari mandi, pakaian dan juga yang terpenting akting yang terbaik. Karena dari hari ini ia bersandiwara dan kali ini sutradaranya adalah suaminya sendiri. Lucu memang hidup dengan sandiwara sudah kaya. pemain sinetron aja.


"Kamu duduk di sini aja yah, kalau tidak kamu tiduran dan nunjukan wajah sedih. Takutnya ada yang masuk, dan kamu bilang aja. Kalau aku akan pulangkan kamu pada orang tua kamu, jangan bilang cerai karena takut kejadian, cukup kamu akan kembali lagi pada orang tua kamu." Jati berbisik di samping teling Qara. Dengan tangan mengusap wajah Qara.


"Nanti kalau ditanya alasannya?" tanya Qara, ada rasa takut kalau Thomy bakal tanya-tanya lebih detail. Laki-laki itu  cukup sulit untuk dibohongi. Dia akan tahu dari gerak-gerik Qara. Hal itu yang cukup membuat Qara takut.


"Bilang aja, kamu tidak mau melakukan hubungan suami istri sedangkan aku memaksa sehingga aku marah dan memilih memulangkan kamu ke orang tua kamu." Jati tidak akan kehabisan ide untuk membuat Qara tenang.


Qara pun menarik bibirnya, dan mengangguk lemah. "Aku akan coba untuk tetap tenang. Yang jadi kendala adalah aku yang selalu panikan."


"Kalau gitu sekarang mencoba tenang dan percaya diri kalau kamu pasti bisa." Jati mencium pucuk kepala Qara dengan mesra.


"Aku keluar dulu yah, mau sarapan. Maaf kamu harus tahan lapar dulu, tapi nanti kamu akan makan sesuka kamu," ucap Jati. Kasihan pasti, ketika yang lain sarapan Qara justru hanya di dalam kamar saja.


"Tidak apa-apa, ini kan demi kebaikan kita." Qara menggerakkan tangannya agar Jati cepat pergi, apalagi jam sarapan sudah dimulai bisa-bisa Thomy kembali marah.

__ADS_1


"Aku pergi yah. Maaf kalau nanti ucapanku ada yang  menyakitkan," ucap Jati sekali lagi, dan Qara membalasnya dengan senyuman.


"Iya santai aja."


Setelah memastikan kalau Qara baik-baik saja Jati pun langsung keluar kamar. Tentu sebelum ia keluar kamar, Jati sudah menyetel wajahnya sedemikian rupa agar akting yang akan dia perankan dipercaya.


"Loh, Sayang kamu kenapa?" tanya Iren ketika melihat wajah Jati ditekuk masam. "Qara mana?" tanya Iren lagi ketika tidak melihat menantunya ikut keluar. Apalagi wajah Jati menunjukan kalau dia sedang sedih.


"Mah, Pah, Jati udah putuskan bakal pulangkan Qara pada orang tuanya." Bukanya menjawab pertanyaan Iren Jati justru langsung memainkan aktingnya.


Deg! Iren dan Thomy langsung menghentikan sarapanya. Eh, tunggu bukan hanya Qara dan Jati. Tapi juga Nara dan Noah tampak terkejut kaget dengan ucapan Jati.


Jati menunduk seolah ia benar-benar sedang dalam masalah berat. Ia menelan salivanya kasar.


"Jati tidak bisa bersalah dengan Qara lagi." Laki-laki itu terus menunduk.

__ADS_1


"Ya kenapa, jelaskan alasanya? Mamah sudah cocok juga dengan Qara. Menurut Mamah dia baik, rajin, ngerawat kamu juga sangat telaten. Lalu apa kurang dia?" cecar Iren dengan suara yang bergetar.


"Mah, sebuah hubungan pernikahan rasanya akan tetap kurang kalau tidak ada hubungan suami istri, dan Qara selalu menolak untuk melakukan itu. Dengan alasan ini dan itu. Apa itu namanya seorang istri. Dia harusnya tahu apa hukumnya seorang istri yang menolak suaminya ketika menginginkan itu." Kali ini Jati berbicara dengan nada bicara yang tinggi, seolah ia memang sedang  melupakan kemarahanya.


Pandangan mata Jati dialihkan pada Thomy yang bisa Jati lihat kalau laki-laki itu sedang mengulum senyum seolah ia sedang bahagia dengan keputusan yang Jati ambil. Yah, seperti yang Jati bayangkan, kalau Thomy sangat bahagia.


"Tapi Kak Qara baik Bang, Nara baru saja merasakan dekat dengan Kak Qara, kenapa Abang tidak coba berbicara dulu dengan Kak Qara. Kasihan Bang kalau Kak Qara dikembalikan pada orang tuanya pasti sangat sedih." Nara pun terisak sedih ketika mendengar kabar buruk ini.


"Nara kamu masih kecil tidak akan tahu apa yang Abang rasakan. Lebih baik kamu fokus dengan sekolah kamu," balas Jati dengan nada yang kurang suka dengan protes yang Nara layangkan.


"Abang jahat..." Nara justru lari menuju kamar Jati dengan terisak. Sedangkan Jati sebenarnya kasihan dengan adik bungsunya yang cukup dekat dengan Qara. Benar kata Nara, ia baru merasakan kedekatan dengan Qara yang memang sangat sabar dan pasti Nara akan sangat kehilangan ketika Qara akan pergi dari rumah ini. Tapi bagaimana lagi, Jati tidak akan bisa tenang kalau Qara tetap di rumah ini. Istrinya pasti akan tertekan dengan sikap Thomy.


"Kalau itu memang sudah pilihan kamu. Papah tidak bisa apa-apa. Kamu urus saja semua masalah kamu. Papah yakin kamu bisa menyelesaikanya. Kalau Papah dan Mamah ikut campur justru tidak enak dengan orang tua Qara." Akhirnya Thomy angkat suara juga. Yah seperti yang Jati bayangkan kalau Thomy pasti mendukung apa yang ia katakan. Jati tersenyum getir.


Nasibnya tidak seberuntung anak lain yang memiliki orang tua mendukung percintaannya. Dirinya justru selalu diatur-atur hidupnya. Berbeda dengan Thomy, Iren justru tampak sedih dan tidak setuju dengan keinginan Jati.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2